
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya </strong> <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id/45157-kiat-kiat-meraih-shalat-khusyuk-bag-2.html">Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)</a></span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalat</span></h3>
<p>Seringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.</p>
<p>Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.</p>
<p>Misalnya, terdapat beberapa model bacaan <i>istiftah </i>ketika shalat. Seseorang bisa membaca,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ</span></p>
<p>“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” <b>(HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/8926-shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html">Shalat di Masjid yang Ada Kubur</a></span></p>
<p>Doa <i>istiftah</i> lain yang juga bisa diamalkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ</span></p>
<p>“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” <b>(HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)</b></p>
<p>Atau doa <i>istiftah </i>yang lain,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ</span></p>
<p>“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, <a href="https://muslim.or.id/6093-sembelihanku-hanya-untuk-allah.html">sembelihanku</a>, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” <b>(HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani)</b> <b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24680-fatwa-ulama-apakah-orang-sakit-dibolehkan-tidak-menghadiri-shalat-berjamaah-di-masjid.html">Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?</a></span></p>
<p>Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa <i>istiftah </i>A, di shalat yang lain membaca doa <i>istiftah </i>B, dan begitulah seterusnya. Namun,<strong> seseorang tidak boleh membaca semua doa <i>istiftah </i>tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></strong></p>
<p>Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,</p>
<p>“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah <a href="https://muslim.or.id/21619-keluar-dari-ahlus-sunnah-karena-menyelisihi-mainstream.html">menyelisihi sunnah</a>. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah <i>radhiyallahu ‘anhu </i>ketika bertanya kepada Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>“Doa apa yang Engkau baca?” Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” <b>(</b><b><i>Shifatus Shalat, </i></b><b>hal. 81)</b></p>
<p>Dapat diqiyaskan dalam doa <i>istiftah </i>ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.</p>
<p>Penulis <i>Kitaabul Adab </i>-Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</i></p>
<p>“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” <b>(</b><b><i>Kitaabul Adaab, </i></b><b>hal. 156)</b></p>
<p>Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. <b>[2]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/20097-fatwa-ulama-bolehlah-shalat-di-gereja-ketika-tidak-ada-masjid.html">Fatwa Ulama: Bolehlah Shalat Di Gereja Ketika Tidak Ada Masjid?</a></span></li>
<li>
<div><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/13053-shalat-jamaah-sahkah-di-selain-masjid.html">Shalat Jama’ah Sahkah di Selain Masjid?</a></span></div>
</li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p>@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018</p>
<p><b>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">M. Saifudin Hakim</a></b></p>
<p><strong>Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><b> </b>Disarikan dari kitab <b><i>Shifatush Shalaat,</i></b> karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <i>rahimahullahu Ta’ala, </i>hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.</p>
<p><b>[2] </b><b> </b>Untuk doa-doa <i>istiftah </i>yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:</p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="r10ox9TGCe"><p><a href="http://muslim.or.id/7934-macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html">Macam – Macam Doa Istiftah</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" src="http://muslim.or.id/7934-macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html/embed#?secret=r10ox9TGCe" data-secret="r10ox9TGCe" width="500" height="282" title="“Macam – Macam Doa Istiftah” — Muslim.Or.Id" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
 