
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah sosok utusan Allah yang paling semangat dalam mendidik para pemuda. Beliau memiliki kasih sayang yang sangat besar terhada umat ini. Beliau tidak ingin sedikitpun mereka terluput dari kebaikan.</span></p>
<p style="text-align: right;">لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan kebaikan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” </span></i><span style="font-weight: 400;">(At-Taubah: 128).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>1. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan mendapatkan </b><b><i></i></b><b>naungan ‘Arsy-Nya pada hari Akhir</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh </span><a href="http://www.radiorodja.com/tag/imam-bukhari/"><span style="font-weight: 400;">Imam Bukhari</span></a><span style="font-weight: 400;"> dan Muslim, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengabarkan ganjaran yang didapatkan oleh pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada para pemuda, agar mereka semangat menghamba kepada Rabb alam semesta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;">سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata. Mereka adalah pemimpin yang adil, </span></i><b><i>pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; keduanya berkumpul berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik lalu mengatakan, ‘Sungguh aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari</span> <span style="font-weight: 400;">dan Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa salah satu golongan orang yang mendapatkan naungan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Arsy</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah pada hari akhir adalah pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya. Pada hari itu, manusia dikumpulkan di padang Mahsyar. Matahari didekatkan sedekat satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia ini. Maka, betapa beruntungnya orang-orang yang mendapatkan naungan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Arsy</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah saat itu, karena demikian panas terasa.</span></p>
<p><b>Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berbeda pendapat dalam memahami makna “</span><i><span style="font-weight: 400;">Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Di antara beberapa pendapat ulama tersebut, terdapat dua pendapat yang paling dikenal luas , yaitu:</span></p>
<p><b>Pendapat pertama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahwa maknanya adalah pemuda yang saat masa muda, kebaikannya lebih banyak dan keburukannya lebih sedikit dibandingkan dengan pemuda lain yang tumbuh tidak dalam ketaatan kepada Allah. Lalu saat-saat tuanya dan akhir hidupnya, iapun taat kepada Rabbnya.</span></p>
<p><b>Pendapat kedua, inilah yang terkuat, </b><b><i>wallahu a’lam</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahwa maknanya adalah pemuda yang terdidik dalam ketaatan kepada Allah. Sejak kecilnya ia tumbuh berkembang di atas ketaatan tersebut, sehingga ketika sampai usia muda, ia disibukkan dengan ketaatan, bahkan ia habiskan waktu mudanya dalam ketaatan kepada Rabbnya. Hingga iapun diganjar dengan mendapatkan naungan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Arsy</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah pada hari Akhir, karena langgengnya dalam menjaga diri dan mengendalikan hawa nafsu agar tidak berbuat sesuatu yang menyelisihi perintah Rabbnya. Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">(نَشَأَ) منذ الصغر وهو في العبادة ، فهذا صارت العبادة كأنها غريزة له، فألفها وأحبَّها، حتى إنه إذا انقطع يوماً من الأيام عن عبادة تأثر. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kata ‘Tumbuh’ (dalam hadits ini maknanya adalah) semenjak kecilnya ia berada dalam peribadatan (ketaatan), sehingga seolah-olah ibadah itu menjadi nalurinya, maka iapun akrab dengan ibadah dan mencintainya. Hingga (misalnya)suatu hari ia terputus melakukan suatu ibadah, iapun merasa tidak nyaman” (<em>Syarah Shahih Al-Bukhari</em> :3/79).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penguat pendapat kedua ini adalah atsar dari Salman </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mauquf,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">ورجلٌ أفنى شبابه ونشاطه في عبادة الله</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seseorang yang menghabiskan waktu mudanya dan ketekunannya dalam beribadah kepada Allah”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Riwayat Sa’id bin Manshur dalam Sunannya dan dihasankan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Syaikh Muhammad Shaleh Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah, “</span></i><span style="font-weight: 400;">namun jika seandainya seseorang tidaklah menjadi taat kepada Allah (dengan baik) kecuali setelah umur 30 tahun, maka (ketahuilah), Allah Ta’ala telah berfirman dalam Kitab-Nya,”</span></p>
<p style="text-align: right;">وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(68) “</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan perkara yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),</span></i><span style="font-weight: 400;">” </span></p>
<p style="text-align: right;">يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(69) “</span><i><span style="font-weight: 400;">(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,</span></i><span style="font-weight: 400;"> (70) </span><i><span style="font-weight: 400;">kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-Furqaan: 68-70).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka yang bertaubat setelah usia tua dan beramal shaleh, niscaya Allah akan mengganti dosa mereka dengan kebaikan (mereka). Allah pun juga akan menulis untuk mereka, sesuatu yang Allah tulis untuk selain mereka, </span><i><span style="font-weight: 400;">insyaallah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Taruhlah seandainya, ia bukan seorang pemuda yang taat, maka telah terluput darinya salah satu sifat yang menyebabkannya ia berhak mendapatkan naungan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Arsy</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Azza wa Jalla</span></i><span style="font-weight: 400;">.  Namun, (selayaknya) janganlah terluput ia dari mendapatkan sifat-sifat lainnya (penyebab mendapatkan naungan ‘Arsy-Nya) (Liqo`u Babil Maftuh: 5, pertanyaan no. 25)[1. <a href="http://islamqa.info/ar/150958" target="_blank">http://islamqa.info/ar/150958</a>].</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>2. Perhatian Rasulullah s</b><b><i>hallallahu ‘alaihi wa sallam</i></b><b> terhadap para pemuda di dalam menjaga kehormatan mereka</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Masa muda adalah masa yang banyak tantangan dan pertarungan pengaruh, masa di mana sesorang memiliki kekuatan syahwat yang tinggi. Oleh karena itu, mereka perlu bimbingan dan pengarahan bagaimana mengendalikan hawa nafsu dengan baik, sehingga terhindar dari fitnah syahwat, khususnya fitnah wanita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ujian wanita bagi kaum lelaki dari umat ini adalah ujian yang amat berat. Oleh karena itu, ketika Allah menyebutkan beberapa macam ujian bagi manusia, Dia </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">sebutkan yang pertama kali adalah ujian wanita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga)” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. QS. Ali ‘Imran: 14).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnu Hajar mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وبدأ بهن قبل بقية الأنواع إشارة إلى أنهن الأصل في ذلك </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “</span><i><span style="font-weight: 400;">Allah menyebut wanita pada urutan yang pertama sebelum menyebut macam fitnah (ujian) yang lainnya. Ini memberikan isyarat bahwa fitnah wanita adalah induk dari segala fitnah</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Fathul Bari: 9/138)[2. <a href="http://islamqa.info/ar/8827" target="_blank">islamqa.info/ar/8827</a>].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ungkapan Imam Ibnu Hajar ini selaras dengan hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: right;">مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidaklah ada sepeninggalku satu fitnah pun yang lebih membahayakan bagi para lelaki selain fitnah wanita</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Rasulullah s</span><i><span style="font-weight: 400;">hallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan perhatian yang besar dalam masalah ini terhadap para pemuda. Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">. Ia menuturkan, “Kami bersama Nabi s</span><i><span style="font-weight: 400;">hallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagai para pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami,</span></p>
<p style="text-align: right;">يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu menikah di antara kalian, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat melemahkan syahwat jima’ (sebagai tameng)</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Bagaimana jika sudah berpuasa, namun masih belum juga melemah syahwat jima’nya?</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bisa jadi pengaruh positif puasa yang melemahkan syahwat itu tidak didapatkan di awal terapi, bagaimana menyikapinya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal itu disebabkan,</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Hidayah itu dari Allah, maka mohonlah dan bertawakallah kepada-Nya saja. </span></li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Bersabarlah dan teruslah melakukan terapi puasa. </span><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan fenomena seperti ini,<br>
</span>
<p style="text-align: right;">وَاسْتُشْكِلَ بِأَنَّ الصَّوْمَ يَزِيدُ فِي تَهْيِيجِ الْحَرَارَةِ وَذَلِكَ مِمَّا يُثِيرُ الشَّهْوَةَ، لَكِنَّ ذَلِكَ إِنَّمَا يَقَعُ فِي مَبْدَأِ الْأَمْرِ فَإِذَا تَمَادَى عَلَيْهِ وَاعْتَادَهُ سَكَن ذَلِكَ. وَاللَّه أَعْلَمُ. فتح الباري</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ada sedikit masalah (disini), yaitu bahwa puasa menambah bergejolaknya hawa nafsu dan hal itu bisa membangkitkan syahwat, namun hal itu terjadi di awal-awal terapi berpuasa, jika ia tetap lanjutkan terapi puasa terrsebut dan terbiasa dengan berpuasa, niscaya akan tenang jiwanya (melemah syahwatnya) </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span> <span style="font-weight: 400;">(<em>Fathul Bari</em>: 4/119).</span></p>
</li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Jauhi perkara-perkara yang membangkitkan syahwat, baik itu berasal dari jenis makanannya, pikiran, obrolan, tempat, teman, tontonan, bacaan maupun yang lainnya.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Sibukkan diri dengan melakukan ibadah dan aktifitas yang bermanfaat dengan memenuhi adab-adab Islami, berupa menghadiri kajian Islam, menundukkan pandangan, berpakaian Islami dan selainnya.</span></li>
<li>Cari teman dan sahabat yang membantu Anda mengingat Allah, memahami syari’at-Nya dan mengingat kematian.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>_______</p>
 