
<p>Ini nasihat berharga bagi yang sering mengabaikan shalat, termasuk juga shalat berjamaah di masjid.</p>
<p></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Ingatlah Nasihat Umar</strong></span></h2>
<p>Umar bin Al-Khatthab <em>radhiyallahu ‘anhu </em>pernah menuliskan surat ke berbagai daerah kekuasaan beliau, isinya adalah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّ مِنْ أَهَمِّ أُمُوْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلاَةُ, فَمَنْ حَفِظَهَا حَفِظَ دِيْنَهُ , وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَنْ سِوَاهَا أَضْيَعُ , وَلاَ حَظَّ فِي الإِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ</span></p>
<p>“<strong>Sesungguhnya perkara paling penting menurut penilaianku adalah shalat. Siapa saja yang menjaga shalat, maka ia telah menjaga agamanya. Siapa saja yang melalaikan shalat, maka untuk perkara lainnya ia lebih mengabaikan. Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.</strong>” (<em>Ash-Shalah wa Hukmu Taarikihaa</em>, hlm. 12).</p>
<p>Lihatlah kata Umar bin Al-Khatthab bahwa perkara penting yang mesti diperhatikan oleh setiap muslim adalah shalat. Jika muslim memperhatikan shalat, ia berarti memperhatikan agamanya dengan baik. Namun, jika ia sudah meremehkan atau mengabaikan shalat, untuk perkara lainnya pasti akan lebih terabaikan. Umar pun mengingatkan dalam suratnya bahwa seorang disebut muslim kalau bisa menjaga shalat lima waktu dengan baik.</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Shalat Berjamaah untuk Pria dan Wanita</strong></span></h2>
<p>Kaum pria sendiri diperintahkan untuk melakukan shalat secara berjamaah. Sedangkan kaum wanita, menurut ulama Syafiiyah dan Hambali disunnahkan bagi mendirikan jamaah, tetapi terpisah dari kaum pria, baik ketika itu diimami oleh pria ataukah wanita karena ada perbuatan dari Aisyah dan Ummu Salamah. Lihat <em>Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah</em>, 27:167.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/15780-27-derajat-dalam-shalat-berjamaah.html" target="_blank" rel="noopener">27 Derajat dalam Shalat Berjamah</a></span></span></strong></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Berbagai Pendapat Ulama Mengenai Hukum Shalat Berjamaah</strong></span></h2>
<ol>
<li>Ulama Hanafiyah dalam pendapat ashah dan ulama Malikiyyah, juga menjadi pendapat ulama Syafiiyyah, shalat berjamaah untuk shalat wajib itu <strong>sunnah muakkad untuk pria.</strong>
</li>
<li>Ulama Syafiiyah dalam pendapat ashah (pendapat ulama Syafiiyah yang paling kuat), hukum shalat berjamaah adalah <strong>fardhu kifayah.</strong> Pendapat ini juga menjadi pendapat sebagian fuqaha Hanafiyah.</li>
<li>Ulama Hambali menyatakan bahwa hukum shalat berjamaah itu <strong>wajib ‘ain,</strong> tetapi bukanlah termasuk syarat sah shalat. Pendapat ini juga menjadi pendapat dari sebagian ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafiiyah. Sedangkan Ibnu ‘Aqilah dari ulama Hambali menyatakan bahwa shalat berjamaah itu wajib dan termasuk syarat sah shalat.</li>
</ol>
<p>Lihat <em>Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah,</em> 27:165-166.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/554-shalat-jamaah-5-waktu-wajib-ataukah-sunnah.html" target="_blank" rel="noopener">Shalat Berjamaah Dihukumi Wajib ‘Ain</a></span></span></strong></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Paling Aman Tetap Menjaga Shalat Berjamaah bagi Pria</strong></span></h2>
<p>Yang jelas, orang buta saja masih disuruh oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berjamaah.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberinya keringanan tersebut. Namun, ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟</span></p>
<p>‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">نَعَمْ</span></p>
<p>‘Ya.’</p>
<p>Beliau bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">فَأجِبْ</span></p>
<p>‘<strong><em>Maka penuhilah panggilan azan tersebut.</em></strong>’ (HR. Muslim, no. 503)</p>
<p>Dari Ibnu Ummi Maktum <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">يَا رَسُولَ اللهِ ، إنَّ المَدينَةَ كَثِيْرَةُ الهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ . فَقَالَ رَسُول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلاةِ حَيَّ عَلَى الفَلاحِ ، فَحَيَّهلاً</span></p>
<p>“Wahai Rasulullah, sesungguhnya di Madinah banyak terdapat singa dan binatang buas.’ Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, ‘<strong><em>Apakah engkau mendengar hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah? Maka penuhilah</em></strong>.’” (HR. Abu Daud, no. 553; An-Nasa’i, no. 852. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Hayyahalaa dalam hadits maksudnya adalah penuhilah. <em>Hayyahalaa</em> adalah bentuk <em>isim fi’il amr</em>. Kalimat ini menunjukkan perintah wajibnya.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga:<a href="https://rumaysho.com/16191-buta-saja-disuruh-pergi-ke-masjid-shalat-berjamaah.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"> Buta Saja Disuruh Berjamaah di Masjid</span></a></strong></span></p>
<p> </p>
<p>Taruhlah kita memilih pendapat sebagian ulama yang mengatakan sunnah muakkad sebagai pendapat paling ringan dalam hukum shalat berjamaah. Ingatlah, bukan berarti shalat berjamaah itu ditinggalkan begitu saja dengan mudah tanpa ada uzur. Imam Syafii <em>rahimahullah</em> mengingatkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَ أَمَّا الجَمَاعَةُ فَلاَ أُرَخِّصُ فِي تَرْكِهَا إِلَّا مِنْ عُذْرٍ</span></p>
<p>“Adapun shalat berjamaah, aku tidaklah memberikan keringanan untuk meninggalkannya kecuali jika ada uzur.” (<em>Ash-Shalah wa Hukmu Taarikihaa</em>, hlm. 107).</p>
<p>Apa saja uzur dalam shalat berjamaah sehingga boleh tidak berjamaah di masjid? Nantikan dalam tulisan lanjutan, insya Allah.</p>
<p>Semoga Allah memberikan manfaat.</p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga: </strong></span></p>
<ul>
<li><span style="font-size: 12pt;"><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/16432-satu-kampung-tidak-shalat-berjamaah-berarti-sudah-dikuasai-setan.html" target="_blank" rel="noopener">Satu Kampung Tidak Shalat Berjamaah Berarti Sudah Dikuasai Setan</a></span></strong></span></li>
<li><span style="font-size: 12pt;"><a href="https://rumaysho.com/16339-pria-yang-enggan-berjamaah-di-masjid-berarti-tanda-munafik.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak Berjamaah Berarti Tanda Munafik</strong></span></a></span></li>
</ul>
<p> </p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<ol>
<li>
<em>Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah.</em> Penerbit Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait.</li>
<li>
<em>Ash-Shalah wa Hukmu Taarikihaa.</em> Cetakan pertama, Tahun 1426 H. Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Qayyim Al-Jauziyah (Ibnu Qayyim). Penerbit Dar Al-Imam Ahmad.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan pada Jumat sore, 9 Jumadal Akhirah 1442 H, 22 Januari 2021 di <a href="https://darushsholihin.com">Darush Sholihin</a>, Panggang, Gunungkidul</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
 