
<p>Kita dapat melihat dalam beberapa ayat telah dijelaskan mengenai pentingnya mentaati dan mengagungkan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta bahaya meninggalkannya. Di antaranya, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ</span></p>
<p>“<em>Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah</em>.” (QS. An Nisa’: 80)</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;">فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</span></p>
<p>“<em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih</em>.” (QS. An Nur: 63)</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ</span></p>
<p>“<em>Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.</em>” (QS. An Nur: 54)</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ , يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ</span></p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu , sedangkan kamu tidak menyadari.</em>” (QS. Al Hujuraat: 2). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> mengatakan mengenai ayat ini, “Ini adalah adab yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya yang beriman ketika berinteraksi dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yaitu hendaklah mereka menghormati dan mengagungkannya.”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Hal ini juga dapat dilihat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> seolah-olah inilah nasehat terakhir Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menasehati para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;">فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</span></p>
<p>“<em>Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.</em>”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Salah seorang <em>khulafa’ur rosyidin</em> dan manusia terbaik setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>Abu Bakar Ash Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;">لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ</span></p>
<p>“<em>Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang</em>.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Ibnu Baththoh dalam <em>Al Ibanah</em> (1/246) tatkala mengomentari perkataan Abu Bakar di atas, beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Inilah, wahai saudaraku! Orang yang paling <em>shiddiq</em> (paling jujur) seperti ini saja masih merasa takut dirinya akan menyimpang jika dia menyelisihi sedikit saja dari perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Bagaimana lagi dengan orang yang mengejek Nabi dan ajarannya, membanggakan diri dengan menyelisihinya, dan mencemooh petunjuknya (ajarannya)?</p>
<p>Imam Asy Syafi’i <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;">أَجْمَعَ المُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ : لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ</span></p>
<p>“Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ</span></p>
<p>“Barang siapa menolak hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka dia telah berada dalam jurang kebinasaan.”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Al Barbahari <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَإِذَا سَمِعْتَ الرَّجُلَ يَطْعَنُ عَلَى الآثَارِ أَوْ يَرُدُّ الآثَارَ أَوْ يُرِيْدُ غَيْرَ الآثَارَ فَاتَّهِمْهُ عَلَى الإِسْلاَمِ وَلاَ تَشُكُّ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوَى مُبْتَدِعٌ</span></p>
<p>“Jika engkau mendengar seseorang mencerca hadits atau menolak hadits atau menginginkan selain hadits, maka keislamannya patut diragukan dan janganlah ragukan lagi jika ia adalah pengikut hawa nafsu (mubtadi’).”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dari ayat, hadits, dan perkataan para ulama di atas, nampak jelas bahwa seorang muslim hendaknya selalu mengagungkan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, menaatinya dan mengikutinya. Itulah sikap seorang muslim yang benar. Bukan malah mengejek dan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan ajaran Islam. Seharusnya yang dicela adalah orang yang tidak shalat, mencela wanita-wanita yang tidak memakai jilbab atau yang memakai jilbab tetapi cuma sekedar aksesoris dan bukan menutupi aurat yang wajib ditutupi karena mereka benar-benar bermaksiat dan tidak mengindahkan ajaran Islam. Kenapa malah sebaliknya? Kenapa malah mencela orang yang seharusnya tidak dicela? Ini adalah suatu pencelaan yang tidak adil.</p>
<p>Cuplikan dari buku penulis “<span style="color: #ff0000;">Mengikuti Ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> Bukanlah Teroris</span>” yang akan diterbitkan oleh <a title="Pustaka Muslim" href="http://pustaka.muslim.or.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong>Pustaka Muslim-Jogja</strong></a>, insya Allah.</p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 13 Jumadats Tsaniyah 1432 H</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/3442-heraklius-kaisar-romawi-bertanya-tentang-ajaran-nabi.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran Nabi</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/12601-menundukkan-hawa-nafsu-demi-mengikuti-ajaran-nabi.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Menundukkan Hawa Nafsu Demi Mengikuti Ajaran Nabi</strong></span></a></li>
</ul>
<hr>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13/142.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Abu Daud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42. At Tirmidizi mengatakan hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib no. 37</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Disebutkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 3093, Shahih Muslim no. 1759, Abu Daud no. 2970.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> I’lamul Muwaqi’in, 2/282.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Siyar A’lamin Nubala, 11/297.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Syarhus Sunnah, hal. 51.</p>
 