
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51544-keutamaan-belajar-ilmu-agama-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Belajar Ilmu Agama (Bag. 2)</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Binatang pun Menjadi Lebih Mulia karena Ilmu</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kemuliaan ilmu syar’i dan keutamaannya pula, Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">menghalalkan bagi kita untuk memakan binatang hasil buruan yang diburu oleh anjing ‘berilmu’ (yaitu anjing yang sudah terlatih untuk berburu) dan mengharamkan memakan binatang hasil buruan yang diburu oleh anjing yang tidak ‘berilmu’. Ini adalah bukti nyata bahwa binatang dibedakan kedudukannya karena ilmu. Maka bagaimana lagi dengan manusia? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mereka menanyakan kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah,’Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan </span><b>(buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu</b><span style="font-weight: 400;">, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya).’”</span><b> (QS. Al-Maidah [5]: 4)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, marilah kita merenungkan ayat ini dengan seksama. Kalaulah bukan karena kemuliaan dan keutamaan ilmu, niscaya buruan anjing ‘berilmu’ dan anjing ‘bodoh’ akan sama saja.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/42711-menjadi-sesat-karena-hobi-berdebat-kusir.html" data-darkreader-inline-color="">Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat Kusir</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Penuntut Ilmu adalah Manusia yang Terbaik</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ خِيَارُهُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Manusia itu ibarat logam dari emas dan perak. Orang yang terbaik ketika jahiliyyah akan menjadi yang terbaik ketika Islam, jika mereka berilmu.” </span><b>(HR. Bukhari no. 3496 dan Muslim no. 6877. Lafadz hadits di atas adalah milik Muslim)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar Al-Asqalani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata ketika memberi komentar terhadap hadits ini,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأَمَّا قَوْله إِذَا فَقِهُوا فَفِيهِ إِشَارَة إِلَى أَنَّ الشَّرَف الْإِسْلَامِيّ لَا يَتِمّ إِلَّا بِالتَّفَقُّهِ فِي الدِّين</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ … adapun perkataan beliau, ‘jika mereka berilmu’ maka di dalamnya terdapat isyarat bahwa kemuliaan Islam tidaklah sempurna kecuali dengan memahami agamanya, … “ </span><b>(</b><b><i>Fathul Baari, </i></b><b>10: 295)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata ketika menjelaskan hadits ini,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَعْنَاهُ أَنَّ أَصْحَاب الْمُرُوءَات وَمَكَارِم الْأَخْلَاق فِي الْجَاهِلِيَّة إِذَا أَسْلَمُوا أَوْ فَقُهُوا فَهُمْ خِيَار النَّاس</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maknanya, orang-orang yang menjaga kehormatannya dan memiliki akhlak yang mulia di masa jahiliyyah, jika mereka masuk Islam atau memahami agamanya, maka merekalah manusia yang paling baik.” </span><b>(</b><b><i>Syarh Shahih Muslim, </i></b><b>8: 112)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/1243-rajin-pengajian-kok-sesat.html" data-darkreader-inline-color="">Rajin Pengajian kok Sesat?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Yang Lebih Didahulukan dalam Memimpin adalah Orang Berilmu</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Termasuk dalam hal-hal yang menunjukkan atas kemuliaan ilmu syar’i adalah mengetahui bahwa yang lebih didahulukan baik dalam memimpin suatu jabatan maupun kedudukan dalam syar’iat adalah yang lebih berilmu dan lebih bertakwa. Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang menjadi pemimpin suatu kaum adalah yang paling faham terhadap kitabullah. Jika masih sama, maka yang paling faham terhadap As-Sunnah. Jika masih sama, maka yang lebih dahulu berhijrah. Jika masih sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam.” </span><b>(HR. Muslim no. 1564)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keutamaan ilmu lebih didahulukan dalam masalah kepemimpinan daripada statusnya yang lebih dahulu masuk Islam atau berhijrah. Ketika ilmu tentang Al Qur’an lebih mulia daripada ilmu tentang As-Sunnah karena kemuliaan ilmu Al Qur’an dibandingkan ilmu As-Sunnah, maka yang lebih didahulukan adalah yang memiliki ilmu tentang Al Qur’an. Ini menunjukkan atas keutamaan ilmu dan kemuliaannya. Dan pemiliknya lebih didahulukan (lebih diprioritaskan) untuk memegang jabatan keagamaan. </span><b>(Lihat </b><b><i>Miftaah Daaris Sa’aadah, </i></b><b>1: 73-74)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/416-kesesatan-agama-syiah-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Biarkan Syi’ah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya</strong></a></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Dunia Ini Terlaknat kecuali Orang yang Menuntut Ilmu Syar’i</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah mencela dunia dan apa-apa yang di dalamnya kecuali hamba-Nya yang berdzikir kepada Allah dan yang menuntut ilmu syar’i. Ini merupakan petunjuk yang sangat jelas atas kemuliaan dan keutamaan ilmu syar’i di sisi Allah <em>Ta’ala.</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالاَهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dunia itu terlaknat. Terlaknat apa-apa yang ada di dalamnya kecuali yang berdzikir kepada Allah, dan apa yang diamalkannya, </span><b>orang yang berilmu dan yang mengajarkan ilmunya.”</b> <b>(HR. Ibnu Majah. Dinilai </b><b><i>hasan</i></b><b> oleh Syaikh Albani dalam </b><b><i>Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah </i></b><b>no. 4112)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah sekelumit pelajaran tentang motivasi bagi para penuntut ilmu. Semoga yang sedikit ini bisa menyalakan semangat mereka dalam berjuang membela agama-Nya dari serangan musuh-musuh-Nya. Sesungguhnya pada masa yang penuh dengan fitnah semacam ini, kehadiran para penuntut ilmu yang sejati sangatlah dinanti-nanti. Para penuntut ilmu yang berhias dengan adab-adab Islami, yang tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia dengan segala kepalsuan dan kesenangannya yang fana. Para penuntut ilmu yang bisa merasakan nikmatnya berinteraksi dengan Al Qur’an sebagaimana orang yang lapar menyantap makanan. Para penuntut ilmu yang senantiasa berusaha meraih keutamaan di waktu-waktunya. Para penuntut ilmu yang bersegera dalam kebaikan dan mengiringi amalnya dengan rasa harap dan cemas. Para penuntut ilmu yang mencintai Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">dan Rasul-Nya di atas kecintaannya kepada segala sesuatu. </span><b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50995-antara-mencela-simbol-kekufuran-dan-menjelaskan-prinsip-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Antara Mencela Simbol Kekufuran dan Menjelaskan Prinsip Islam</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Catatan Penting (!!)</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Satu catatan penting yang perlu penulis tambahkan adalah kesalahan sebagian di antara kita yang membawakan dalil-dalil tentang keutamaan ilmu, baik dari Al Qur’an dan As-Sunnah, </span><b>namun yang dimaksudkan adalah untuk memotivasi belajar ilmu duniawi.</b> <b>Ini adalah sebuah kesalahan.</b><span style="font-weight: 400;"> Karena ilmu yang mendapatkan pujian dan memiliki banyak keutamaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil tersebut adalah ilmu syar’i. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini sebagaimana perkataan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang telah penulis kutip sebelumnya, </span></p>
<p><b>”Adapun yang dimaksud dengan (kata) ilmu adalah ilmu syar’i.</b><span style="font-weight: 400;"> Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf untuk dapat mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah …” </span><b>(</b><b><i>Fathul Baari, </i></b><b>1: 92) </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Ilmu yang mendapatkan pujian adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu tentang memahami kitabullah dan sunnah Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.” </span><b>(</b><b><i>Kitaabul ‘Ilmi, </i></b><b>hal. 14)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula dalam sabda Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits tersebut Rasulullah mengatakan,</span><i><span style="font-weight: 400;">”memahamkan dia dalam urusan agamanya.” </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah tidak bersabda,</span><i><span style="font-weight: 400;">”memahamkan dia dalam urusan dunianya.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan Allah <em>Ta’ala</em> mencela orang-orang yang sangat pandai tentang seluk-beluk ilmu dunia dengan segala permasalahannya, namun lalai terhadap ilmu agamanya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.” </span><b>(QS. Ar-Ruum [30]: 7)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya,</span> <span style="font-weight: 400;">sebagian besar manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali ilmu tentang dunia, dan segala yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akhirat mereka. </span><b>[2] </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, bukan berarti kita mengingkari manfaat belajar ilmu duniawi. Karena hukum mempelajari ilmu duniawi itu tergantung pada tujuannya. Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam kejelekan, maka jelek. </span><b>[3] [4]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47685-rukun-iman-antara-lima-atau-enam.html" data-darkreader-inline-color="">Rukun Iman: Antara Lima atau Enam</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47063-tundukan-hawa-nafsu-demi-ikut-dalil.html" data-darkreader-inline-color="">Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Surakarta, 17 Dzulqa’dah 1440/14 Juli 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1]</b> <span style="font-weight: 400;">Perkataan yang sangat menakjubkan ini penulis kutip dari tulisan saudara kami, Akh Ari Wahyudi </span><i><span style="font-weight: 400;">–semoga Allah senantiasa menjaganya-  </span></i><span style="font-weight: 400;">melalui tulisannya yang berjudul </span><b><i>“Sekelumit tentang Keutamaan Ilmu”. </i></b><span style="font-weight: 400;">Dapat dilihat di </span><b><i>Buku Panduan Santri Pesantren Mahasiswa Ma’had Al-‘Ilmi, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 29.</span></p>
<p><b>[2] </b> <span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, </i></b><span style="font-weight: 400;">6: 305.</span></p>
<p><b>[3]</b> <span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Kitaabul ‘Ilmi, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 14.</span></p>
<p><b>[4]</b> <span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Kaifa Tatahammasu li Tholabil ‘Ilmi Syar’i, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 30-35 dan 50-54 disertai beberapa penambahan dari referensi lainnya.</span></p>
 