
<p>Bada Ramadhan, tekad kita harusnya bisa meraih SURGA FIRDAUS.</p>
<p> </p>
<h3>Khutbah Pertama</h3>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p><em>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</em></p>
<p> </p>
<p><em>Jama’ah rahimani wa rahimakumullah, jama’ah yang senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah …</em></p>
<p>Di hari yang penuh berbahagia ini, 1 Syawal 1438 H …</p>
<p>Kita bersyukur pada Allah akan nikmat yang begitu banyak telah dikaruniakan. Walhamdulillah, sebulan penuh kita telah selesai menjalankan ibadah puasa, shalat malam, merenungkan Al-Qur’an hingga memperbanyak sedekah. Saat ini yang dipikirkan adalah bagaimana kita bisa terus mengoreksi diri, lalu menjadi lebih baik selepas Ramadhan, dan terus bisa menjaga amal shalih kita supaya tetap langgeng dan istiqamah.</p>
<p> </p>
<p>Untuk tujuan itu, dalam khutbah kali ini, kami ingin memotivasi jama’ah shalat Idul Fithri sekalian mengenai suatu surga yang disebut <strong>SURGA FIRDAUS</strong>. Kenapa demikian? Agar selepas Ramadhan ini, kita terus semangat beramal, terutama melakukan amalan untuk menggapai surga Firdaus.</p>
<p> </p>
<h3>Tahu Surga Firdaus?</h3>
<p>Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ فِى الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِى سَبِيلِهِ ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya di surga itu ada 100 tingkatan yang telah Allah janjikan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan adalah bagaikan jarak antara langit dan bumi. Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surga Firdaus. Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman, darinya pula mengalir sungai surga</em>.” (HR. Bukhari, no. 7423)</p>
<p>Dikatakan oleh sebagian salaf bahwa suatu kebun tidaklah disebut Firdaus melainkan di situ terdapat anggur. (<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 5: 452)</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p><em>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</em></p>
<p> </p>
<p><em>Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …</em></p>
<p> </p>
<h3>Bagaimana Memasuki Surga Firdaus?</h3>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)</p>
<p>“<em>Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya</em>.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11)</p>
<p> </p>
<p><em>Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …</em></p>
<p> </p>
<p>Dari ayat di atas, untuk masuk dalam surga Firdaus, ada enam sifat yang harus kita miliki.</p>
<p> </p>
<h4>Pertama: Khusyu’ dalam shalat</h4>
<p>Khusyu’ artinya berdiri di hadapan Allah dalam keadaan tunduk, merendahkan diri dan tenang.</p>
<p>Dulu para sahabat biasa mengangkat pandangannya ke langit-langit dalam shalat. Ketika turun awal surat Al-Mu’minun (ayat 1 dan 2), barulah mereka menundukkan pandangan mereka dengan memandang ke tempat sujud.</p>
<p>Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti tenang. ‘Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti khusyu’nya hati. Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa khusyu’ itu dalam hati yang membuat anggota tubuh kita menjadi ikut tunduk. Lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 5: 448.</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>menyatakan dalam halaman yang sama bahwa khusyu’ itu bisa digapai jika hati kita tidak memikirkan hal-hal di luar shalat, dan mementingkan shalat saja daripada berbagai perkara di luar shalat.</p>
<p>Khusyu’ sendiri ada dua macam, yaitu khusyu’ pada lahiriyah dan khusyu’ dalam batin.</p>
<p><strong>Khusyu’ pada lahiriyah</strong> bisa digapai dengan keadaan yang tenang dan tidak banyak melakukan gerakan sia-sia dalam shalat (seperti memandang ke langit-langit, menoleh kanan-kiri, banyak gerak yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan). Khusyu’ lahiriyah juga bisa dicapai dalam bentuk tidak mendahului, berbarengan dan telat dari imam karena yang diperintahkan adalah <em>mutaba’ah</em> (mengikuti) imam.</p>
<p><strong>Khusyu’ dalam batin</strong> bisa digapai dengan menghayati kebesaran Allah, memikirkan makna ayat, dzikir dan do’a dalam shalat, dan tidak peduli pada was-was setan.</p>
<p>Para ulama katakan bahwa khusyu’ itu dibangun dari dalam batin dan akan berpengaruh pada <em>jawarih</em> (anggota badan). Jika kekhusyu’an dalam hati itu kurang, maka akan nampak pada anggota badan. Namun ingat, menampak-nampakkan diri kita khusyu’ tidak disukai karena tanda ikhlas adalah menyembunyikan kekhusyu’an. (Lihat bahasan dalam kitab <em>Irsyadul Musholli</em>, hlm. 228-229)</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita memiliki shalat yang khusyu’ yang jadi suatu kenikmatan dan penyejuk pandangan.</p>
<p> </p>
<h4>Kedua: Menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna</h4>
<p>Maksudnya di sini adalah menjauhkan diri dari kebatilan, termasuk kesyirikan. Juga termasuk menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berfaedah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449.</p>
<p>Syaikh As-Sa’di menyatakan bahwa jika dari yang sia-sia saja dijauhi, maka yang haram lebih pantas dijauhi. Lihat <em>Tafsir As-Sa’di</em>, hlm. 576.</p>
<p> </p>
<h4>Ketiga: Menunaikan zakat</h4>
<p>Yang dimaksud di sini adalah menunaikan zakat maal, yaitu zakat dari harta jika memang sudah terpenuhi syarat nishab dan syarat haul (bertahan selama satu tahun).</p>
<p>Perintah menunaikan shalat dengan khusyu’ dan menunaikan zakat menunjukkan bahwa kita tidak hanya mementingkan ibadah pada Sang Khaliq, namun juga hendaklah berbuat baik pada sesama dengan menolong yang susah lewat zakat. Lihat <em>Tafsir As-Sa’di</em>, hlm. 576.</p>
<p> </p>
<p><em>Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …</em></p>
<p> </p>
<h4>Keempat: Menjaga kemaluan dari zina</h4>
<p>Sifat keempat ini adalah mereka menjaga kemaluannya dari zina. Termasuk dalam hal ini kata Syaikh As-Sa’di <em>rahimahullah </em>adalah menjaga diri <strong>hal-hal yang mengantarkan pada zina</strong> seperti memandang lawan jenis (dengan syahwat) dan bersentuhan dengan lawan jenis. Kemaluan tadi dijaga pada setiap orang kecuali pada istri dan budak yang halal untuknya.</p>
<p>Ini juga jadi dalil kata Syaikh As-Sa’di bahwa <strong>nikah mut’ah</strong> (kawin kontrak) itu haram seperti yang dilakukan oleh orang Syi’ah (Rafidhah). Pada kawin kontrak yang dinikahi adalah bukan istri sejati yang maksudnya untuk tetap selamanya. Lihat bahasan dalam <em>Tafsir As-Sa’di</em>, hlm. 576.</p>
<p>Hakikat nikah mut’ah adalah zina berkedok nikah.</p>
<p>Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan larangan melakukan <strong><em>liwath</em></strong> (hubungan yang dilakukan dengan sesama jenis) seperti yang terjadi di masa Nabi Luth <em>‘alaihis salam</em>. Lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 5: 449.</p>
<p>Ayat ini menunjukkan larangan untuk melakukan <strong>onani</strong>, yaitu mengeluarkan mani secara paksa dengan tangan. Ini jadi dalil dari Imam Syafi’i rahimahullah dikarenakan dalam ayat hanya dibolehkan syahwat dengan kemaluan disalurkan pada istri atau hamba sahaya yang dimiliki. Lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 5: 450.</p>
<p> </p>
<h4>Kelima: Memperhatikan amanat dan janji</h4>
<p>Sifat orang beriman lagi tidaklah meniru sifat orang munafik. Sifat orang beriman adalah ketika diberi amanat, ia tidak khianat; ketika berjanji dan membuat akad, maka ia menunaikannya.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ</p>
<p>“<em>Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat</em>.” (HR. Muslim, no. 59)</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ</p>
<p>“<em>Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim</em>.” (HR. Muslim, no. 59)</p>
<p> </p>
<p><em>Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …</em></p>
<p> </p>
<h4>Keenam: Menjaga shalat</h4>
<p>Sifat yang terakhir adalah mereka merutinkan shalat pada waktunya.</p>
<p>Dalam hadits disebutkan, “Ibnu Mas’ud pernah bertanya pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ »</p>
<p>“Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?”</p>
<p>Jawab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Shalat pada waktunya.”</p>
<p>“Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud.</p>
<p>Jawab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Kemudian berbakti pada kedua orang tua.”</p>
<p>“Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud.</p>
<p>Jawab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 5970 dan Muslim. no. 85)</p>
<p> </p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong>, orang yang beruntung mendapatkan surga Firdaus:</p>
<p>1- Orang yang shalatnya khusyu’.</p>
<p>2- Orang yang menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna.</p>
<p>3- Orang yang menunaikan zakat.</p>
<p>4- Menjaga kemaluan dari zina.</p>
<p>5- Memperhatikan amanat dan janji.</p>
<p>6- Orang yang menjaga shalat.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p><em>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</em></p>
<p> </p>
<p><em>Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …</em></p>
<p> </p>
<p>Demikian khutbah pertama ini.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ</p>
<h2></h2>
<h3>Khutbah Kedua</h3>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p style="text-align: center;"><em>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</em></p>
<p> </p>
<p><em>Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa diberkahi oleh Allah …</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Coba perhatikan dalam surat Al-Mu’minun ayat 1-11, sifat orang yang memasuki surga Firdaus diawali dengan perkara shalat dan di akhiri pula dengan perkara shalat. Ibnu Katsir menyatakan bahwa itulah yang menunjukkan keutamaan shalat, sebagaimana disebut dalam kitab tafsirnya, 5: 450.</p>
<p>Dari Tsauban <em>radhiyallahu ‘</em>anhu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ</p>
<p>“<em>Istiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya. Beramallah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat, dan tidak ada yang menjaga wudlu kecuali orang mukmin</em>.” (HR. Ibnu Majah, no. 277)</p>
<p>Orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas (ada enam sifat) itulah yang dijanjikan surga Firdaus,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)</p>
<p>“<em>Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya</em>.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11)</p>
<p>Selepas Ramadhan ini, marilah enam sifat di atas kita gapai, semoga Allah memudahkan kita untuk masuk dalam surga Firdaus, surga yang paling utama dan paling tinggi.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p><em>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</em></p>
<p> </p>
<p>Marilah kita tutup khutbah ied kali ini dengan doa, moga Allah perkenankan setiap doa-doa kita di hari yang penuh berbahagia ini.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Irsyadul Musholli ila Shollu Kama Roaytumuni Usholli</em>. Cetakan pertama, tahun 1435 H. Sulaiman bin Muhammad An-Nashoyyan. Penerbit Dar An-Nashihah.</p>
<p><em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</p>
<p><em>Tafsir As-Sa’di</em>. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.</p>
<p>—</p>
<h4>Silakan Download Naskah Khutbah Idul Fithri 1438 H</h4>
<h3><a href="https://drive.google.com/open?id=0B9oseLiRmE7sdzRKXzZpZ09yMmc" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Khutbah Idul Fitri: Bada Ramadhan Meraih Surga Firdaus</a></h3>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>Disusun <a href="https://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul</a>, Malam Jumat, 28 Ramadhan 1438 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></p>
 