
<p><strong>KEDUDUKAN DOA “ALLAHUMMARHAMNI BIL-QUR’AN</strong></p>
<p>Oleh<br>
Ustadz Anas Burhanuddin MA</p>
<p>Pertanyaan.<br>
<em>Assalâmu’alaikum</em>. <em>Ustadz</em>, apakah do’a <em>“Allâhummar<u>h</u>amnî bil-Qur`ân…dan seterusnya”</em>, ada riwayat yang <em>sha<u>h</u>î<u>h</u></em> dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Apakah doa tersebut termasuk <em>bertawassul</em> dengan al-Qur`ân, dan apakah ini dibenarkan ? Yang saya tahu <em>tawassul</em> hanya boleh dengan <em>Asma-ul <u>H</u>usna</em>, doa orang <em>shâli<u>h</u></em> yang masih hidup, dan amal <em>shâli<u>h</u></em> yang pernah dilakukan. <em>Jazakumullâhu khairan</em>.</p>
<p>Jawaban.<br>
Doa yang dimaksud adalah doa yang banyak disebutkan di kitab-kitab <em>Ulûmul Qur`ân</em> dan dikenal di Indonesia sebagai senandung al-Qur`ân. Lafazhnya sebagai berikut :</p>
<p><strong>اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لِي إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً، اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نُسِّيتُ وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْتُ وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ </strong></p>
<p><em>Ya Allâh, rahmati aku dengan al-Qur`ân, dan jadikanlah ia sebagai imam, cahaya, petunjuk dan rahmat bagiku. Ya Allâh, ingatkanlah aku akan ayat yang terlupa, dan ajari aku apa yang belum aku ketahui darinya. Anugerahkan aku untuk membacanya di waktu malam dan siang. Jadikan ia sebagai hujjah untukku, wahai Rabb semesta alam.</em></p>
<p>Doa ini diriwayatkan oleh Abu Manshûr al-Arjani dalam kitab <em>Fadhâ’il al-Qur`ân</em> bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya saat mengkhatamkan al-Qur`ân. Dalam sanad ini terdapat Dawud bin Qays al-Farra`, seorang <em>tabi’u tabi’in</em> yang meriwayatkan dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dan Ibrahim bin Abdullâh bin Hunain. Al-<u>H</u>âfizh al-‘Iraqi menjelaskan bahwa hadits ini <em>mu’dhal</em>.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Yakni pada sanadnya ada dua rawi yang jatuh (terputus) secara berurutan.</p>
<p>Dengan demikian, hadits ini termasuk hadits yang lemah. Namun perlu diketahui bahwa bab doa lebih longgar daripada bab dzikir. Kita boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai dengan kebutuhan kita, meskipun tidak dicontohkan oleh Nabi Mu<u>h</u>ammad Shallallahu alaihi wa sallam<em>.</em> Sesekali kita boleh membaca doa ini. Adapun menjadikannya sebagai doa yang selalu kita ucapkan setiap selesai membaca al-Qur`ân, maka hal itu membutuhkan dalil khusus, dan tidak ada dalil yang <em>sha<u>h</u>î<u>h</u></em> dalam hal ini.</p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong>, hadits tersebut lemah dan menjelaskan bahwa waktu pembacaannya saat mengkhatamkan al-Qur`ân.</p>
<p>Adapun <em>tawassul</em> dengan al-Qur`ân yang terdapat dalam doa di atas adalah termasuk <em>tawassul</em> dengan <em>asma`ul-husna</em> dan sifat Allâh Azza wa Jalla , karena al-Qur`ân adalah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala <em>(kalamullâh),</em> sedangkan <em>kalamullâh</em> termasuk sifat Allâh Azza wa Jalla , bukan makhluk.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a>Adapun jika yang dimaksud dengan al-Qur`ân adalah bacaan al-Qur`ân yang kita lakukan, maka hal itu dikategorikan sebagai <em>tawassul</em> dengan amal shalih. Jadi, apapun yang kita maksudkan dengan al-Qur`ân dalam doa di atas, <em>tawassul</em> dengannya merupakan bentuk <em>tawassul</em> yang disyariatkan.</p>
<p><em>Wallâhu A’lam.</em></p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
________<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> <em>An-Nasyr fil-Qira`at al-`Asyr</em>, Ibnul-Jazari (2/464), <em>al-Mughni ‘an Hamlil Asfar fil-Asfar</em>, al-‘Iraqi (1/329).<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Lihat <em>Syarh Sunan Abi Dawud</em>, Syaikh Abdul-Muhsin al-‘Abbad, Kaset no. 363.</p>
 