
<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.</p>
<p>Kaum muslimin yang kami muliakan, para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam keadaan beriman kepada beliau, dan mati dalam keadaan muslim. Mereka adalah generasi terbaik dari umat ini.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ</p>
<p><em>“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)</p>
<p>Para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah <em>Ta’ala</em>. Mereka telah diberikan anugerah yang begitu besar yakni kesempatan bertemu dan menemani Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em>Ta’ala</em> telah memilih mereka untuk mendampingi dan membantu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam menegakkan agama-Nya. Orang-orang pilihan Allah ini, tentunya memiliki kedudukan istimewa di bandingkan manusia yang lain. Karena Allah Ta’ala tidak mungkin keliru memilih mereka.</p>
<p>‘Abdullah Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.”</em> (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam <em>al-Musnad</em>, I/379, no. 3600. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan bahwa sanadnya shohih).</p>
<p>Para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang-orang yang paling tinggi ilmunya. Merekalah yang paling paham perkataan dan perilaku Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Merekalah manusia yang paling paham tentang Al-Qur’an, karena mereka telah mendampingi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala wahyu diturunkan, sehingga para sahabat benar-benar mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<h4><strong>Keberkahan Para Sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em></strong></h4>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah melimpahan keberkahan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan para sahabat yang begitu taat dan besar cintanya kepada beliau. Tidak ada satupun Nabi maupun para raja yang mendapatkan keberkahan seperti ini dari umatnya.</p>
<p>‘Urwah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, tatkala dulu masih kafir, dia berkata kepada kaumnya dan menceritakan bagaimana para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> begitu memuliakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dia mengatakan, “Wahai kaumku! Demi Allah, sungguh aku telah datang kepada para raja. Aku telah bertemu Kaisar, Kisra, dan an-Najasyi. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para sahabatnya melebihi apa yang dilakukan para sahabat Muhammad kepada Muhammad. Demi Allah, tidaklah Muhammad membuang dahak melainkan dahak itu jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia mengusapkannya ke wajah dan kulitnya. Jika Muhammad memerintahkan sesuatu kepada mereka, niscaya mereka melaksanakannya dengan segera. Jika Muhammad berwudhu, mereka hampir berkelahi memperebutkan tetesan airnya. Jika mereka berbicara, mereka memelankan suara di hadapannya. Mereka tidak berani menatapnya karena penghormatan mereka yang besar kepadanya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab <em>Asy-Syuruuth</em>, V/329-332).</p>
<p>Bandingkanlah kemuliaan mereka dengan para sahabat Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em>. Tatkala Nabi Musa mengajak mereka untuk beriman, mereka mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً (55)</p>
<p><em>“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.”</em> (QS. Al-Baqarah: 55)</p>
<p>Demikian pula ketika mereka diajak berjuang di jalan Allah, mereka berkata kepada Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em>,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">يَا مُوْسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوْا فِيْهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلاَ إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُوْنَ (24)</p>
<p><em>“… Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.”</em> (QS. Al-Maidah: 24)</p>
<p>Padahal orang-orang yang Allah <em>Ta’ala</em> ceritakan dalam ayat ini adalah 70 orang terbaik dari kaumnya Nabi Musa. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">وَاخْتَارَ مُوْسَى قَوْمَهُ سَبْعِيْنَ رَجُلاً لِمِيْقَاتِنَا … (155)</p>
<p><em>“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya..” </em>(QS. Al-A’raaf: 155).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa 70 orang ini adalah manusia terbaik dari Bani Israil dan manusia pilihan dari kaum Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em>. Akan tetapi, lihatlah sikap mereka kepada Nabinya, sampai-sampai Allah memberi teguran kepada mereka dengan bergetarnya bumi yang mereka pijak, sehingga Nabi Musa pun berkata kepada Allah Ta’ala,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا (155)</p>
<p><em>“Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang</em><em> </em><em>yang kurang berakal di antara kami?”</em> (QS. Al-A’raaf: 155)</p>
<p>Nabi Musa <em>‘</em><em>alaihis salam</em> menyebut mereka sebagai orang-orang yang  kurang akal (bodoh), sekali pun mereka adalah orang-orang pilihan dari kaumnya. Lantas, bagaimana menurut Anda dengan orang-orang yang bersama Nabi Musa, yang bukan pilihan?</p>
<p>Tentang penghormatan para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kita tidak akan mendapatkan bandingannya selama-lamanya. Bagaimana mereka menundukkan pandangannya dan memelankan suara di hadapan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Demikian pula bagaimana mereka begitu semangat meraih berkah dari riak dan sisa air wudhu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sampai mereka berebut.</p>
<p>Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>, perlu kami ingatkan bahwa mengambil berkah dari riak dan air bekas wudhu ini hanya berlaku bagi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan tidak berlaku pada orang lain. Tidak diperbolehkan seorang muslim mengambil berkah dari riak, sisa air wudhu atau sisa air minum ulama, kyai atau ustadznya. Oleh karena itu suatu kekeliruan jika para santri berebut sisa air minum kyainya karena dianggap ada berkah khusus pada minumannya. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita ke jalan yang lurus.</p>
<h4><strong>Kemuliaan Hati Para Sahabat</strong></h4>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengutus seseorang untuk bertanya kepada para istri beliau.</p>
<p>Mereka menjawab, “Kami hanya punya air.” Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salam</em> bersabda: <em>“Siapa berkenan menerima orang ini sebagai tamunya?”</em> Maka seorang laki-laki dari Anshar (yakni Abu Thalhah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>) mengatakan, “Saya bersedia.”</p>
<p>Lalu dia pulang membawa tamunya ke rumah. Dia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” Istrinya berkata, “Tapi kita tidak mempunyai makanan apa pun selain makanan anak-anak.”</p>
<p>Laki-laki itu berkata kepada istrinya, “Siapkan makanan, nyalakan lampu, tidurkanlah anak-anakmu jika kami hendak makan malam.” Maka istrinya menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.</p>
<p>Kemudian istrinya berdiri seolah-olah hendak memperbaiki lampunya, namun justru memadamkannya. Lalu laki-laki itu bersama istrinya menampakkan kepada tamunya bahwa mereka berdua juga ikut makan (padahal tidak makan). Di malam itu, keduanya bermalam dalam keadaan menahan lapar.</p>
<p>Di pagi hari, laki-laki itu berangkat kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Tadi malam Allah takjub kepada perbuatan kalian berdua. Maka Allah <em>Ta’ala</em> menurunkan (firman-Nya):</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;">وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ (9)</p>
<p><em>“Dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri,</em><em> </em><em>meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari</em><em> </em><em>kekikiran, maka mereka itulah orang orang yang beruntung.”</em> (QS.  Al-Hasyr: 9). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3798 dan Muslim, no. 2054)</p>
<p>Kedermawanan dan sifat mulia ini bukan hanya milik beberapa orang saja. Namun inilah sifat para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Penulis: Muhaimin Ashuri</p>
<p>Muroja’ah: <a href="http://ustadzaris.com">Ustadz Aris Munandar, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
 