
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama berselisih pendapat mengenai kapankan masa muda itu. Pendapat yang terkuat adalah u</span><span style="font-weight: 400;">sia muda itu diawali masa baligh dan berakhir sampai sebelum usia 40 tahun. </span><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الشباب عند أصحابنا هو من بلغ ولم يتجاوز ثلاثين سنة </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pemuda menurut ulama madzhab kami adalah orang yang telah mencapai baligh, namun tidak melampaui usia 30 tahun”</span><i> </i><span style="font-weight: 400;">(<em>Syarah Shahih Muslim</em>: 9/173).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ats-Tsa’alabi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> إن الشاب هو الذي بين الثلاثين والأربعين</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya pemuda adalah sosok orang yang berusia antara 30 dan 40 tahun”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>Fiqhul Lughah</em>: 111)[1. Lihat <a href="http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&amp;PageID=10489&amp;PageNo=1&amp;BookID=2" target="_blank">http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&amp;PageID=10489&amp;PageNo=1&amp;BookID=2</a>].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Atsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">والكهل من الرجال: من زاد على الثلاثين سنة إلى الأربعين ، وقيل من ثلاث وثلاثين إلى تمام الخمسين</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang berada pada masa transisi antara masa muda ke masa tua adalah: orang yang berusia lebih dari 30 tahun sampai 40 tahun. Adapula ulama yang berpendapat (bahwa orang yang berada pada masa transisi tersebut adalah): orang yang berusia 33 tahun sampai genap berusia 50 tahun”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>An-Nihayah fi gharibil Hadits</em>: 4/313)[2. Lihat <a href="http://Islamqa.info/ar/150958" target="_blank">Islamqa.info/ar/150958</a>].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini mengisyaratkan masa muda umat ini rata-rata memakan waktu hampir sepertiga dari usia mereka</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena</span> <span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa pada umumnya usia umat beliau antara 60-70 tahun, beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;">أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ</p>
<p> </p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Usia umatku adalah diantara 60 sampai 70 tahun, sedangkan paling sedikit jumlahnya diantara mereka adalah orang yang usianya melampui usia rata-rata umatku tersebut” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, jika seseorang dikaruniai bisa mengenyam masa mudanya dengan lengkap, maka itu berarti sekitar 25 tahun ia habiskan masa mudanya tersebut di kehidupan dunia ini, sebelum masuk kedalam masa transisi dan akhirnya masa tuapun tiba, saat kekuatan tubuh seseorang mulai menurun, tulangnya mulai merapuh dan bisa jadi sudah mulai pikun. Dua puluh lima tahun adalah suatu masa yang panjang bagi pemuda untuk bisa menorehkan berbagai macam prestasi di masyarakatnya! </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah, dalam masa keemasan sejarah Islam, ketika tarbiyah terhadap pemuda demikian bagusnya, maka tonggak-tonggak perubahan umat Islampun banyak dipegang oleh para pemuda. Deretan nama para tokoh, pemimpin dan pembaharu dalam Islam ini banyak diisi oleh para pemuda Islam. </span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Selebritis Bukan Idolamu, Wahai Pemuda</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Sangat disayangkan bahwa banyak pemuda Islam pada zaman ini yang mengidolakan orang-orang yang justru menjerumuskan mereka kepada kerusakan agama, ibadah dan, akhlak. Mereka tidak memahami apa patokan sosok idola yang baik itu! Kenyataannya, banyak pemuda yang menilai bahwa patokan idola yang baik itu adalah ketenaran dalam masalah hobi yang mereka sukai, tanpa memandang apakah sosok idola tersebut memiliki sifat-sifat yang dicintai oleh Allah atukah tidak. Oleh karena itulah, banyak pemuda yang mengidolakan para seleberitis yang justru mencelakakan dan merendahkan martabat mereka!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), seleberitis itu maknanya adalah orang yang terkenal atau masyhur. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika demikian maknanya, tentulah keterkenalan seseorang tidak secara mutlak menjadi standar kelayakan untuk menjadi sang idola! Karena banyak orang-orang yang terkenal, namun justru ketenarannya dalam hal-hal yang buruk. Misalnya terkenal sebagai pemimpin yang kejam dan takabur, seperti fir’aun dan namrud, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkenal karena disebut sebagai sosok penduduk Neraka, seperti abu lahab dan selain mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau idola banyak pemuda zaman ini, dari para seleberitis yang tidak kenal tauhid, tidak shalat, pemuja setan, suka selingkuh, mengumbar aurat atau selainnya dari rekam jejak yang dimurkai oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Wahai para pemuda, pilihlah idola yang jelas-jelas dicintai oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span> <span style="font-weight: 400;">idola tertinggi kita adalah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">kemudian para Rasul dan Nabi selain beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimus salam, </span></i><span style="font-weight: 400;">lalu para Sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum </span></i><span style="font-weight: 400;">, selanjutnya para imam kaum muslimin dan orang-orang yang sholeh. Jika Anda mengikuti idola-idola yang shaleh tersebut, maka keberkahan akan Anda dapatkan dalam kehidupan Anda!</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Wahai para pemuda, inilah pemuda idola Anda!</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahai para pemuda, tinggalkan idola-idola palsu yang tidak menambah kecuali kerugian dunia akhirat Anda! Idola-idola palsu dari kalangan musuh-musuh Islam, yang membawa ajaran rusak, tidak mengenal shalat, banyak maksiat dan berakhlak buruk! Hanya karena dibungkus dengan baju kemewahan dan ketenaran atau semacamnya, idola-idola palsu tersebut laris di kalangan para pemuda Islam!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gantilah idola-idola palsu yang merusak akhlak Anda, merendahkan martabat Anda dan menjerumuskan Anda dalam kubang kesyirikan, kemaksiatan, tata cara ibadah yang menyimpang serta akhlak yang buruk! Tinggalkan idola-idola yang merusak tersebut, karena itu adalah racun bagi hati dan perilaku Anda! Sadarlah wahai pemuda, Anda sedang diincar, ditarget dan dibidik untuk menjadi budak-budak penghusung sponsor ideologi batil, ajaran agama sesat dan perilaku menyimpang dari adab Islami!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Segera jaga, lindungi dan sayangi diri Anda dengan menggantungkan harapan dan tawakkal kepada Allah semata dan berjuang keras untuk menjadi hamba-Nya yang taat, menjadi pemuda dan pemudi yang bertauhid, beribadah dengan benar dan berakhlak Islami!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mari, ikatkan diri Anda dengan profil-profil pemuda yang mulia, baik itu pemuda dari kalangan Nabi maupun generasi terbaik Salafush Shalih kita, serta pemuda dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.</span></p>
<p>(bersambung)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>______</p>
 