
<p>Dikeluarkan Imam Al Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنِ الْمِقْدَامِ رَضِي اللَّهم عَنْه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ)) رواه البخاري.</p>
<p>Dari al-Miqdam <i>Radhiallahu ‘anhu</i>, bahwa Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> bersabda: “<em>Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)</em>”<a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a>.</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bekerja mencari nafkah yang halal dan berusaha memenuhi kebutuhan diri dan keluarga dengan usaha sendiri. Bahkan ini termasuk sifat-sifat yang dimiliki oleh para Nabi <em>‘alaihimussalam</em> dan orang-orang yang shaleh. Dalam hadits lain Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> bersabda: “<em>Nabi Zakariya ‘alaihissalam adalah seorang tukang kayu</em>”<a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a>.</p>
<p>Dalam biografi imam besar Ahlus sunnah dari generasi <i>Tabi’ut tabi’in</i>, imam Abdullah bin Al-Mubarak engkau mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke Tanah Haram/Mekkah (untuk dijual), bagaimana ini?”. Maka Abdullah bin Al-Mubarak menjawab: “Sesungguhnya aku melakukan (semua) itu hanya untuk menjaga mukaku (dari kehinaan meminta-minta), memuliakan kehormatanku (agar tidak menjadi beban bagi orang lain), dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allah”. Lalu Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Wahai Abdullah bin Al-Mubarak, alangkah mulianya tujuanmu itu jika semuanya benar-benar terbukti”<a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a>.</p>
<p>Beberapa faidah penting dari hadits di atas:</p>
<ul>
<li>Termasuk sifat mulia yang dimiliki oleh para Nabi ‘<em>alaihimussalam</em> dan orang-orang yang shaleh adalah mencari nafkah yang halal dengan usaha mereka sendiri, dan ini tidak melalaikan mereka dari amal shaleh lainnya, seperti berdakwah di jalan Allah <em>Ta’ala</em> dan memuntut ilmu agama.</li>
<li>Usaha yang halal dalam mencari rezki tidak bertentangan dengan sifat zuhud, selama usaha tersebut tidak melalaikan manusia dari mengingat Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman memuji hamba-hamba-Nya yang shalih:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ</p>
<p><span>“<em>laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang</em>” (QS an-Nuur:37).</span></p>
</li>
<li>Imam Ibnu Katsir berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli (berbisnis) dan meraih keuntungan (besar) dari mengingat (beribadah) kepada <i>Rabb</i> mereka (Allah <em>Ta’ala</em>) Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan) di sisi Allah <em>Ta’ala</em> adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi”<a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a>.</li>
<li>Bekerja dengan usaha yang halal, meskipun dipandang hina oleh manusia, lebih baik dan mulia daripada meminta-minta dan menjadi beban bagi orang lain<a href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a>. Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> bersabda: “<em>Sungguh jika salah seorang dari kalian mengambil tali, lalu pergi ke gunung (untuk mencari kayu bakar), kemudian dia pulang dengan memikul seikat kayu bakar di punggungnya lalu dijual, sehingga dengan itu Allah menjaga wajahnya (kehormatannya), maka ini lebih baik dari pada dia meminta-minta kepada manusia, diberi atau ditolak</em>”<a href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a>.</li>
<li>Mulianya sifat <i>‘iffah</i> (selalu menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta) serta tercelanya sifat meminta-minta dan menjadi beban bagi orang lain. Inilah sifat mulia yang ada pada para shahabat Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الأرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا</p>
<p>“<em>(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu (keadaan mereka) menyangka mereka orang kaya karena mereka memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak</em>” (QS al-Baqarah: 273).</p>
</li>
<li>Keutamaan berdagang (berniaga) yang halal, dan inilah pekerjaan yang disukai dan dianjurkan oleh Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> dan para shahabat <em>radhiallahu’anhum</em>, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih<a href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a>. Adapun hadits “<em>Sembilan persepuluh (90 %) rezki adalah dari perniagaan</em>”, maka ini adalah hadits yang lemah, sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh al-Albani<a href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a>.</li>
</ul>
<p align="CENTER"><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</span></span></span></p>
<p align="RIGHT">Kota Jakarta, 8 Jumadal ula 1434 H</p>
<div>
<p><sup><span><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote1anc">1</a><span> HSR al-Bukhari (no. 1966).</span></span></span></sup></p>
</div>
<div>
<p><sup><span><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote2anc">2</a><span> HSR Muslim (no. 2379).</span></span></span></sup></p>
</div>
<div>
<p><sup><span><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote3anc">3</a><span> Kitab “<em>Tahdzibul Kamal</em>” (16/20) dan “<em>Siyaru A’laamin Nubala’</em>” (8/387).</span></span></span></sup></p>
</div>
<div>
<p><sup><span><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote4anc">4</a><span> Kitab “<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>” (3/390).</span></span></span></sup></p>
</div>
<div>
<p><sup><span><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote5anc">5</a><span> Lihat kitab “<em>Bahjatun Naazhiriin</em>” (1/598).</span></span></span></sup></p>
</div>
<div>
<p><sup><span><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote6anc">6</a><span> HSR al-Bukhari (no. 1402) dan (no. 1410).</span></span></span></sup></p>
</div>
<div>
<p><sup><span><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote7anc">7</a><span> HR ath-Thabrani dalam “<em>Al-Mu’jamul Kabiir</em>” (23/300, no. 674) dan dinyatakan </span><span><i>jayyid</i></span><span> (baik/shahih) oleh syaikh al-Albani dalam “<em>Silsilatul Ahaa-ditsish Shahiihah</em>” (no. 2929).</span></span></span></sup></p>
</div>
<div>
<p><sup><span><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote8anc">8</a><span> Dalam “<em>Silsilatul Ahaa-ditsidh Dha’iifah</em>” (no. 3402).</span></span></span></sup></p>
<p> </p>
<p>Penulis: Abdullah bin Taslim al-Buthoni<br>
Artikel <a href="https://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
</div>
 