
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara bentuk<a href="https://muslim.or.id/131-bahaya-lisan.html" target="_blank" rel="noopener"> penyakit dan maksiat lisan (lidah)</a> adalah mengungkit-ungkit pemberian kepada orang lain. Misalnya seseorang mengatakan kepada temannya, “Bukankah dulu aku yang telah memenuhi kebutuhanmu saat kamu kesusahan, mengapa sekarang melupakanku?” atau kalimat-kalimat semacam itu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti (yang diberi).” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 264)</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/27087-keutamaan-membangun-masjid-dengan-niat-yang-ikhlas.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang Ikhlas</a></strong></em></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala jelaskan bahwa perbuatan suka mengungkit-ungkit pemberian yang telah disedekahkan atau dihadiahkan kepada orang lain itu dapat membatalkan (menghapuskan) pahala. Dan perbuatan suka mengungkit-ungkit pemberian menunjukkan kurangnya iman orang tersebut. Karena dalam ayat di atas, Allah Ta’ala awali dengan “Wahai orang-orang yang beriman … “. Dengan kata lain, tuntutan atau konsekuensi dari keimanan kepada Allah Ta’ala adalah tidak melakukan hal yang demikian itu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنّاً وَلا أَذىً لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, </span><b>kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya</b><span style="font-weight: 400;"> dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 262)</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/22547-antara-orang-yang-ikhlas-dan-pengekor-hawa-nafsu.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Antara Orang Yang Ikhlas Dan Pengekor Hawa Nafsu</a></strong></em></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat, tidak melihat mereka, tidak mensucikan dosanya dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Dzar berkata lagi, “Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengulanginya sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Mereka gagal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang melakukan isbal (memanjangkan sarungnya sampai melebihi mata kaki, pent.), </span><b>orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian,</b><span style="font-weight: 400;"> dan orang yang (berusaha) membuat laku barang dagangan dengan sumpah palsu.” </span><b>(HR. Muslim no. 106)</b></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/22382-ikhlas-itukah-yang-anda-cari.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Ikhlas, Itukah Yang Anda Cari?</a></strong></em></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan ayat dan hadits di atas, di antara bentuk dosa dan maksiat lisan adalah suka mengungkit-ungkit pemberian atau sedekah yang telah dia berikan kepada orang lain. Dan perbuatan ini termasuk dosa besar, karena terdapat ancaman khusus dari syariat. Ancaman pertama, dibatalkannya pahala (sebagaimana dalam ayat). Juga ancaman yang terdapat dalam hadits. Sehingga disimpulkan bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar sebagaimana kaidah yang disampaikan oleh para ulama bahwa setiap dosa yang memiliki ancaman khusus, maka digolongkan dalam dosa besar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsamin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أن المن والأذى بالصدقة كبيرة من كبائر الذنوب؛ وجه ذلك: ترتيب العقوبة على الذنب يجعله من كبائر الذنوب</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Perbuatan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti dalam melakukan sedekah (pemberian) </span><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">termasuk dalam dosa besar. Sisi pendalilannya, karena disebutkannya hukuman setelah menyebutkan dosa (tertentu) menjadikan dosa tersebut sebagai dosa besar.” </span><b>(</b><b><i>Tafsir Surat Al-Baqarah, </i></b><b>Asy-Syamilah)</b></p>
<p><strong><em>Baca Juga</em>:</strong></p>
<div>
<ul>
<li><strong><a href="https://muslim.or.id/18857-4-syarat-disebut-ikhlas-dalam-belajar.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">4 Syarat Disebut Ikhlas dalam Belajar</a></strong></li>
<li><strong><a href="https://muslim.or.id/5577-soal-161-shalat-tahajud-karena-ada-ujiantidak-ikhlas.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Shalat Tahajud Karena Ada Ujian=Tidak Ikhlas?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">—</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Puri Gardenia i10, 7 Syawal 1440/11 Juni 2019</span></p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://acadstaff.ugm.ac.id/msaifudinhakim" target="_blank" rel="noopener">M. Saifudin Hakim</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
<p>—</p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Di antara bentuk perbuatan “menyakiti” dalam melakukan pemberian adalah memberikan sedekah dengan cara dilempar sehingga orang yang diberi sedekah tampak dihinakan.</span></p>
 