
<p><em>Bismillaahirrahmaanirrahiim</em></p>
<p>Barangkali tidak berlebihan jika dikatakan dalam sebuah pepatah,</p>
<blockquote><p>di balik pria yang hebat ada wanita yang hebat</p></blockquote>
<p>setidaknya inilah yang penulis rasakan sampai saat ini.</p>
<p>Dalam suatu perjalanan bersama dengan syaikh kami, beliau banyak memberikan faidah ilmiah kepada kami. Di antaranya adalah sepenggal dialog berikut ini:</p>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><strong>Syaikh:</strong></td>
<td>Ya Aba Yazid, sebutkan 4 orang wanita yang memiliki peran penting dalam kehidupan Nabi Musa -’alaihissalam-!</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Penulis:</strong></td>
<td>Yang pertama tentu ibunya, wahai Syaikh.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Syaikh:</strong></td>
<td>Ya, karena ibunya lah yang menyusuinya. Allah berfirman:
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ</span></p>
<p>” <em>Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia,…</em>”</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Penulis:</strong></td>
<td>Yang kedua, istrinya Fir’aun, benar gak Syaikh?</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Syaikh:</strong></td>
<td>Ya. Allah berfirman:
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ</span></p>
<p>“<em>Dan berkatalah istri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya,…</em>”</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Penulis:</strong></td>
<td>Yang ketiga, saudari Musa.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Syaikh:</strong></td>
<td>Ya. Allah berfirman:
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ</span></p>
<p>” <em>maka berkatalah saudari Musa: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian keluarga yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka akan memperlakukannya dengan baik?</em>”</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Penulis:</strong></td>
<td>Yang terakhir, putri dari orang tua yang shalih di Madyan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Syaikh:</strong></td>
<td>Benar. Allah berfirman:
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ</span></p>
<p>“<em>Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku ambillah dia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang paling kuat lagi dapat dipercaya”</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Penulis:</strong></td>
<td>
<em>Jazaakallaahu khairan</em>, ya Syaikh.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>—</p>
<p>Di antara faidah yang dapat dipetik dari dialog di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Hendaknya kita menghormati kaum wanita, terutama mereka yang menjadi orang-orang dekat kita. Jangan sekali-kali meremehkan mereka. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala mengabadikan sebutan 4 (empat) wanita ini di dalam kitab suci akhir zaman yang akan terus dibaca sampai kiamat menjelang. Yang paling utama dari mereka adalah ibu kita. Dia yang telah mengandung kita dengan penuh cinta, melahirkan kita dengan taruhan nyawa, menyusui kita tanpa harap balas jasa, membesarkan dan mendidik kita tuk menggapai cita-cita yang tinggi nan mulia. Tidak cukupkah ini semua menyadarkan kita untuk selalu berbakti dan tidak durhaka kepada ibu kita?</li>
<li>Al-Qur’an adalah mukjizat. Salah satunya adalah dalam bidang bahasa. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala:
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ</span></p>
<p>“<em>Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “ Susuilah dia<span style="line-height: 1.5em;">, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka </span><strong style="line-height: 1.5em;">jatuhkanlah dia</strong><span style="line-height: 1.5em;"> ke sungai (Nil). Dan</span><strong style="line-height: 1.5em;">janganlah kamu khawatir</strong><span style="line-height: 1.5em;"> dan </span><strong style="line-height: 1.5em;">janganlah (pula) bersedih hati</strong><span style="line-height: 1.5em;">, karena sesungguhnya </span><strong style="line-height: 1.5em;">Kami akan mengembalikannya kepadamu</strong><span style="line-height: 1.5em;">, dan </span><strong style="line-height: 1.5em;">menjadikannya (salah seorang) dari para rasul</strong></em><span style="line-height: 1.5em;"><em>.</em>” (Al-Qashash: 7).</span></p>
<p><span style="line-height: 1.5em;">Di dalam ayat tersebut, terkandung ketinggian balaghah Al-Qur’an. Hal ini dapat dijelaskan dari sisi singkatnya kalimat dalam ayat tersebut, namun mampu mengungkapkan 2 perintah beserta 2 larangan, sekaligus 2 kabar gembira (sebagaimana yang dapat dilihat di atas).<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;"><br>
Dua perintah itu adalah “</span><strong style="line-height: 1.5em;">susuilah dia”</strong><span style="line-height: 1.5em;"> dan “</span><strong style="line-height: 1.5em;">jatuhkanlah dia</strong><span style="line-height: 1.5em;">“. Dua larangan itu adalah “</span><strong style="line-height: 1.5em;">janganlah kamu khawatir</strong><span style="line-height: 1.5em;">” dan “</span><strong style="line-height: 1.5em;">janganlah (pula) bersedih hati</strong><span style="line-height: 1.5em;">“. 2 kabar gembira itu adalah “</span><strong style="line-height: 1.5em;">Kami akan mengembalikannya kepadamu</strong><span style="line-height: 1.5em;">” dan “</span><strong style="line-height: 1.5em;">menjadikannya (salah seorang) dari para rasul</strong><span style="line-height: 1.5em;">“.</span></p>
<p><span style="line-height: 1.5em;">Yang begini rupa, tidak ditemukan tandingannya. Ini juga menunjukkan Al-Qur’an itu kalamullah, bukan kalam manusia.</span></p>
</li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Hendaknya seorang alim berusaha mendorong dan memberi semangat kepada murid-muridnya untuk mentadabburi Al-Qur’an. Sungguh uslub syaikh kami dalam memberikan faidah kepada kami sangat bagus. Hal itu mendorong kami untuk tambah mencintai Al-Qur’an. Bayangkan saja, semua pertanyaan tersebut jawabannya ada dalam satu surat. Hal ini juga dapat memudahkan para murid dalam program hafalan Al-Qur’an nya. Minimal, dapat menambah semangat menghafal dan menjaga hafalan…!</span></li>
</ol>
<p><em>Washallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.</em></p>
<p>Selesai ditulis oleh penulis menjelang tidur di ‘Usailah, Al-Quwai’iyyah, Riyadh – KSA</p>
<p>—</p>
<p><strong>Penulis: Abu Yazid Nurdin</strong></p>
<p><strong>Artikel Muslim.Or.Id</strong></p>
 