
<h2><span style="font-size: 22pt;"><b>Keutamaan Ulama Hadits</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Buwaithi berkata: Aku mendengar Syafi’i mengatakan, “Hendaklah kalian berpegang kepada para ulama hadits, sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling banyak kebenarannya.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Tarajim al-A’immah al-Kibar</i>, hal. 63)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Apabila aku melihat salah seorang As-habul Hadits seolah-olah aku sedang melihat salah seorang Sahabat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk mereka. Mereka telah menjaga dalil (hadits) untuk kita. Oleh sebab itu kita sangat berhutang budi kepada mereka.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Tarajim al-A’immah al-Kibar</i>, hal. 63 dan <i>Manaqib al-A’immah al-Arba’ah</i>, hal. 118)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahmad bin Sinan al-Qaththan </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Tidaklah ada di dunia ini seorang ahli bid’ah kecuali dia pasti membenci ahli hadits. Maka apabila seorang membuat ajaran bid’ah niscaya akan dicabut manisnya hadits dari dalam hatinya.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Da’a’im Minhaj Nubuwwah</i>, hal. 124)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sufyan ats-Tsauri </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Para malaikat adalah para penjaga langit sedangkan ashabul hadits adalah para penjaga bumi.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri</i>, hal. 31)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Muhammad bin Abi Hatim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan: Aku mendengar Yahya bin Ja’far al-Baikandi berkata, “Seandainya aku mampu menambah umur Muhammad bin Isma’il (Imam Bukhari) dari jatah umurku niscaya akan aku lakukan. Karena kematianku adalah kematian seorang lelaki biasa. Adapun kematiannya berarti lenyapnya ilmu [agama].” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Tarajim al-A’immah al-Kibar</i>, hal. 118)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/46442-bahaya-kebiasaan-banyak-komentar-malas-membaca.html" data-darkreader-inline-color="">Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kemuliaan Ilmu Hadits</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adalah Malik bin Anas, apabila beliau ingin berangkat untuk mengajarkan hadits maka beliau pun berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat. Beliau mengenakan pakaiannya yang terbaik dan memakai peci. Dan beliau pun menyisir jenggotnya. Tatkala hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, “Aku ingin memuliakan hadits Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Manaqib al-A’immah al-Arba’ah</i> oleh Imam Ibnu Abdil Hadi <i>rahimahullah</i>, hal. 87-88)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Waki’ </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang lebih utama daripada [ilmu] hadits.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal</i>, hal. 27)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bisyr bin al-Harits </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Tidaklah aku mengetahui di atas muka bumi ini suatu amalan yang lebih utama daripada menuntut ilmu dan mempelajari hadits yaitu bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan lurus niatnya.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal</i>, hal. 27)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ja’far ash-Shadiq </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Meriwayatkan hadits dan menyebarkannya di tengah-tengah umat manusia itu jauh lebih utama daripada ibadah yang dilakukan oleh seribu ahli ibadah.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi</i>, hal. 131)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mak-hul asy-Syami </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Al-Qur’an lebih membutuhkan kepada As-Sunnah, daripada kebutuhan As-Sunnah terhadap Al-Qur’an.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah</i>, hal. 15; kitab ini dihadiahkan kepada kami oleh al-Ustadz M. Abduh Tuasikal <i>hafizhahullah</i> )</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Asy-Syarif Hatim bin ‘Arif al-‘Auni </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, “Oleh sebab itu benarlah jika dikatakan bahwa orang yang sedang mempelajari as-Sunnah (hadits) sebagai orang yang sedang mempelajari al-Qur’an. Dan tidaklah salah jika dikatakan kepada orang yang membaca as-Sunnah, bahwa dia sedang membaca tafsir al-Qur’an.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah</i>, hal. 15)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sufyan ats-Tsauri </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi umat manusia daripada hadits.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri</i>, hal. 32)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/27774-malas-melakukan-ketaatan-tanda-penyakit-nifaq.html" data-darkreader-inline-color="">Malas Melakukan Ketaatan Tanda Penyakit Nifaq</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Ikhlas dalam Belajar Hadits</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnu Baththal </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya maka di akhirat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Syarh Shahih al-Bukhari</i> karya Ibnu Baththal, 1/136)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Waki’ bin al-Jarrah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Barangsiapa menimba ilmu hadits sebagaimana datangnya (apa adanya, pen) maka dia adalah pembela Sunnah. Dan barangsiapa yang menimba ilmu hadits untuk memperkuat pendapatnya semata maka dia adalah pembela bid’ah.” <strong>(lihat Mukadimah Tahqiq Kitab </strong></span><strong><i>az-Zuhd</i>, hal. 69)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hisyam ad-Dastuwa’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> ‘azza wa jalla.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Ta’thirul Anfas</i>, hal. 254)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sufyan ats-Tsauri </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Fitnah/cobaan yang timbul oleh hadits lebih dahsyat daripada fitnah yang ditimbulkan dari emas dan perak.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri</i>, hal. 33)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abdurrahman bin Mahdi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Fitnah yang timbul dari hadits lebih dahsyat daripada fitnah karena harta dan anak-anak.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Min A’lam as-Salaf</i> [2/97])</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ar-Rabi’ berkata: Aku mendengar beliau -Imam Syafi’i- mengatakan, “Langit manakah yang akan menaungiku. Bumi manakah yang akan menjadi tempat berpijak bagiku. Jika aku meriwayatkan hadits dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> kemudian aku tidak berpendapat sebagaimana kandungan hadits tersebut.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Tarajim al-A’immah al-Kibar</i>, hal. 56)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/20724-kiat-mengobati-futur-dan-malas-menuntut-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Kiat Mengobati Futur Dan Malas Menuntut Ilmu Agama</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bertahap dan Terus Menerus</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ma’mar mengatakan: Aku pernah mendengar az-Zuhri mengatakan, “Barangsiapa yang menuntut ilmu secara instan maka ia akan hilang dengan cepat. Sesungguhnya ilmu hanya akan diperoleh dengan menekuni satu atau dua hadits, sedikit demi sedikit.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an</i> [1/70])</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam al-Qurthubi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, “Ulama hadits berpesan, tidak semestinya seorang penimba ilmu hadits mencukupkan diri mendengar dan mencatat hadits tanpa mengetahui dan memahami kandungannya. Sebab hal itu akan membuang tenaganya dalam keadaan dia tidak mendapatkan apa-apa. Hendaknya dia menghafalkan hadits secara bertahap. Sedikit demi sedikit seiring dengan perjalanan siang dan malam.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an</i> [1/70])</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Suatu saat Abdullah bin al-Mubarak </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dicela karena sedemikian sering mencari hadits. Beliau pun ditanya, “Sampai kapan kamu akan terus mendengar hadits?”. Beliau menjawab, “Sampai mati.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah</i>, hal. 58)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tatkala begitu banyak orang yang menghadiri pelajaran hadits pada masa al-A’masy maka ada yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Muhammad, lihatlah mereka?! Betapa banyak jumlah mereka!!”. Maka beliau menjawab, “Janganlah kamu lihat kepada banyaknya jumlah mereka. Sepertiganya akan mati. Sepertiga lagi akan disibukkan dengan pekerjaan. Dan sepertiganya lagi, dari setiap seratus orang hanya akan ada satu orang yang berhasil -menjadi ulama-.” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah</i>, hal. 28)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Waki’ </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.” <strong>(lihat mukadimah </strong></span><strong><i>az-Zuhd</i> karya Imam Waki’, hal. 91)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/8979-jangan-malas-untuk-berdoa.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Malas untuk Berdo’a</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/2484-bagimu-pemuda-malas-nan-enggan-bekerja.html" data-darkreader-inline-color="">Bagimu Pemuda Malas, Nan Enggan Bekerja</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Tulisan ini disusun ulang di Kantor YPIA</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada saat pandemi masih meliputi, semoga Allah segera mengangkat wabah ini…</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/ariwahyudi" data-darkreader-inline-color=""> Ari Wahyudi</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 