
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam berumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dia tunaikan kepada istrinya. Kewajiban tersebut tidak hanya berkaitan dengan nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), sebagaimana yang disangka oleh sebagian (atau banyak) suami. Akan tetapi, terdapat kewajiban penting yang banyak dilalaikan oleh para suami, yaitu mendidik dan mengajarkan perkara atau kewajiban-kewajiban dalam agama kepada istrinya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29361-perekat-terkuat-antara-suami-dan-isteri-bukanlah-cinta-tapi-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi Agama</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Musthafa Al-‘Adawi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, “Seorang suami hendaknya mendidik (mengajarkan) istrinya hal-hal yang bermanfaat untuk perkara agama dan dunianya.” </span><b>(</b><b><i>Fiqh Ta’aamul baina Az-Zaujain, </i></b><b>hal. 10)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau berdalil dengan firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” </span><b>(QS. At-Tahriim [66]: 6)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu pula pesan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada Malik bin Huwairits </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">setelah Malik dan rombongannya datang ke Madinah untuk khusus belajar agama kepada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">selama kurang lebih dua puluh hari. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berpesan kepada Malik bin Huwairits ketika mau pulang ke kampung asalnya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kembalilah ke istrimu, tinggallah di tengah-tengah mereka, ajarkanlah mereka, dan perintahkanlah mereka.” </span><b>(HR. Bukhari no. 631, 7246, dan Muslim no. 674)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perkataan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَعَلِّمُوهُمْ</span></p>
<p><b>“Ajarkanlah mereka”;</b><span style="font-weight: 400;"> berkaitan dengan pengajaran (agama) secara teoritis. Istri dididik dan diajarkan tentang kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan perkara agama, misalnya perkara shalat, menutup aurat, adab berbicara dan keluar rumah, mendidik anak sesuai syariat, dan perkara-perkara agama yang lainnya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/33913-berhubungan-badan-suami-istri-itu-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Berhubungan Badan Suami-Istri Itu Sedekah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga mengajarkan kepada istri tentang haidh dan nifas, karena banyaknya kewajiban agama yang berkaitan dengan perkara ini. Seorang suami hendaknya bisa mengajarkan dan memberi tahu istrinya, apakah ini darah haidh, ataukah darah istihadhah (darah penyakit), sehingga istri mengetahui kapan shalat dan kapan tidak shalat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan perkataan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمُرُوهُمْ</span></p>
<p><b>“Perintahkanlah mereka”;</b><span style="font-weight: 400;"> ini lebih berkaitan dengan praktek (pengamalan) di dunia nyata. Karena tidak semua istri yang sudah diajarkan secara teoritis kemudian mengamalkannya. Sehingga menjadi kewajiban suami adalah mengingatkan, menegur dan memerintahkan istri ketika dia jumpai istrinya lalai dalam melaksanakan perkara-perkara yang wajib baginya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Adzim Al-Badawi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzhahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di antara hak istri yang menjadi kewajiban suami adalah suami memerintahkan istri untuk menegakkan agamanya dan menjaga shalatnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan perintahkanlah kepada istrimu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” </span><b>(QS. Thaaha [20]: 132)” (</b><b><i>Al-Wajiiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz, </i></b><b>hal. 356)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26985-bolehkah-melihat-gambar-porno-demi-kepuasan-hubungan-suami-istri.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami Istri?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Peran suami adalah sebagai pendidik dalam keluarganya. Fungsi sebagai pendidik dalam keluarga ini tidaklah bisa berjalan sebagaimana mestinya kalau suami suka atau hobi “keluyuran” ke luar rumah, meninggalkan anak dan istri tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Misalnya, suami yang hobi naik gunung sampai berhari-hari, traveling (hanya sekedar jalan-jalan tanpa ada keperluan khusus), atau hobi-hobi yang lain sehingga suami banyak meninggalkan anak dan istri di rumah dan tidak mengawasi mereka secara langsung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berpesan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَأَقِيمُوا فِيهِمْ</span></p>
<p><b>“Tinggallah di tengah-tengah mereka.”</b></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Jika suami tidak mampu mengajarkan perkara agama kepada istri</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika suami tidak mampu mengajarkan agama kepada istri, maka kewajiban suami adalah mencarikan seseorang (misalnya, ustadz atau ustadzah) yang bisa mengajarkan perkara agama kepada istrinya. Atau suami mengizinkan istrinya untuk menghadiri majelis ilmu (pengajian) sehingga istri bisa belajar perkara agamanya. Dan jika ada kebutuhan mendesak untuk meminta fatwa berkaitan dengan kejadian yang dialami istri (misalnya, apakah darah yang keluar adalah darah haidh ataukah bukan), maka kewajiban suami adalah menanyakan kepada orang yang berilmu tentangnya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26779-fatwa-ulama-bolehkah-istri-minta-cerai-karena-suami-poligami.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Istri Minta Cerai Karena Suami Poligami?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Adzim Al-Badawi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzhahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hak istri yang menjadi kewajiban suami adalah suami mengajarkan istri mengajarkan perkara-perkara </span><i><span style="font-weight: 400;">dharuri </span></i><span style="font-weight: 400;">(yang wajib diketahui) berkaitan dengan perkara agama, </span><b>atau suami mengijinkan istri untuk menghadiri majelis ilmu. </b><span style="font-weight: 400;">Karena kebutuhan istri untuk memperbaiki agamanya dan membersihkan (menyucikan) jiwanya tidaklah lebih remeh dibandingkan kebutuhan istri terhadap makanan dan minuman yang wajib dipenuhi oleh suami. Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” </span><b>(QS. At-Tahriim [66]: 6)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Istri termasuk dalam cakupan kata </span><i><span style="font-weight: 400;">“ahlun”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (dalam ayat di atas). Sehingga suami wajib menjaga istri dari api neraka dengan iman dan amal shalih. Sedangkan amal shalih itu harus dengan bekal ilmu dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ma’rifat </span></i><span style="font-weight: 400;">(pengetahuan), sehingga memungkinkan bagi istri untuk menunaikan dan melaksanakannya sesuai dengan apa yang dituntut oleh syariat.” </span><b>(</b><b><i>Al-Wajiiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz, </i></b><b>hal. 356)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23874-fatwa-ulama-dalam-membelanjakan-uangnya-perlukah-istri-minta-izin-suami.html" data-darkreader-inline-color="">Dalam Membelanjakan Uangnya Perlukah Istri Minta Izin Suami?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23592-istri-yang-taat-suami-dijamin-surga.html" data-darkreader-inline-color="">Istri yang Taat Suami Dijamin Surga</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 20 Syawwal 1440/24 Juni 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 