
<p><strong>KERINGANAN BERDZIKIR KEPADA ALLAH BAGI WANITA HAID</strong></p>
<p>Oleh<br>
Amr bin Abdul Mun’im Salim</p>
<p>Zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah. Sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wa Jalla.</p>
<p><strong>فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ</strong></p>
<p>“<em>Karena itu, berdzikirlah (ingat) kalian kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepada kalian, dan bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku</em>“. [Al-Baqarah/2 : 152]</p>
<p><strong>وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ</strong></p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya berdzikir (mengingat) Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain)</em>“. [Al-Ankabut/29 : 45]</p>
<p>Dalam mengisahkan Yunus ‘Alaihi al-Salam, Dia berfirman.</p>
<p><strong>فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ</strong></p>
<p>“<em>Maka kalau sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit</em>“. [As-Shaffat/37 : 143-144]</p>
<p>Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p><strong>مَشَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِ ى لاَ يَذْكُرُ مِثْلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ</strong></p>
<p>“<em>Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati</em>“. [Diriwayatkan oleh Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu].</p>
<p>Diantara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap kaum wanita adalah memberikan keringanan kepada kaum wanita untuk berdzikir kepada-Nya selama menjalani masa haid, meski pada saat itu mereka tidak boleh mengerjakan shalat dan puasa.</p>
<p>Ummu Athiyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan.</p>
<p><strong>كُنْا نُؤْمَرُ بِالخُرُوْجِ فِى الْعِيْدَيْنِ، وَالْمُخْبَأَةُ وَالْبِكْرُ قَالَتْ : الْحَيَّضُ يَخْرُجْنَ فَيَكُنْ خَلْفَ النَّاسِ، يُكَبِّرنَ مَعَ النَّسِ</strong></p>
<p>“<em>Kami diperintahkan keluar pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, juga wanita pingitan dan gadis. ‘Wanita-wanita haid keluar rumah dan menempati posisi di belakang jama’ah yang mengerjakan shalat, dan bertakbir bersama-sama mereka’, Lanjut Ummu Athiyyah</em>“. (Hadits Riwayat Muttafaqun ‘alaih).</p>
<p>Imam Nawawi Rahimahullah juga mengatakan.<br>
“Ucapan Ummu Athiyyah, ‘Wanita-wanita haid itu bertakbir bersama jama’ah menunjukkan dibolehkannya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi wanita haid dan wanita sedang junub. Yang diharamkan baginya adalah membaca Al-Qur’an.</p>
<p>[Disalin dari buku Tsalatsuna Rukhshatan Syar’iyyan Li Al-Nisa’. Edisi bahasa Indonesia 30 Keringanan Bagi Wanita. Penulis Amr bin Abdul Mun’im Salim, Penerjemah M. Abdul Ghoffar E.M. Penerbit Pustaka Azzam – Jakarta. November 1997]</p>
 