
<p>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/67535-kiat-kiat-agar-doa-dikabulkan-bag-6.html" data-darkreader-inline-color="">Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 6)</a></span></p>
<h2><strong>Kiat Kesebelas: Ber-<em>tawasul</em> dengan nama dan sifat Allah serta tauhid kepada-Nya</strong></h2>
<p><em>Tawassul</em> kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya merupakan <em>wasilah</em> yang penting agar doa bisa dikabulkan. Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan untuk melakukan hal ini melalui firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا</span></p>
<p>“<em>Hanya milik Allah al-asma’ul husna. Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut al-asma’ul husna tersebut.</em>“ (QS. Al-A’raf : 180)</p>
<p>Oleh karena itu, mayoritas doa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan juga para nabi sebelumnya memuat di dalamnya <em>tawasul</em> kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya. Doa yang dipanjatkan mengandung nama dan sifat Allah yang sesuai dengan permintaannya. Seperti doa Nabi Syu’aib <em>‘alaihis salam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ</span></p>
<p>“<em>Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.</em>“ (QS. Al-A’raf : 89)</p>
<p>Begitu juga dalam doa Nabi Isa <em>‘alaihis salam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ</span></p>
<p>“<em>Berilah kami rizki, dan Engkaulah pemberi rizki Yang Paling Utama.</em>” (QS. Al-Maidah: 114)</p>
<p>Nabi pernah mengajarkan doa kepada Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ</span></p>
<p><em>“Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang)‘.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sendiri juga mengajarkan kepada umatnya untuk ber<em>tawasul</em> kepada Allah dengan kandungan <em>al-asma’ul husna</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em><em> </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">مَا قَالَ عَبْدٌ قَطُّ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ وَحَزَنٌ</span></p>
<p><em>“Tidak ada seorang pun yang sedang dilanda kegundahan dan kesedihan, lalu mengucapkan doa ini,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي</span></p>
<p><em>”Ya Allah, sesungguhnya diri ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki Mu, dan anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu, hukum-Mu telah berjalan, dan keputusan-Mu merupakan keputusan yang adil. Aku memohon dengan seluruh nama-nama-Mu, yang Engkau namai diri-Mu, atau nama yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau telah Engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau nama yang masih Engkau simpan disisi-Mu, jadikan Al-Qur’an sebagi penentram jiwaku, cahaya hatiku, pelenyap duka dan lara ku.”</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا</span></p>
<p><em>“Tidaklah seseorang mengucapkan doa tersebut, melainkan Allāh akan hilangkan kesedihannya, dan akan jadikan kebahagiaan untuknya.”</em></p>
<p>Para sahabat berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا رَسُولَ اللهِ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ</span></p>
<p><em>“Wahai Rasulullah, seharusnya kita mempelajari dan menghafal doa tersebut.”</em></p>
<p>Beliau Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَجَلْ، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ</span></p>
<p><em>“Betul sekali, hendaknya seorang yang mendengar doa ini untuk mempelajarinya.“ </em>(HR. Ahmad, <em>sahih</em>)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa yang dimaksud ber-<em>tawasul</em> dengan tauhid adalah disyariatkan dan dianjurkan untuk ber-<em>tawasul</em> dengan wasilah tauhid yang agung ini, yaitu dengan tauhid dan keimanan kepada Allah. Ini merupakan salah satu bentuk <em>tawasul</em> yang paling agung dan mulia. Di antara yang mempertegas tentang <em>tawasul</em> ini adalah apa yang Allah <em>Ta’ala </em>sebutkan tentang doanya orang beriman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِياً يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ</span></p>
<p>“<em>Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu!’ Maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.</em>“ (QS. Ali Imran: 193)</p>
<p>Oleh karena itu, ketika Nabi mendengar ada orang yang berdoa,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللهمّ إنِّي أسألك بأنِّي أشهد أنَّك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد</span></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu, dengan saya bersaksi bahwa Engkau adalah Yang Berhak diibadahi, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa lagi Maha Sempurna Sifat-Nya, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, serta tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.”</em></p>
<p>Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لقد سألت الله بالاسم الأعظم الذي إذا سئل به أعطى و إذا دُعي به أجاب</span></p>
<p><em>“Sungguh Anda telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang teragung yang apabila Dia dimintai dengan (menyebut) nama-Nya tersebut, Dia akan memberinya, serta apabila Dia dimohon dengan (menyebut) nama-Nya tersebut, Dia akan mengabulkannya.”  </em>(HR. Abu Dawud, <em>sahih</em>)</p>
<p><strong>:Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/59343-berdoa-agar-tidak-hasad-kepada-saudaranya.html" data-darkreader-inline-color="">Berdoa agar Tidak Hasad Kepada Saudaranya</a></strong></p>
<h2><strong>Kiat Keduabelas: Berdoa diiringi dengan sedekah </strong></h2>
<p>Sedekah adalah perkara yang agung. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> besabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ</span></p>
<p>“<em>Sedekah secara sembunyi meredamkan amarah Allah.” </em>(HR. Ath-Thabrani, <em>sahih</em>)</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa hilangnya murka Allah pada hamba merupakan sebab terkabulnya doa dan dikabulkan permintaan.</p>
<p>Demikian juga dengan amal saleh yang lainnya yang disyariatkan bagi orang mukmin untuk ber-<em>tawasul</em> kepaada Allah dengan amal saleh tersebut.</p>
<h3><strong>Kiat Ketigabelas: Memilih doa dengan doa mustajab yang diajarkan Nabi </strong></h3>
<p>Setiap muslim, apabila memilih doa yang disebutkan oleh Nabi, kemudian berdoa dengan doa tersebut disertai kejujuran dan merasa butuh kepada Allah, maka insyaallah doanya tidak akan sia-sia.</p>
<p>Contohnya adalah doanya Nabi Yunus. Hal ini pernah disebutkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em> “<em>Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"> لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.</span></p>
<p><em>‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat aniaya.’</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah kabulkan baginya</em>.” (HR. Tirmidzi, <em>sahih</em>)</p>
<p>Dari Anas, dia pernah bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan mendengar ada seseorang yang berdoa,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.</span></p>
<p><em>“Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, Ya Hayyu Ya Qayyum . “</em></p>
<p>Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “<em>Sungguh ia telah berdoa pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdoa dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri</em>.” (HR. Abu Dawud , <em>sahih</em>).</p>
<h2><strong><span style="font-size: 18pt;">Penutup</span> </strong></h2>
<p>Demikianlah sejumlah kaidah atau ketentuan dan adab penting dalam berdoa yang dipaparkan oleh Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>. Hendaknya setiap muslim bersungguh-sungguh untuk berupaya di dalam doanya. Karena sesungguhnya tatkala terkumpul di dalamnya banyak sebab terkabulnya doa, maka hal ini kan membuahkan hasil sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam ungkapan beliau,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فان هذا الدعاء لا يكاد يردّ أبدا</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. “</em></p>
<p>Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi pokok pegangan urusan kami, perbaikilah urusan dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami, perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan kami mempunyai nilai tambah bagi kami dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematian kami sebagai kebebasan dari segala keburukan.</p>
<p><em>Allahu Ta’ala A’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiiyina Muhammad wa ‘ala Alihi wa shahbihi ajma’iin. </em></p>
<p><em>– Selesai –</em></p>
<p> </p>
<p>Sumber : <em>Al-Du’ā’ alladzī Lā Yurod </em> karya  Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr <em>hafidzahullah</em> yang diunduh dari : <a href="https://www.al-badr.net/ebook/192"><strong>https://www.al-badr.net/ebook/192</strong></a></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/58791-apakah-lebih-utama-berdoa-dengan-suara-keras-atau-pelan.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Lebih Utama Berdoa dengan Suara Keras atau Pelan?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/58823-bolehkah-berdoa-rahimahullah-untuk-seorang-muslim-yang-masih-hidup.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Berdoa “Rahimahullah” untuk Seorang Muslim yang Masih Hidup?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><span style="color: #000000; --darkreader-inline-color: #f2f0ed;" data-darkreader-inline-color="">Penulis:</span> <a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color="">dr. Adika Mianoki, Sp.S</a></strong></span></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><span style="color: #000000; --darkreader-inline-color: #f2f0ed;" data-darkreader-inline-color="">Artikel:</span><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 