
<p><span style="font-weight: 400;">Shalat merupakan salah satu tanda iman. Sesuai dengan level keimanan seorang hamba, dia akan menyempurnakan dan memperhatikan shalatnya. Salah satu bukti dia memperhatikan shalat adalah menunaikan shalat tersebut sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Allah Ta’ala mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 103)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Abu Dzarr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Shalatlah sesuai dengan waktunya.” </span><b>(HR. Muslim no. 648)</b></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Masuknya waktu shalat merupakan syarat wajib dan syarat sah ibadah shalat</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masuknya waktu shalat merupakan syarat wajib dan sekaligus syarat sah ibadah shalat. Tidak ada kewajiban shalat wajib tertentu, kecuali setelah masuk waktu. Dan juga, shalat tidaklah sah kecuali jika dikerjakan sesuai dengan waktunya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58583-hubungan-antara-shalat-dan-melihat-wajah-allah-taala.html" data-darkreader-inline-color="">Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’ala</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Waktu-waktu shalat adalah waktu yang agung, waktu yang penuh keberkahan, yang diisyaratkan di berbagai ayat dalam Al-Qur’an. Waktu-waktu shalat juga telah dijelaskan secara gamblang dan mencukupi dalam sunnah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">baik melalui ucapan ataupun perbuatan beliau (</span><i><span style="font-weight: 400;">sunnah qauliyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">sunnah fi’liyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">أَ</span><b>قِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” </span><b>(QS. Al-Isra’ [17]: 78)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala juga mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيّاً وَحِينَ تُظْهِرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur.” </span><b>(QS. Ar-Ruum [30]: 18)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jibril </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam </span></i><span style="font-weight: 400;">telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58395-mengulang-bacaan-imam-dalam-shalat-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Mengulang Bacaan Imam dalam Shalat Jama’ah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Besok harinya, dia shalat zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Jibril menoleh kapadaku seraya berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai </b><b><i>shahih </i></b><b>oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Shahih Al-Jaami’ </i></b><b>no. 1402)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah waktu-waktu awal dan akhir masing-masing shalat, yang sudah dijelaskan sedemikian gamblang bagi siapa saja yang mau memperhatikannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Renungkanlah perkataan Jibril </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu”, yang menunjukkan bahwa waktu shalat lima waktu ini adalah waktu shalat bagi para Nabi sebelum Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Hal ini menunjukkan agung dan mulianya waktu-waktu tersebut. Inilah waktu yang membangunkan orang-orang yang sedang tidur, waktu yang menghentikan aktivitas para pegawai, waktu yang mengingatkan orang-orang yang sedang lalai, dan waktu yang menggerakkan semua orang menuju masjid Allah Ta’ala untuk mendirikan shalat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58161-memperbanyak-shalat-sunnah-sebelum-datangnya-khatib-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’at</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Jangan sia-siakan waktu shalat!</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu bentuk menyia-nyiakan shalat adalah melewatkan waktu shalat dan mendirikan shalat di luar waktu yang sudah ditetapkan. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka datanglah sesudah mereka, </span><b>pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat</b><span style="font-weight: 400;"> dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” </span><b>(QS. Maryam [19]: 59)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">membaca ayat ini kemudian mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menyia-nyiakan shalat di sini bukanlah dengan meninggalkan shalat (tidak mendirikan shalat). Akan tetapi, mereka menyia-nyiakan waktu shalat (yaitu, mendirikan shalat di luar waktunya).” </span><b>(</b><b><i>Tafsir Ath-Thabari, </i></b><b>18: 216)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” </span><b>(QS. Al-Maa’uun [107]: 4-5)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, menyia-nyiakan waktu shalat adalah perkara yang sangat berbahaya, yang menunjukkan bahwa orang tersebut meremehkan dan tidak memiliki perhatian terhadap agamanya. Terdapat banyak sekali hadits yang memperingatkan perbuatan semacam ini. Namun dalam kesempatan ini, cukuplah kami sebutkan ancaman bagi orang yang menunda-nunda shalat ashar sampai dia dirikan menjelang waktunya hampir habis. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disebutkan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam sabdanya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Itulah shalatnya orang munafik, (yaitu) duduk mengamati matahari. Hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan (yaitu ketika hampir tenggelam, pent.), dia pun berdiri (untuk mengerjakan shalat ashar) empat raka’at (secara cepat) seperti patukan ayam. Dia tidak berdzikir untuk mengingat Allah, kecuali hanya sedikit saja.” </span><b>(HR. Muslim no. 622)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/56873-berdoa-dengan-bahasa-indonesia-di-dalam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam Shalat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/56676-keutamaan-bersegera-menuju-ke-masjid-dan-menunggu-shalat-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Kasongan, 2 Shafar 1442/ 19 September 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Ta’zhiim Ash-Shalaat </i></b><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 39-41, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</span></p>
<p> </p>
 