
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </b><b><i>rahimahullah</i></b></span></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Pertanyaan: </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa hukum ketika seorang wanita mendapati haidh setelah masuk waktu shalat? Apakah wajib baginya untuk meng-qadha’ shalat tersebut ketika suci? Demikian pula, bagaimana jika dia suci (sesaat) sebelum waktu shalat habis?</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43580-meruqyah-perempuan-yang-sedang-haidh.html" data-darkreader-inline-color="">Meruqyah Perempuan yang Sedang Haidh</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Jawaban:</b></span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">jika seorang wanita mendapati haidh setelah masuk waktu shalat tertentu, maka wajib baginya untuk meng-qadha’ shalat tersebut, yaitu shalat yang dia dapati waktunya, namun dia belum melaksanakan shalat tersebut sebelum datangnya haidh. Hal ini berdasarkan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang mendapati satu raka’at shalat, maka dia telah mendapati shalat.” </span><b>(HR. Bukhari no. 580 dan Muslim no. 607)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, jika seorang wanita telah mendapati waktu shalat meskipun hanya selama waktu yang cukup untuk mendirikan shalat satu raka’at saja, kemudian dia haidh, maka wajib baginya untuk meng-qadha’ shalat tersebut (saja) setelah suci dari haidh. </span><b>[1]</b></p>
<p><b>Ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">jika dia suci dari haidh sebelum waktu shalat tertentu habis, maka wajib baginya untuk meng-qadha’ shalat tersebut. Misalnya, jika dia suci sebelum matahari terbit dan waktunya hanya cukup untuk shalat satu raka’at, maka wajib baginya meng-qadha’ shalat subuh tersebut. Jika dia suci sebelum matahari tenggelam dan waktunya hanya cukup untuk shalat satu raka’at, maka wajib baginya meng-qadha’ shalat ashar. Jika dia suci sebelum pertengahan malam, dan waktunya hanya cukup untuk shalat isya’ satu raka’at, maka wajib baginya meng-qadha’ shalat isya’ tersebut. Namun, jika dia suci setelah pertengahan malam, maka dia tidak ada kewajiban shalat isya’ </span><b>[2]</b><span style="font-weight: 400;">. Kewajibannya adalah shalat subuh ketika nanti sudah masuk waktu (yaitu dengan terbitnya fajar, pen.). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 103)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya, kewajiban yang dibatasi oleh waktu yang telah ditentukan. Tidak boleh bagi seseorang untuk shalat di luar waktunya (setelah waktu habis), dan tidak boleh pula dia shalat sebelum waktunya tiba. </span><b>[3]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51176-mengenal-penyakit-ain-pencegahannya-dan-pengobatannya.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Penyakit Ain, Pencegahannya dan Pengobatannya</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47427-kewajiban-suami-kepada-istri-untuk-mengajarkan-perkara-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Kewajiban Suami kepada Istri dalam Mengajarkan Perkara Agama </a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 11 Rabi’ul akhir 1439/ 8 Desember 2019</span></p>
<p><b>Penerjemah: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan</b> kaki:</p>
<p><b>[1]</b> <span style="font-weight: 400;">Lihat pula fatwa beliau yang lain dan telah kami terjemahkan di sini:</span></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/53229-jika-haidh-datang-dan-belum-shalat-wajib.html"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/53229-jika-haidh-datang-dan-belum-shalat-wajib.html</span></a></p>
<p><b>[2] </b> <span style="font-weight: 400;">Hal ini berdasarkan pendapat paling kuat dalam masalah ini bahwa akhir waktu shalat isya’ hanya sampai pertengahan malam. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam.</span></i></p>
<p><b>[3]</b> <span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari kitab: </span><b><i>60 Su’aalan fi Ahkaamil Haidhi wan Nifaasi, </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 30-31 (pertanyaan nomor 31). </span></p>
<p> </p>
 