
<p><span style="font-weight: bold;">Oleh: Firman Ilkha Putra (Customer Support Officer PT. Zahir Internasional)*</span></p>
<p>Pada edisi No. 27, rubrik ini  menurunkan tulisan mengenai dua cara atau pendekatan untuk menentukan  harga jual produk. Yakni melalui pendekatan biaya dan pendekatan pasar.  Kita teruskan dengan membahas kapan Anda harus menyesuaikan harga jual  produk bisnis Anda. Perkara ini penting, mengingat penetapan harga jual  produk ikut menentukan perolehan keuntungan. Bukan soal nominalnya,  namun juga waktunya. Kapan harga produk disesuaikan diturunkan atau  dinaikkan.</p>
<p>Jadi, kapan Anda harus menaikkan atau menurunkan harga? Ada lima fenomena yang sebaiknya Anda perhatikan.</p>
<p><strong>1. Selera dan gaya hidup konsumen  berubah</strong></p>
<p>Masyarakat  konsumen yang terpapar cukup informasi mengharuskan para produsen lebih  cerdas menilai selera dan gaya hidup konsumen produknya. Juga harus  awas terhadap perilaku produsen pesaing, dan karena itu Anda harus  mengenal siapa pesaing Anda. Anda sebaiknya pula paham hukum penawaran  dan permintaan. Dalam hukum penawaran dan permintaan berlaku asumsi  ceteris paribus (tiada faktor selain harga yang mempengaruhi). Inilah  pernyataan hukum itu: ”Jika harga sebuah barang naik, barang itu semakin  banyak tersedia untuk ditawarkan kepada konsumen, dan sebaliknya, jika  harga menurun, semakin sedikit tersedia untuk ditawarkan (hukum  penawaran). Jika harga sebuah barang menurun, semakin banyak  permintaannya, dan sebaliknya, jika hargaya naik semakin sedikit  permintaannya (hukum permintaan).”</p>
<p>Yang Anda sebaiknya tahu adalah  faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap permintaan dan  penawaran jika tidak berlaku asumsi ceteris paribus. Inilah inti  pertanyaan mengenai kapan waktu yang tepat bagi Anda untuk ”dipaksa”  menyesuaikan harga produk Anda – menaikan atau menurunkan. Dipaksa? Ya,  dipaksa. Sebab watak dan gaya hidup konsumen-lah yang seolah-olah  memaksa Anda untuk mengubah kebijakan harga produk bisnis Anda.</p>
<p><strong>2. Pesaing Anda merubah strategi Kenalilah watak pesaing Anda.</strong></p>
<p>Harus  Anda lakukan sejak dini agar Anda dapat memprediksi stragegi yang  sedang disusun dan telah diterapkan di medan bisnis oleh pesaing Anda.  Maksud pesaing disini adalah produk atau bisnis yang serupa atau sejenis  dengan produk atau bisnis Anda. Hendaknya tidak 100% yakin bahwa bisnis  Anda stabil dan akan terus bersinar. Ingatlah perputaran roda. Anda dan  pesaing masing-masing memiliki inovasi. Saat inovasi dalam bisnis Anda  mencapai titik jenuh dan produk Anda kurang diminati konsumen, saat  itulkah waktu terbaik bagi Anda untuk menurunkan harga produk Anda.</p>
<p><strong>3. Sistem pembayaran berubah.</strong></p>
<p>Turunkan  harga atau ubah sistem pembayarannya, maka akan banyak yang mengantre.  Siapa yang mengantre? Konsumen atau pesaing Anda? Boleh jadi keduanya.  Mungkin salah satunya. Barangkali tiada satu pun. Namun ingatlah gaya  hidup mereka. Zaman sekarang semakin membentuk pola pikir kritis di  kalangan konsumen dan produsen. Kini bagi konsumen, yang penting bukan  lagi harga produk. Tapi mutu purna jualnya. Bahkan konsumen berani  membayar berapa pun asalkan ada jaminan purna jual dalam bentuk garansi  dan dukungan suku cadang, misalnya.</p>
<p>Lantas bagaimana dan kapan Anda harus menyesuaikan harga produk Anda?</p>
<p>Menaikkan harga?</p>
<p>Tidak! Jangan menaikkan harga dulu! Pantau terus pesaing Anda.</p>
<p>Anda  hendaknya paham pula bagaimana konsumen menggunakan sistem pembayaran.  Contohnya pembelian sepeda motor yang sebagian besar menggunakan sistem  cicilan bulanan. Ya, inilah tips yang perlu Anda coba terapkan. Dalam  acara-acara tertentu seperti pameran yang ramai pengunjung, banyak  konsumen yang berburu barang murah namun tetap bermutu. Dalam kegiatan  ini pesertanya juga terdiri atas para produsen yang juga menjual barang  yang serupa. Pameran komputer, misalnya. Jangan anggap kegiatan ini  sebagai peluang untuk menaikkan harga. Namun jadikan sebagai kesempatan  memberi diskon khusus untuk menarik minat pembeli. Menurut saya, asumsi  ceteris paribus akan berlaku dalam kasus ini.</p>
<p><strong>4. Produk Anda ketinggalan zaman.</strong></p>
<p>Jika  produk Anda ketinggalan zaman, sangkut pautnya langsung dengan inovasi.  Kadang sulit meramalkan kecenderungan atau tren minat masyarakat  terhadap sebuah produk. Apalagi ada komunitas tertentu yang latah  terhadap produk baru. Produk primadona di salah satu negara bisa saja  tiba-tiba ditinggalkan konsumen akibat produk kompetitor muncul pada  waktu yang tepat karena produsennya tepat membaca sifat dasar sebuah  komunitas. Jika produk Anda ketinggalan zaman, dampaknya adalah pada  menurunnya volume penjualan. Maka, mau tidak mau, Anda harus menurunkan  harga produk Anda untuk mendongkrak penjualannya. Setidaknya untuk  menutupi biaya produksi.</p>
<p><strong>5. Ada produk lain yang lebih murah.</strong></p>
<p>Pernahkah  Anda membaca brosur atau poster yang berisi jaminan “Ada yang lebih  murah? Kami ganti selisihnya?” Mungkin pernah. Inilah trik untuk  meyakinkan konsumen bahwa barang yang dibelinya benar-benar murah  harganya. Meski demikian, bukan berarti pernyataan promosi itu sekadar  bunyi. Jika Anda akan menirunya, tawarkan harga yang lebih murah  dibandingkan produk pesaing Anda. Apalagi jika Anda memasok barang  secara masal untuk dijual kembali secara eceran. Cara ini akan menekan  biaya pembentuk harga pokok.</p>
<p>Demikianlah beberapa fenomena yang  sebaiknya Anda perhatikan sebagai bagian dari strategi menentukan harga  lebih murah, dan kapan harga harus diturunkan atau disesuaikan.</p>
<p><em>*) Artikel ini merupakan kerjasama antara <strong><a title="majalah pengusaha muslim indonesia" href="http://majalah.pengusahamuslim.com/" target="_blank">majalah Pengusaha Muslim</a></strong> dan PT. Zahir Internasional</em></p>
 