
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut ini salah satu contoh tentang bagaimana Rasulullah  </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memperhatikan masalah tauhid umatnya dan bagaimana mengingkari bentuk kesyirikan yang banyak terjadi di masyarakat pada zaman ini, yaitu kesyirikan memakai jimat, baik yang digunakan untuk menolak bala` ataupun untuk mendapatkan manfa’at. Imran bin Husain </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">menuturkan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya:</span></p>
<p style="text-align: right;">مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزَعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Apaan ini?</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Laki-laki itu menjawab,</span></i><span style="font-weight: 400;"> ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Untuk menangkal penyakit lemah badan</span></i><span style="font-weight: 400;">’, </span><i><span style="font-weight: 400;">lalu Nabi bersabda</span></i><span style="font-weight: 400;">, ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.</span></i><span style="font-weight: 400;">’” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishahihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaan “</span><i><span style="font-weight: 400;">Apaan ini</span></i><span style="font-weight: 400;">?” Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada seseorang yang</span> <span style="font-weight: 400;">memakai gelang jimat adalah jenis pertanyaan pengingkaran (</span><i><span style="font-weight: 400;">Istifham Ingkari</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Sedangkan pemakai jimat tersebut, memahami bahwa pertanyaan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kepadanya adalah jenis pertanyaan perincian (</span><i><span style="font-weight: 400;">Istifham Iftishol</span></i><span style="font-weight: 400;">),</span> <span style="font-weight: 400;">yaitu</span><i><span style="font-weight: 400;">“Apa ini? </span></i><span style="font-weight: 400;">Atau</span><i><span style="font-weight: 400;"> Gelang untuk apa ini?” </span></i><span style="font-weight: 400;">begitu menurut sebagian Ulama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga laki-laki itu menjawab “</span><i><span style="font-weight: 400;">Untuk menangkal penyakit lemah badan.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;">انْزَعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahai pemuda yang masih memakai jimat. Bagi pemuda yang masih memasang susuk. Bagi mereka penggemar batu akik yang diyakini bertuah. Wahai pemuda yang masih memakai aji-aji dan rajah pada tubuhnya atau ditempatkan di selain tubuhnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidakkah Anda memperhatikan hakikat jimat, rajah, susuk, aji-aji yang Anda pakai?</span></p>
<p style="text-align: right;">لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jimat tersebut tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah sabda Nabi yang paling kita cintai diantara seluruh makhluk </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Yang tidak pernah menyampaikan ajaran Islam ini dari hawa nafsunya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah hakikat kesyirikan dengan segala macamnya, tidak akan pernah bermanfaat bagi pelakunya, malah justru membahayakan, walaupun diyakini oleh pelakunya bahwa itu sangat bermanfaat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">“maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” </span></i><span style="font-weight: 400;">maksudnya pelakunya terancam tidak beruntung sama-sekali, dengan kekal selamanya di Neraka, atau minimalnya tidak beruntung dengan keberuntungan yang sempurna, sehingga pelakunya terancam masuk Neraka, namun tidak kekal. Dan semua itu tergantung kepada jenis kesyirikan pelaku jimat tersebut[1. Untuk mengetahui kapan memakai jimat digolongkan kedalam syirik kecil atau besar, maka silahkan baca: <a href="https://muslim.or.id/26337-penjelasan-kitab-tauhid-tentang-jimat-gelang-4.html" target="_blank">https://muslim.or.id/26337-penjelasan-kitab-tauhid-tentang-jimat-gelang-4.html</a>].</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Solusi satu-satunya</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Solusi satu-satunya bagi Anda wahai pemuda Islam yang ingin menjadi pemuda yang dicintai oleh Rabb Anda, pemuda Islam yang hebat dan mulia adalah: </span><i><span style="font-weight: 400;">Kembali kepada agama kalian dengan baik.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Jika Anda tidak mau menjadi para pemuda yang hina, karena memiliki aqidah yang kotor, akhlak yang buruk, pemahaman yang salah dan amal yang mentimpang, maka bangkitlah, kembalilah kepada agama kalian dengan baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ’alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda :</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Apabila kalian berjual beli dengan ’inah (jual beli sistem riba), memegang ekor-ekor sapi, rela berlebihan dengan urusan pertanian, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan menghilangkannya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Abu Dawud)[2. Lihat <em>Silsilah Ash-Shahiihah</em> no. 11].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemuda Islam! Jika Anda bertanya “</span><i><span style="font-weight: 400;">Bagaimana kembali kepada agama Islam yang baik</span></i><span style="font-weight: 400;">?” Jawaban kami adalah “Berpegangteguhlah Anda dengan agama yang Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ’alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan para sahabat beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum </span></i><span style="font-weight: 400;">berada di atasnya. Itulah satu-satunya solusi yang benar, ketika Anda sedang menghadapi berbagai macam fitnah, baik berupa fitnah syahwat maupun syubhat, serta menghadapi berbagai macam krisis, baik itu krisis aqidah, ibadah, akhlak, mental maupun mu’malah ekonomi maupun politik. Abu Waqid Al-Laitsi </span><i><span style="font-weight: 400;">radliyallaahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> menuturkan solusi dari fitnah</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">أَنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ </span><b>” </b><span style="font-weight: 400;">فَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، فَقَالَ مُعَاذُ بن جَبَلٍ </span><b>: </b><span style="font-weight: 400;">أَلا تَسْمَعُونَ مَا يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالُوا </span><b>: </b><span style="font-weight: 400;">مَا قَالَ ؟ قَالَ </span><b>: ” </b><span style="font-weight: 400;">إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ </span><b>” </b><span style="font-weight: 400;">، فَقَالُوا </span><b>: </b><span style="font-weight: 400;">فَكَيْفَ لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ </span><b>: ” </b><span style="font-weight: 400;">تَرْجِعُونَ إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya akan terjadi fitnah Namun, ketika itu banyak shahabat yang tidak mendengarnya. Maka Mu’adz bin Jabal berkata, ‘Tidakkah kalian mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam?’ Mereka berkata, ‘Apa yang beliau sabdakan?’ Mu’adz menjawab ‘Sesungguhnya akan terjadi fitnah.’ Para shahabat bertanya, ‘Lalu, apa yang harus kami perbuat, wahai Rasulullah?’ Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab, ‘Kembalilah kepada urusan kalian yang pertama!’</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Thabarani dan yang lainnya)[3. Lihat <em>Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah</em> <span style="font-weight: 400;">no. 3165</span>].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan “</span><i><span style="font-weight: 400;">Kembali kepada urusan yang pertama kali</span></i><span style="font-weight: 400;">” ialah kembali kepada agama Islam yang murni, sebagaimana dulu diajarkan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ’alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> kepada para sahabat beliau. Beragama Islam menurut pemahaman para sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum </span></i><span style="font-weight: 400;">dan pengamalan mereka itulah solusi keluar dari fitnah dan kehinaan, serta solusi menjadi pemuda Islam yang hebat dan umat yang jaya dan mulia. Contohlah bagaimana para pemuda di kalangan sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum </span></i><span style="font-weight: 400;">meraih prestasi emas dan berhasil menjadi para pemuda Islam yang terhebat di sepanjang sejarah seluruh umat para Nabi dan Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Beragamalah seperti agama mereka, karena sesungguhnya agama mereka telah “disertifikasi” oleh Allah dan rasul-Nya  </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ’alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>_______</p>
 