
<p>Assalamualaikum Wrahmatullahi Wabarakatuh</p>
<p>kunci rizki ini merupakan karya dari Dr Fadhl Ilahi.<br>dalam artikel ini terdapat 10 pasal kunci rizki.<br>saya sengaja memecahnya satu persatu agar kita tidak bosan membacanya<br>dan agar lebih mudah dipahami dan dilaksanakan</p>
<h1>Pasal Pertama : ISTIGHFAR DAN TAUBAT</h1>
<p>Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah is-tighfar<br>(memohon ampunan) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha<br>Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami<br>bagi menjadi dua pembahasan:</p>
<p>a. Hakikat istighfar dan taubat.<br>b. Dalil syar’i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci rizki.</p>
<p>A. Hakikat Istighfar dan Taubat<br>Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah<br>cukup dengan lisan semata. Sebagian mere-ka mengucapkan,<br>“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat ke-padaNya”</p>
<p>Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam hati, juga<br>tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya<br>istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.</p>
<p>Para ulama �” semoga Allah memberi balasan yang se-baik-baiknya kepada<br>mereka telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.<br>Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: “Dalam istilah syara’, taubat<br>adalah meninggalkan dosa karena ke-burukannya, menyesali dosa yang<br>telah dilakukan, berke-inginan kuat untuk tidak mengulanginya dan<br>berusaha mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal<br>itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”</p>
<p>Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menje-laskan: “Para ulama<br>berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hu-kumnya adalah wajib. Jika<br>maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut<br>pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga.</p>
<p>Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut.</p>
<p>Kedua, ia harus menyesali per-buatan (maksiat)nya.</p>
<p>Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.</p>
<p>Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.<br>Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya ada empat.<br>Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri<br>(memenuhi) hak orang tersebut.<br>Jika ber-bentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus<br>mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau seje-nisnya<br>maka ia harus memberinya kesempatan untuk mem-balasnya atau meminta<br>maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus<br>meminta maaf.”</p>
<p>Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani<br>adalah “Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah:</p>
<p>“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”<br>(Nuh: 10).</p>
<p>Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan<br>lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga<br>dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa<br>disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.</p>
<p>B. Dalil Syar’i Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki<br>Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits me-nunjukkan bahwa<br>istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah .<br>Di bawah ini beberapa nash dimaksud:</p>
<p>1. Apa yang disebutkan Allah tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya :<br>“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’,<br>sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan<br>hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu<br>dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya)<br>untukmu sungai-sungai’.” (Nuh: 10-12).</p>
<p>Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut dengan<br>istighfar.</p>
<p>a. Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan fir-manNya:<br>“Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.”</p>
<p>b. Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas radhiallaahu<br>anhu berkata ” ” adalah (hujan) yang turun dengan deras.</p>
<p>c. Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan<br>ayat:Atha’ berkata: “Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan<br>anak-anak kalian”.</p>
<p>d. Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.</p>
<p>e. Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi<br>berkata: “Dalam ayat ini, juga disebutkan dalam (surat Hud) adalah<br>dalil yang menunjukkan bah-wa istighfar merupakan salah satu sarana<br>meminta ditu-runkannya rizki dan hujan.”</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata: “Makna-nya, jika kalian<br>bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa<br>mentaatiNya niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan<br>air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian<br>berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian,<br>melimpahkan air susu perahan untuk kalian, mem-banyakkan harta dan<br>anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya<br>bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan<br>sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian).”</p>
<p>Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang<br>dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon<br>hujan dari Allah .</p>
<p>Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: “Bahwasanya Umar keluar untuk<br>memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari<br>mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang.</p>
<p>Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon<br>hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan<br>majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu<br>beliau membaca ayat:<br>“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha<br>Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”<br>(Nuh: 10-11).</p>
<p>Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun)<br>kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan,<br>kefakiran, sedikitnya ketu-runan dan kekeringan kebun-kebun.</p>
<p>Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bah-wasanya ia berkata:<br>“Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang<br>kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah<br>kepada Allah!” Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka<br>beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain<br>lagi berkata kepadanya, “Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia<br>memberiku anak!” Maka beliau mengatakan kepadanya, “Beristighfarlah<br>kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan<br>kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, “Beristighfarlah<br>kepa-da Allah!”</p>
<p>Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang<br>sama. Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata<br>kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan<br>Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar. Maka Al-Hasan<br>Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengata-kan hal itu dari diriku<br>sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh:<br>“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha<br>Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat,<br>dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun –<br>kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh:<br>10-12).</p>
<p>Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar! Ya<br>Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-ham-baMu yang pandai<br>beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun<br>di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.<br>Amin, wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus MakhlukNya.</p>
<p>2. Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan tentang seruan Hud<br>kepada kaumnya agar beristighfar.<br>“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu<br>bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat<br>atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan<br>janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (Hud:52).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas<br>menyatakan: “Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar<br>yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian<br>memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi.<br>Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan<br>rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu<br>Allah berfirman:<br>“Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atas-mu”.</p>
<p>Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat<br>taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah<br>urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami. Sesungguhnya Engkau<br>Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat Yang<br>Memiliki keagungan dan kemuliaan.</p>
<p>3. Ayat yang lain adalah firman Allah:<br>“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat<br>kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan<br>memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada<br>waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap<br>orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu<br>berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari<br>Kiamat.” (Hud: 3).</p>
<p>Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji dari Allah Yang Maha<br>Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang<br>yang beristighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya:<br>“Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus)<br>kepadamu.” Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah, “Ia<br>akan menganugerahi rizki dan kelapangan kepada kalian”.</p>
<p>Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: “Inilah buah<br>dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi kenikmatan kepada<br>kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran<br>hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang<br>dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.</p>
<p>Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian<br>balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi<br>berkata: “Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa beristighfar dan<br>bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah<br>menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya<br>sampai pada waktu yang ditentu-kan. Allah memberikan balasan (yang<br>baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat<br>yang dite-tapkan”.</p>
<p>4. Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adalah di antara<br>kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu<br>Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia<br>berkata, Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah),<br>niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan<br>untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki<br>(yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka”.</p>
<p>Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang<br>berbicara berdasarkan wahyu, mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat<br>dipetik oleh orang yang mem-perbanyak istighfar. Salah satunya yaitu,<br>bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, yang Memiliki kekuatan akan<br>mem-berikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak<br>diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.</p>
<p>Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah ia<br>bersegera untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan<br>ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada, sekali<br>lagi hendaknya waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan<br>lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.</p>
<p>(bersambung)</p>
 