
<p>Sebagian mengatakan bahwa kirim pahala bacaan Al Qur’an itu bermanfaat bagi mayit, maka akhirnya dibuatlah ritual selamatan. Sebagian lagi mengatakan bahwa bacaan seperti itu tidak bermanfaat, tidak sampai pada mayit karena ini adalah perkara ghoib dan masuk dalam perkara ibadah sehingga harus butuh dalil untuk menunjukkan sampainya. Tulisan <a href="undefined/" target="_blank"><span style="color: #0000ff;">Rumaysho.com</span> </a>kali ini akan mengupas permasalahan kirim pahala pada mayit dan mana saja yang bermanfaat untuk maksud tersebut.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Perselisihan Ulama dalam Masalah Kirim Pahala</span></h4>
<p>Para ulama berselisih pendapat mengenai boleh atau tidaknya kirim pahala pada mayit, apakah sampai ataukah tidak. Ada dua pendapat dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Pendapat pertama</strong>: Setiap amalan sholih yang dihadiahkan untuk mayit, maka pahalanya akan sampai. Contohnya: Kirim pahala bacaan Al Qur’an, puasa, shalat dan ibadah lainnya.</p>
<p><strong>Pendapat kedua</strong>: Setiap amalan sholih yang dihadiahkan untuk mayit itu sampai, <span style="text-decoration: underline;">namun yang hanya berdasarkan dalil</span>.<a href="file:///D:/Rumaysho.com%20Creation/00%20Buku%20Rumaysho.com/Amalan%20Seputar%20Mayit/Yasinan%2012%20Kirim%20Pahala%20pada%20Mayit.doc#_ftn1">[1]</a> Pendapat kedua ini menjadi pendapat ulama Syafi’iyah.</p>
<p>Pendapat kedua, itulah yang lebih tepat. Dalilnya adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى</p>
<p>“<em>Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya</em>.” (QS. An Najm: 39).</p>
<p>Begitu pula dalil lain yang mendukung adalah hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</p>
<p>“<em>Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh</em>” (HR. Muslim no. 1631).</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Amalan yang Sampai pada Mayit</span></h4>
<p>Berikut rincian beberapa amalan yang ada dalil menunjukkan manfaatnya amalan tersebut:</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">1- Haji dan Umrah</span></h4>
<p>Yang membicarakan tentang sampainya pahala haji dan umrah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَمَرَتِ امْرَأَةُ سِنَانَ بْنِ سَلَمَةَ الْجُهَنِىِّ أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ أُمَّهَا مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَيُجْزِئُ عَنْ أُمِّهَا أَنْ تَحُجَّ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّهَا دَيْنٌ فَقَضَتْهُ عَنْهَا أَلَمْ يَكُنْ يُجْزِئُ عَنْهَا فَلْتَحُجَّ عَنْ أُمِّهَا ».</p>
<p>Istri Sinan bin Salamah Al Juhaniy meminta bertanya pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tentang ibunya yang meninggal dunia dan belum sempat menunaikan haji. Ia tanyakan apakah boleh ia menghajikan ibunya. “Iya, boleh. Seandainya ibunya punya utang, lalu ia lunasi utang tersebut, bukankah itu bermanfaat bagi ibunya?! Maka silakan ia hajikan ibunya”, jawab Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (HR. An Nasai no. 2634, Ahmad 1: 217 dari hadits Abu At Tiyah, Ibnu Khuzaimah 3034, Sunan An Nasai Al Kubro 3613. Sanad hadits ini <em>shahih</em> kata Al Hafizh Abu Thohir).</p>
<p>Dalam riwayat lain,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَبِيهَا مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ قَالَ « حُجِّى عَنْ أَبِيكِ ».</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya seorang wanita pernah bertanya pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai ayahnya yang meninggal dunia dan belum berhaji, maka beliau bersabda, “<em>Hajikanlah ayahmu</em>.” (HR. Bukhari 1513 dan Muslim 1334, lafazhnya adalah dari An Nasai dalam sunannya no. 2635).</p>
<p>Begitu pula boleh mengumrohkan orang yang tidak mampu,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ أَبِى رَزِينٍ الْعُقَيْلِىِّ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِى شَيْخٌ كَبِيرٌ لاَ يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلاَ الْعُمْرَةَ وَالظَّعْنَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ ».</p>
<p>Dari Abu Rozin Al ‘Uqoili, ia berkata, “<em>Wahai Rasulullah, ayahku sudah tua renta dan tidak mampu berhaji dan berumrah, serta tidak mampu melakukan perjalanan jauh</em>.” Beliau bersabda, “<em>Hajikan ayahmu dan berumrahlah untuknya pula</em>.” (HR. An Nasai no. 2638, sanadnya <em>shahih</em> kata Al Hafizh Abu Thohir).</p>
<p>Yang membadalkan haji atau umrah diharuskan telah melakukan ibadah tersebut terlebih dahulu. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">ابْدَأْ بِنَفْسِكَ</span></span></p>
<p>“<em>Mulailah dari dirimu sendiri</em>.” (HR. Muslim no. 997).</p>
<p>Juga didukung oleh hadits,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ.فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ شُبْرُمَةُ ». قَالَ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « هَلْ حَجَجْتَ قَطُّ ». قَالَ لاَ. قَالَ « فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ احْجُجْ عَنْ شُبْرُمَةَ ».</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> pernah mendengar seseorang yang berucap ‘<em>labbaik ‘an Syubrumah</em>’ (aku memenuhi panggilan-Mu -Ya Allah- atas nama Syubrumah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bertanya, “<em>Siapa Syubrumah?</em>” “<em>Ia adalah kerabat dekatku</em>”, jawab orang tersebut. “<em>Apakah engkau sudah pernah berhaji sekali sebelumnya?</em>”, tanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ia jawab, “<em>Belum.</em>” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menasehatinya, “<em>Jadikan hajimu ini untuk dirimu, nanti engkau berhaji lagi untuk Syubrumah</em>.” (HR. Ibnu Majah no. 2903, Abu Daud 1811, Ibnu Khuzaimah 3039, Ibnu Hibban 962. Sanad hadits ini <em>dho’if</em>, Ibnu Abi ‘Urubah adalah perowi <em>‘an-‘anah</em>. Sedangkan Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">2- Qodho’ puasa wajib</span></h4>
<p>Dalam hadits ‘Aisyah disebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya</em>.” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147) Yang dimaksud “<em>waliyyuhu</em>” adalah ahli waris (Lihat Tawdhihul Ahkam, 3: 525).</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">3- Utang (qodho’) nadzar</span></h4>
<p>Sa’ad bin ‘Ubadah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah meminta nasehat pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dia mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ</p>
<p>“Sesungguhnya ibuku telah meninggalkan dunia namun dia memiliki nadzar (yang belum ditunaikan).” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lantas mengatakan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">اقْضِهِ عَنْهَا</span></span></p>
<p>“<em>Tunaikanlah nadzar ibumu</em>.” (HR. Bukhari no. 2761 dan Muslim no. 1638)</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">4- Sedekah atas nama mayit</span></h4>
<p>Dari Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Ibu dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’</em>.” (HR. Bukhari no. 2756).</p>
<p>Sedekah untuk mayit akan bermanfaat baginya berdasarkan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin. Lihat <em>Majmu’ Al Fatawa</em> karya Ibnu Taimiyah, 24: 314.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">5- Amalan sholih dari anak yang sholih</span></h4>
<p>Segala amalan sholih yang dilakukan oleh anak yang sholih akan bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى</p>
<p>“<em>Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya</em>.” (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholih.</p>
<p>Dari ‘Aisyah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua</em>.” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>). Ini berarti amalan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">6- Do’a untuk mayit</span></h4>
<p>Setiap do’a kaum muslimin bagi setiap muslim akan bermanfaat bagi si mayit, baik dari anaknya, orang yang melakukan shalat jenazah untuknya, dan kaum muslimin secara umum. Dalilnya adalah keumuman firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.”</em> (QS. Al Hasyr: 10). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara bentuk kemanfaatan yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a karena ayat ini mencakup umum, yaitu orang yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.</p>
<p>Begitu pula sebagai dalil dalam hal ini adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ</p>
<p>“<em>Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”</em>.” (HR. Muslim no. 2733, dari Ummu Ad Darda’). Do’a kepada saudara kita yang sudah meninggal dunia adalah di antara do’a kepada orang yang di kala ia tidak mengetahuinya.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">7- Do’a anak yang sholih, sedekah jariyah dan ilmu yang diambil manfaatnya</span></h4>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</p>
<p>“<em>Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh</em>” (HR. Muslim no. 1631).</p>
<p>Pembahasan selengkapnya sudah dibahas di Rumaysho.com dalam artikel <a href="belajar-islam/jalan-kebenaran/2751-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html"><span style="color: #0000ff;">Amalan yang Bermanfaat bagi Mayit</span></a>.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Renungan bagi Syafi’iyah</span></h4>
<p>Salah seorang ulama Syafi’i, Al Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata mengenai firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى</p>
<p>“<em>Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya</em>”,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">ومن هذه الآية استنبط الشافعي ومن تبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى ؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم ، ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء ، ولم ينقل عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم ، ولو كان خيراً لسبقونا إليه وباب القربات يقتصر فيه على النصوص ، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء ، فأما الدعاء والصدقة ، فذاك مجمع على وصولها ومنصوصٌ من الشارع عليها</p>
<p>Dari ayat ini Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa bacaan Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada <em>nash</em> (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. Begitu pula tidak ada seorang sahabat Nabi <em>-radhiyallahu ‘anhum-</em> pun yang menukilkan ajaran tersebut pada kita. <em>Law kaana khoiron la-sabaquna ilaih </em>(Jika amalan tersebut baik, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya). Dalam masalah ibadah (<em>qurobat</em>) hanya terbatas pada dalil, tidak bisa dipakai analogi dan qiyas. Adapun amalan do’a dan sedekah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan dalil (Lihat <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em> karya Ibnu Katsir, 13: 279).</p>
<p>Jika kita menyatakan bahwa kirim pahala itu bermanfaat bagi mayit, maka silakan baca ulasan: <a href="https://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/antara-kirim-pahala-dan-acara-selamatan-kematian-2412"><span style="color: #0000ff;">Antara Kirim Pahala dan Selamatan Kematian</span></a>.</p>
<p>Semoga Allah memberi hidayah dan taufik untuk beramal sholih sesuai tuntunan Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan selepas shalat Zhuhur, @ Riyadh-KSA, 9 Rabi’ul Akhir 1434 H</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<p> </p>
<hr>
<p><a href="file:///D:/Rumaysho.com%20Creation/00%20Buku%20Rumaysho.com/Amalan%20Seputar%20Mayit/Yasinan%2012%20Kirim%20Pahala%20pada%20Mayit.doc#_ftnref1">[1]</a> Disebutkan oleh Syaikh Sholih Al Munajjid di <a href="http://islamqa.info/ar/ref/46698"><span style="color: #800000;">Fatawa Al Islam Sual wal Jawab</span></a>.</p>
 