
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </b><b><i>rahimahullah</i></b></span></h2>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Pertanyaan: </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seorang wanita suci dari haidh atau nifas pada waktu ashar, apakah dia wajib shalat dzuhur dan shalat ashar; atau apakah tidak wajib shalat kecuali shalat ashar saja?</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51574-boleh-berhubungan-badan-setelah-istri-suci-haid-atau-setelah-mandi-wajib.html" data-darkreader-inline-color="">Boleh Berhubungan Badan Setelah Istri Suci Haid atau Setelah Mandi Wajib?</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jawaban:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat yang terkuat dalam masalah ini bahwa wanita tersebut tidak memiliki kewajiban shalat, kecuali shalat ashar saja. Hal ini karena tidak ada dalil wajibnya shalat dzuhur (bagi wanita tersebut). (Juga karena) hukum asalnya adalah seseorang itu terbebas dari kewajiban </span><i><span style="font-weight: 400;">(baraa’atu adz-dzimmah) </span></i><span style="font-weight: 400;">(sampai ada dalil yang mewajibkan perkara tersebut, pen.). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ العَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَدْرَكَ العَصْرَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang mendapati satu raka’at dari shalat ashar sebelum matahari tenggelam, dia telah mendapatkan shalat ashar.” </span><b>(HR. Bukhari no. 579 dan Muslim no. 163)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak menyebutkan bahwa dia mendapati shalat dzuhur. Seandainya shalat dzuhur juga diwajibkan dalam kondisi ini, tentu akan dijelaskan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, jika seorang wanita datang haidh setelah masuk waktu shalat dzuhur (dan dia belum shalat dzuhur, pen.), maka tidak ada kewajiban qadha’ untuknya (setelah suci dari haidh, pen.), kecuali qadha’ shalat dzuhur saja, tanpa qadha’ shalat ashar. Padahal, shalat dzuhur itu dikumpulkan (dijama’) dengan shalat ashar. Sehingga tidak ada perbedaan antara kondisi tersebut dengan kondisi yang ditanyakan di sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, pendapat yang lebih kuat adalah tidak ada kewajiban atas wanita tersebut kecuali shalat ashar saja, karena inilah yang ditunjukkan oleh dalil nash (hadits) dan juga oleh dalil qiyas. Sehingga demikian pula kondisinya ketika seorang wanita suci dari haidh sebelum habisnya waktu shalat isya’. Maka tidak ada kewajiban bagi wanita tersebut, kecuali shalat isya’ saja. Tidak ada kewajiban shalat maghrib baginya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43580-meruqyah-perempuan-yang-sedang-haidh.html" data-darkreader-inline-color="">Meruqyah Perempuan yang Sedang Haidh</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/9246-bolehkah-wanita-haid-masuk-masjid.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Wanita Haid Masuk Masjid?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 11 Rabi’ul akhir 1439/ 8 Desember 2019</span></p>
<p><b>Penerjemah: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b> <span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari kitab: </span><b><i>60 Su’aalan fi Ahkaamil Haidhi wan Nifaasi, </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 14-15 (pertanyaan nomor 12). </span></p>
 