
<h2 style="text-align: center;"><strong>(NASIHAT RAMADAN)</strong></h2>
<h2 style="text-align: center;"><strong>JANGAN SAMPAI AMALAN SUNNAHMU MELALAIKAN DARI YANG WAJIB!</strong></h2>
<h3><strong>Khotbah Pertama</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</span></p>
<p><em>Ma’asyiral Muslimin,</em> jemaah masjid yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Terutama menjaga ketakwaan kita di bulan Sya’ban ini, agar nantinya diri kita siap menyambut datangnya bulan Ramadan yang mulia.</p>
<p>Ramadan sebentar lagi akan menghampiri kita, bulan yang penuh berkah dan keutamaan, bulan di mana setiap amalan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah <em>Ta’ala</em>, dan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dosanya dari bulan-bulan sebelumnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>Rahimahullah </em>menyebutkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان</span></p>
<p><em>“Maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.”</em> (<em>Al-Adab As-Syar’iyah</em>, 3: 430)</p>
<p>Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Di antaranya, firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ</span></p>
<p><em>“Barangsiapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” </em>(QS. Al-Hajj: 25)</p>
<p>Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan zalim di tanah haram Mekah, Allah <em>Ta’ala </em>beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kezaliman itu. Alasannya, karena orang ini melakukan kezaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia, yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (<em>Tafsir As-Sa’di</em>, hlm. 535).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/72350-khutbah-jumat-empat-dosa-besar-yang-sering-diremehkan.html" data-darkreader-inline-color="">Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering Diremehkan</a></strong></p>
<p>Begitu pula dengan bermaksiat di bulan Ramadan, maka dia telah melakukan dua kesalahan:</p>
<p><strong>Pertama, </strong>melanggar larangan Allah.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.</p>
<p>Sehingga dosanya lebih berat dari bermaksiat di selain bulan Ramadan.</p>
<p><em>Ma’asyiral Muslimin,</em> jemaah masjid yang dirahmati Allah.</p>
<p>Di antara keteledoran dan kesalahan yang sering dilakukan oleh seorang muslim di dalam bulan Ramadan adalah salah prioritas di dalam beribadah. Entah itu karena ketidaktahuan ataupun karena terlalu semangatnya dia di dalam melakukan amalan, seringkali akhirnya orang tersebut mengorbankan dan mengalahkan ibadah yang wajib karena terlalu disibukkan dengan amalan-amalan sunah.</p>
<p>Sering kita jumpai, mereka yang rajin melaksanakan <em>qiyamullail</em> dan salat tarawih, tetapi bermalas-malasan melaksanakan salat wajib lima waktu secara berjemaah di masjid. Bergadang malam di bulan Ramadan untuk membaca Al-Qur’an, namun terlewat dari salat subuh berjemaah. Tentu saja hal seperti ini adalah keliru.</p>
<p>Sungguh banyak sekali ayat dan hadis yang menunjukkan tentang wajibnya salat lima waktu secara umum, dan tentang keutamaan salat berjemaah secara khusus. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”</em> (QS. An-Nisa’: 103)</p>
<p>Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah salatnya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ</span></p>
<p><em>“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka seluruh amalnya baik dan jika salatnya rusak, maka seluruh amalnya rusak.”</em> (HR. Ath-Thobrani, <em>Ash-Shahihah</em>: 1358)</p>
<p>Adapun hadis-hadis mengenai keutamaan salat jemaah secara khusus adalah:</p>
<p><strong>Pertama, </strong>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pernah bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً. </span></p>
<p><em>“Salat berjemaah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada salat sendirian.”  </em>(HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)</p>
<p><strong>Kedua, </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ. </span></p>
<p><em>‘Barangsiapa pergi (berangkat) ke masjid baik di waktu pagi atau sore hari, maka Allah menyediakan baginya hidangan di surga setiap kali ia berangkat di waktu pagi atau sore hari.” </em>(HR. Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669)</p>
<p><strong>Ketiga, </strong>dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ. </span></p>
<p><em>“Barangsiapa salat jemaah dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan mendapati takbir pertama (takbiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.”</em> (Hasan. HR. At-Tirmidzi no. 241. Lihat <em>Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah</em> no. 2652)</p>
<p>Dari ayat dan hadis di atas jelas sekali menyebutkan bahwa salat wajib lima waktu merupakan kewajiban yang harus diprioritaskan oleh seorang mukmin, terlebih di bulan Ramadan. Sehingga ketika ia mengorbankan salat wajib ini karena ibadah yang sifatnya sunah, sungguh itu merupakan kesalahan dan kezaliman di dalam beribadah. <em>Wal’iyyadzu Billah …</em></p>
<p><em>Maasyiral Mukminin rahimakumullah</em><em>…</em></p>
<p>Syekh Abdul Aziz bin Baaz <em>Rahimahullah </em>pernah ditanya tentang permasalahan ini, lalu beliau memberikan nasehat yang sangat indah,</p>
<p><em>“Ini adalah kesalahan besar. Seorang muslim harus lebih menjaga kewajiban dan lebih memperhatikannya, rajin melakukan apa yang Allah wajibkan, waspada dan menghindari  apa yang dilarang Allah. Dan apabila ia diberikan rezeki oleh Allah Ta’ala di dalam perihal menjaga dan  memperhatikan amalan sunah, maka ini merupakan kebaikan setelah kebaikan. Akan tetapi, kewajiban haruslah lebih ia perhatikan, seperti salat wajib, zakat, puasa Ramadan, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Kemudian haruslah dia berhati-hati dari bermalas-malasan dan bermudah-mudahan di dalam perkara yang wajib. Adapun amalan sunah, maka perkaranya lebih luas. Jika Allah mudahkan baginya untuk melakukannya, maka hendaklah ia memuji Allah Ta’ala. Adapun jika ia tidak bisa dan tidak mampu, maka tidak ada keberatan dan dosa baginya.”</em></p>
<p>Terdapat sebuah hadis dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em> bahwasannya Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،</span></p>
<p><em>“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” </em>(HR. Bukhari no. 6502)</p>
<p><em>Ma’asyiral Muslimin,</em> jemaah masjid yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Hadis ini menekankan bahwasanya tidak ada amalan yang lebih utama dari apa-apa yang telah Allah wajibkan kepada hambanya. Sehingga tidak masuk akal ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah <em>Ta’ala </em>dengan suatu amalan yang mubah ataupun sunah, namun di waktu yang sama orang tersebut meremehkan yang wajib. Padahal hal ini sudah Allah <em>Ta’ala </em>perintahkan dan wajibkan baginya. Maka, tidaklah terwujud ketaatan kepada Allah <em>Ta’ala</em>, kecuali dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Karena hal tersebut merupakan pembeda antara hamba yang taat dan hamba yang suka maksiat.</p>
<p>Sedangkan amalan <em>nawafil</em> (sunah) tidaklah Allah <em>Ta’ala </em>syariatkan, kecuali sebagai pelengkap dan penyempurna ketaatan pada hal yang wajib dan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah <em>Ta’ala</em> serta bukti cinta kita kepada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/71587-sunnah-yang-sering-ditinggalkan.html" data-darkreader-inline-color="">Teks Khotbah Jumat: Sunah yang Sering Ditinggalkan</a></strong></p>
<p>Dalil lain yang menunjukkan tentang pentingnya mendahulukan yang wajib dari yang sunah adalah hadis riwayat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قيلَ للنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ و سلَّمَ : يا رَسولَ اللهِ ! إنَّ فلانةَ تقومُ اللَّيلَ و تَصومُ النَّهارَ و تفعلُ ، و تصدَّقُ ، و تُؤذي جيرانَهابلِسانِها ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليهِ و سلم لا خَيرَ فيها ، هيَ من أهلِ النَّارِ . قالوا : و فُلانةُ تصلِّي المكتوبةَ ، و تصدَّقُ بأثوارٍ ، و لا تُؤذي أحدًا ؟ فقال رسولُ اللهِ : هيَ من أهلِ الجنَّةِ</span></p>
<p><em>“Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah rajin salat sunah malam, puasa di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, tetapi ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?’ Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tiada kebaikan padanya. Dia termasuk penghuni neraka.’ Mereka bertanya lagi, ‘Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) salat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorang pun?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dia termasuk penghuni surga.’” </em>(HR. Ahmad no. 9675 dan Bukhari di dalam <em>Al-Adab Al-Mufrod</em>: 119)</p>
<p>Banyaknya perempuan tersebut di dalam melakukan amalan (sunah) tidaklah menyelamatkan dirinya dari api neraka, dikarenakan pada waktu bersamaan dia abai dan lalai dari hak-hak tetangganya (yang mana hal tersebut hukumnya wajib untuk diperhatikan). Sungguh Allah <em>Ta’ala</em> tidak akan mencintai seseorang yang lalai dalam perkara wajibnya walaupun amalan sunah yang ia kerjakan sangatlah banyak.</p>
<p><em>Maasyiral Mukminin rahimakumullah.</em></p>
<p>Sungguh miris, pengetahuan skala prioritas dalam beribadah seperti ini sangatlah tidak diperhatikan oleh kaum muslimin di zaman sekarang. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> menjadikan diri kita hamba yang cerdas dalam beribadah, hamba yang mengetahui skala prioritas dalam beribadah, sehingga diri kita lebih bijak di dalam beramal, <em>Amiin Ya Rabbal Aalamiin.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ</span></p>
<h3><strong>Khotbah Kedua</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/70353-jumlah-minimal-jamaah-shalat-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Jumlah Minimal Jemaah Salat Jumat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/68744-sunnah-menghadapkan-wajah-ke-arah-khatib-shalat-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Sunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat Jumat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muhammad Idris Lc.</span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 