
<p>Ternyata filosofi Jawa sangat menarik untuk ditelusuri, apalagi kalau kita merenungkan masalah umur dan angka dalam bahasa Jawa. Kita bisa membandingkannya pula dengan ajaran Islam. Silakan simak dalam naskah khutbah Idul Fitri 1437 dari Ustadz M. Abduh Tuasikal berikut ini.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Khutbah Pertama</span></h4>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</p>
<h2></h2>
<h4>Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga dirahmati oleh Allah,</h4>
<p> </p>
<p>Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur panjang, kesehatan sehingga kita semua bisa berkumpul di tempat yang moga dimuliakan ini di hari kemenangan kita -hari Idul Fithri-, moga-moga kita termasuk insan yang mau memanjatkan rasa syukur kita pada Allah Ta’ala.</p>
<p>Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan dan suri teladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, juga pada para sahabat dan yang mengikuti Nabi dengan baik hingga akhir zaman.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا</p>
<p>Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.</p>
<p> </p>
<p>Kita ketahui bersama bahwa umur kita itu terbatas. Kita tinggal di dunia ini bagaikan seorang yang asing, atau sebagai seorang yang jadi pengembara.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah memegang pundaknya, lalu berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ</p>
<p><em>“Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.”</em></p>
<p>Ibnu ‘Umar lantas berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ</p>
<p>“<em>Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu</em>.” (HR. Bukhari, no. 6416)</p>
<p>Kita sebagai orang Jawa kadang tidak merenungkan sebutan angka yang sering kita ucapkan keseharian. Ternyata ada beberapa penyebutan angka yang sangat unik yang mengandung filosofi yang luar biasa.</p>
<p>Kali ini filosofi tersebut akan kita kaitkan dengan ajaran Islam.</p>
<h1></h1>
<h4>Bilangan Belasan</h4>
<p> </p>
<p>Bilang belasan dalam bahasa Jawa tidak disebut dengan sepuluh siji, sepuluh loro, sepuluh telu, dst. Namun diikuti dengan kata <strong>welas</strong>. Apa maksudnya? Sejak umur sebelas seterusnya, anak-anak sudah diajarkan untuk memiliki sifat belas kasihan. Welas itu berarti <strong>welas asih</strong>.</p>
<p>Yang diajarkan dalam Islam pun sama,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ</p>
<p>“<em>Siapa yang tidak menyayangi yang lain, maka tidak akan disayangi.</em>” (HR. Bukhari, no. 6013)</p>
<p>Lihatlah yang ada pada masa sahabat yang masih anak-anak (alias: pemuda). Sa’id bin Jubair mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا</p>
<p>Ibnu ‘Umar pernah melewati para pemuda. Saat itu mereka sedang menggantungkan burung lantas mereka menjadikan burung tadi sasaran lempar (tembak). Lantas anak panah yang ada akan jadi milik si empunya burung. Ketika Ibnu ‘Umar melihat mereka, mereka lantas berpencar. Ibnu ‘Umar lantas mengatakan, “Siapa saja yang melakukan seperti itu, maka Allah akan melaknatnya. Siapa saja yang melakukan seperti itu, maka Allah akan melaknatnya. Karena ingatlah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaknat orang yang menjadikan hewan bernyawa sebagai sasaran tembak.” (HR. Muslim, no. 1958)</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</p>
<p> </p>
<h4>Bilangan Dua Puluh</h4>
<p> </p>
<p>Dalam bahasa Indonesia angka dua puluhan biasa diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua dan seterusnya, namun dalam bahasa jawa disebut selikur, rolikur dan seterusnya dengan akhiran <strong>likur</strong>. Menurut beberapa cerita likur memiliki arti “<strong>lingguh kursi”</strong> di mana pada usia 20-an seseorang mendapatkan kursi berupa kepribadian, pekerjaan, profesi dan yang lainnya.</p>
<p>Karena memang usia 20-an, anak sudah mulai disuruh bekerja dan mandiri. Dalam Islam pun diperintahkan untuk bekerja dan mencari yang halal.</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ</p>
<p>“<em>Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram</em>.” (HR. Ibnu Majah no. 2144. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).</p>
<p>Jadi jangan sampai asal kerja, yang penting cari rezeki, namun tak mengindahkan halal-haram. Juga ada yang bekerja yang penting dapat penghasilan sampai meninggalkan shalat dan meninggalkan puasa.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</p>
<p> </p>
<h4>Bilangan Dua Puluh Lima</h4>
<p> </p>
<p>Angka dua puluhan dalam bahasa jawa diakhiri dengan kata likur, namun kenapa angka 25 tidak disebut dengan limanglikur? Masyarakat Jawa menyebut 25 dengan sebutan <strong>selawe</strong>. Ingatlah ketika umur selawe itu masa “<strong>seneng-senenge lanang lan wedok</strong>”. Pada usia tersebut dalam masyarakat Jawa dianggap sebagai umur ideal untuk sebuah pernikahan.</p>
<p>Namun senang-senangnya <em>lanang lan wedok</em> bukan dengan jalan pacaran, bukan dengan jalan perkenalan bebas tanpa aturan, bahkan sampai berzina. Karena Allah jelas melarang mendekati zina. Mendekatinya saja tidak boleh apalagi sampai berbuat zina. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk</em>.”(QS. Al-Isra’: 32)</p>
<p>Ingatlah peringatan Allah …</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ</p>
<p>“<em>Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin</em>.” (QS. An Nur: 3)</p>
<p>Bahayanya menikah dalam keadaan hamil,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لاَ تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً</p>
<p>“<em>Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro’nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh</em>.” (HR. Abu Daud, no. 2157. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)</p>
<p>Juga bahayanya berakhibat pada anak yang dilahirkan. Akhirnya anak tersebut statusnya adalah anak tanpa bapak. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ</p>
<p>“<em>Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian</em>.” (HR. Bukhari, no. 6749 dan Muslim, no. 1457)</p>
<p>Marilah kita jaga anak keturunan kita dari berbuat zina.</p>
<p> </p>
<h4>Bilangan Lima Puluh</h4>
<p> </p>
<p>Bilangan puluhan dalam bahasa jawa sering menyebunya sepuluh, rongpuluh, telongpuluh, patangpuluh, dan seterusnya. Namun anehnya ketika sampai pada angka 50 orang Jawa tidak menyebutnya dengan limangpuluh. Mereka menyebutnya dengan <strong>seket</strong>, kenapa? Arti dari seket adalah “<strong>seneng kethunan</strong>” atau sering memakai peci, topi maupun penutup kepala yang lain, yang artinya menandakan umur sudah tua waktunya untuk banyak beribadah.</p>
<p> </p>
<h4>Bilangan Enam Puluh</h4>
<p> </p>
<p>Ketika puluhan biasa disebut dengan sepuluh, rongpuluh, telongpuluh, dst, ada satu bilangan aneh lagi yaitu 60. Masyarakat jawa tidak menyebutnya dengan nempuluh. Namun mereka menyebutnya dengan <strong>sewidak</strong>. Ternyata arti dari sewidak tersebut adalah “<strong>sejatine wis wayahe tindak</strong>” atau sesungguhnya sudah saatnya pergi. Menurut masyarakat Jawa jika sudah berumur 60 sudah waktunya untuk banyak beribadah dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, menikmati hidup yang diberikan.</p>
<p> </p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ</p>
<p>“Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>)</p>
<p>Artinya, umur 50 apalagi 60 tahun harusnya makin dekat pada Allah.</p>
<p>Ingatlah, mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فَإِنَّهُ مَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ فِى ضَيْقِ مِنَ العَيْشِ إِلاَّ وَسَعَهُ عَلَيْهِ وَلاَ فِى سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهُ عَلَيْهِ</p>
<p>“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani).</p>
<p>Juga peringatan dari Allah <em>Ta’laa</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ</p>
<p>“<em>Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi arang-orang yang zalim seorang penolong pun.</em>” (QS. Fathir: 37).</p>
<p> </p>
<h4>Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,</h4>
<p> </p>
<p>Demikian khutbah pertama ini.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ</p>
<h1></h1>
<h4><span style="color: #ff0000;">Khutbah Kedua</span></h4>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.</p>
<p> </p>
<h4>Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa istiqamah di jalan Allah,</h4>
<p> </p>
<p>Kami ingatkan dalam khutbah kedua ini agar kita tetap istiqamah dalam ibadah. Jangan sampai kenyataan ibadah kita setelah Ramadhan sebagaimana tujuh hal berikut:</p>
<p>1- Malas shalat, apalagi shalat shubuh karena tidak punya kebiasaan lagi makan sahur.</p>
<p>2- Masjid mulai sepi bahkan tidak sedikit masjid yang tidak ada kumandang azan.</p>
<p>3- Shalat malam sudah enggan.</p>
<p>4- Puasa sunnah sudah tidak mau karena merasa cukup dengan puasa Ramadhan saja.</p>
<p>5- Al-Qur’an ditinggalkan, tidak dibaca, tidak dihafalkan atau tidak direnungkan.</p>
<p>6- Lisan, mata, pendengaran sulit dijaga.</p>
<p>7- Maksiat kembali berulang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kemudian kami ingatkan pula untuk melakukan puasa Syawal sebanyak enam hari. Sebagaimana dalam hadits dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshori, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh</em>.” (HR. Muslim, no. 1164)</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “Disunnahkan melakukannya secara berturut-turut di awal Syawal. Jika tidak berturut-turut atau tidak dilakukan di awal Syawal, maka itu boleh. Seperti itu sudah dinamakan melakukan puasa Syawal sesuai yang dianjurkan dalam hadits.” (<em>Al-Majmu’</em>, 6: 276)</p>
<p> </p>
<p>Akhirnya kami memohon kepada Allah <em>Ta’ala</em> agar senantiasa memberikan kita petunjuk dan taufik untuk tetap beramal shalih selepas Ramadhan ini.</p>
<p>Moga amalan kita di bulan Ramadhan yaitu amalan shalat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah dan lainnya diterima oleh Allah. Moga kita diberi keistiqamahan serta diberi keistimewaan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan berikutnya.</p>
<p> </p>
<p>Mari kita tutup khutbah Idul Fithri dengan doa, moga Allah perkenankan setiap doa kita di hari penuh kebaikan ini.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.</p>
<p>—</p>
<p>Pilihan Naskah Khutbah Shalat Idul Fithri oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 1 Syawal 1437 H (6 Juli 2016)</p>
<p>Silakan naskah khutbhah tersebut didownload dan dimanfaatkan: <a href="https://drive.google.com/open?id=0B9oseLiRmE7sbjZiVGt3cDNIY2M"><strong>di sini</strong></a>.</p>
<p> </p>
<p>Disusun <a href="https://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul</a> di pagi 1 Syawal 1437 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a>, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam</p>
<p> </p>
 