
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55328-kupas-tuntas-hukum-gambar-makhluk-bernyawa-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Kupas Tuntas Hukum Gambar Makhluk Bernyawa (Bag.1)</a></span></strong></p>

<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Hukum </b><b><i>iqtina’ ash shurah </i></b><b>(memanfaatkan gambar makhluk bernyawa)</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan tentang hukum menggambar makhluk bernyawa atau hukum </span><i><span style="font-weight: 400;">tashwir</span></i><span style="font-weight: 400;">. Hasil dari kegiatan </span><i><span style="font-weight: 400;">tashwir</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Lalu bagaimana hukum memanfaatkan shurah tersebut? Telah kami sebutkan penjelasan Imam An Nawawi bahwa terkadang gambar makhluk bernyawa itu boleh digunakan, namun yang menggambarnya tetap berdosa. Namun ada juga penggunaan gambar makhluk bernyawa yang dibolehkan.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hukum asal pemanfaatan shurah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemanfaatan </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (gambar makhluk bernyawa) baik yang 2 dimensi atau 3 dimensi (seperti patung dan semisalnya) hukum asalnya terlarang. Karena banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan keharamannya. Dari Abu Thalhah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar makhluk bernyawa”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.3225, Muslim no.2106).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini terdapat ancaman bagi orang yang memajang </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah </span></i><span style="font-weight: 400;">di dalam rumah. Menunjukkan hal ini tidak diperbolehkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">دَخَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَكَّةَ، وَحَوْلَ الكَعْبَةِ ثَلاَثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ نُصُبًا، فَجَعَلَ يَطْعُنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ، وَجَعَلَ يَقُولُ: “﴿ جَاءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلُ ﴾ [الإسراء: 81]”</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke kota Makkah. Ketika itu di sekitar Ka’bah ada 360 berhala. Maka beliau pun menghancurkan berhala-berhala tersebut dengan kayu yang ada di tangan beliau, sambil membaca ayat (yang artinya) : “telah datang al Haq dan telah hancur kebatilan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Isra’: 81)” (HR. Bukhari no.2478, Muslim no.1781).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sendiri menghancurkan </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berupa berhala dengan tangannya sendiri. Menunjukkan bahwa tidak boleh ada </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah</span></i><span style="font-weight: 400;"> walaupun tidak disembah. Ini juga dikuatkan oleh hadits dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata kepadanya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Mau engkau kuberi tugas yang dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan tugas tersebut kepadaku? Yaitu beliau bersabda kepadaku: hendaknya jangan engkau biarkan ada patung kecuali engkau hancurkan, dan jangan engkau biarkan ada kuburan yang ditinggikan, kecuali engkau ratakan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 969).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55352-hukum-qunut-nazilah-saat-terjadi-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Qunut Nazilah saat Terjadi Wabah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Rincian ulama tentang pemanfaatan shurah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah kita mengetahui bahwa hukum asalnya terlarang memanfaatkan shurah, dan juga telah kita sebutkan ada pemanfaatan yang dibolehkan, maka pembahasan tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">iqtina’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pemanfaatan) gambar makhluk bernyawa ini perlu kita rinci menjadi beberapa keadaan. Ini sebagaimana dijelaskan oleh seorang ulama fikih besar abad ini, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, yang ringkasnya adalah sebagai berikut:</span></p>
<p><b>Jenis pertama</b><span style="font-weight: 400;">: </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah mujassamah</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu gambar yang terdapat anggota badannya lengkap, maka tidak boleh menggunakannya. Telah dinukil oleh Ibnul Arabi bahwa ulama ijma akan hal ini. Disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Baari </span></i><span style="font-weight: 400;">(10/388) bahwa Ibnul Arabi mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وهذا الإجماع محله في غير لعب البنات كما سأذكره في باب من صور صورة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ini (haramnya menggambar makhluk bernyawa) adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">ijma</span></i><span style="font-weight: 400;"> ulama, kecuali mainan anak perempuan sebagaimana yang akan saya sebutkan pada bab bentuk-bentuk gambar”.</span></p>
<p><b>Jenis kedua</b><span style="font-weight: 400;">: </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah ghayru mujassamah</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu gambar yang berupa </span><i><span style="font-weight: 400;">raqam</span></i><span style="font-weight: 400;"> (bagian-bagian dari anggota badan). Jenis ini dirinci lagi:</span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">: gambar yang digantung untuk diagungkan. Seperti gambar raja, presiden, menteri, ulama, kyai, tokoh-tokoh dan semisalnya. Pemanfaatan seperti ini hukumnya haram karena termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">ghuluw</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pengkultusan) terhadap makhluk dan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasyabbuh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (menyerupai) para penyembah berhala. Selain itu juga ini menjadi sarana menuju kesyirikan. Sebagaimana dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">دَخَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَكَّةَ، وَحَوْلَ الكَعْبَةِ ثَلاَثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ نُصُبًا، فَجَعَلَ يَطْعُنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ، وَجَعَلَ يَقُولُ: “﴿ جَاءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلُ ﴾ [الإسراء: 81]”</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke kota Makkah. Ketika itu di sekitar Ka’bah ada 360 berhala. Maka beliau pun menghancurkan berhala-berhala tersebut dengan kayu yang ada di tangan beliau, sambil membaca ayat (yang artinya) : “telah datang al Haq dan telah hancur kebatilan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Isra’: 81)” (HR. Bukhari no.2478, Muslim no.1781).</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">: gambar yang digantung untuk dikenang. Semisal orang-orang yang menggantung gambar orang tuanya, anaknya, temannya, sahabatnya di ruangan mereka. Pemanfaatan seperti ini juga diharamkan karena dua alasan:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Akan timbul keterikatan hati pada individu yang digantung gambarnya tersebut, dengan keterikatan yang kuat. Ini akan berpengaruh besar terhadap kecintaan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya serta syariat-Nya. Sehingga membagi rasa </span><i><span style="font-weight: 400;">mahabbah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (cinta) seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya dengan cinta kepada makhluk. Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span>
</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا ما، عسى أن يكون بَغِيضَكَ يومًا ما، وأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا ما عسى أن يكونَ حَبِيبَكَ يومًا ما</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi ia menjadi orang yang engkau benci suatu hari. Dan bencilah orang yang engkau benci sekadarnya, bisa jadi ia menjadi orang yang engkau cintai suatu hari”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al Bukhari dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Adabul Mufrad</span></i><span style="font-weight: 400;"> no.992, dihasankan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Al Adabul Mufrad</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<ol start="2">
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Terdapat hadits dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Al Bukhari</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari Abu Thalhah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata: aku mendengar Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span>
</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar makhluk bernyawa”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.3225, Muslim no.2106).</span></p>
<p><b>Jenis ketiga</b><span style="font-weight: 400;">: gambar tersebut digantung untuk hiasan dan aksesoris. Ini juga diharamkan berdasarkan hadits dari ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قَدِمَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مِن سَفَرٍ، وقدْ سَتَرْتُ بقِرَامٍ لي علَى سَهْوَةٍ لي فِيهَا تَمَاثِيلُ، فَلَمَّا رَآهُ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ هَتَكَهُ وقالَ: أشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَومَ القِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بخَلْقِ اللَّهِ قالَتْ: فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أوْ وِسَادَتَيْنِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pulang dari safar. Ketika itu aku menutup jendela rumah dengan qaram (tirai) yang bergambar (makhluk bernyawa). Ketika melihatnya, wajah Rasulullah berubah. Beliau bersabda: “wahai Aisyah orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah yang menandingi ciptaan Allah“. Lalu aku (Aisyah) memotong-motong tirai tersebut dan menjadikannya satu atau dua bantal”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.5954, dan Muslim no.2107).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أنَّها اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فيها تَصاوِيرُ، فَقامَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بالبابِ فَلَمْ يَدْخُلْ، فَقُلتُ: أتُوبُ إلى اللَّهِ ممَّا أذْنَبْتُ، قالَ: ما هذِه النُّمْرُقَةُ قُلتُ: لِتَجْلِسَ عليها وتَوَسَّدَها، قالَ: إنَّ أصْحابَ هذِه الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَومَ القِيامَةِ، يُقالُ لهمْ: أحْيُوا ما خَلَقْتُمْ، وإنَّ المَلائِكَةَ لا تَدْخُلُ بَيْتًا فيه الصُّورَةُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“‘Aisyah membeli numruqah (bantal yang digunakan untuk duduk) yang di sana ada gambar makhluk bernyawa. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika datang beliau di depan pintu dan tidak mau masuk ke dalam rumah. Maka aku (Aisyah) bertanya: “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah, dosa apa yang telah aku lakukan?”. Beliau bersabda: “Bantal apakah ini?”. ‘Aisyah menjawab: “Untuk tempat duduk anda atau anda jadikan sebagai bantal”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang menggambar gambar ini akan disiksa pada hari Kiamat. Akan dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkan gambar yang telah kalian buat’. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada gambarnya””</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no. 5957).</span></p>
<p><b>Jenis keempat</b><span style="font-weight: 400;">: gambar tersebut dihinakan. Seperti gambar yang ada di karpet atau di bantal. Atau gambar yang ada di bejana-bejana (gelas dan piring) atau alas makan, atau semisalnya. Imam An Nawawi menukil pendapat dari jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in tentang bolehnya menggunakan gambar tersebut. Dan ini pendapat dari Sufyan Ats Tsauri, Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i demikian juga pendapat mu’tamad dalam madzhab Hanabilah. Pendapat inilah yang sesuai dengan zahir hadits Aisyah tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">qaram</span></i><span style="font-weight: 400;"> (tirai) bergambar yang sudah disebutkan di atas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun kompromi antara hadits </span><i><span style="font-weight: 400;">qaram</span></i><span style="font-weight: 400;"> (yang membolehkan gambar di bantal) dengan hadits </span><i><span style="font-weight: 400;">numruqah </span></i><span style="font-weight: 400;">(yang melarang gambar di bantal) adalah bisa jadi gambar </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang ada pada hadits </span><i><span style="font-weight: 400;">qaram </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah gambar yang terpotong-potong sehingga bukan lagi gambar yang </span><i><span style="font-weight: 400;">mujassamah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Sedangkan gambar </span><i><span style="font-weight: 400;">shurah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang ada pada hadits </span><i><span style="font-weight: 400;">numruqah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah gambar yang </span><i><span style="font-weight: 400;">mujassamah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><b>Jenis kelima</b><span style="font-weight: 400;">: gambar yang termasuk ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">umumul balwa</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu perkara yang sulit berlepas diri darinya. Seperti gambar yang ada di majalah, koran, dan sebagian buku. Dan orang yang memanfaatkan hal-hal tersebut bukan menjadi gambarnya sebagai tujuan, bahkan ia benci pada gambar-gambar yang ada, namun ia butuh pada benda-benda tersebut (buku, majalan, koran, dst). Dan untuk menghilangkan gambar-gambar yang ada itu sulit sekali. Demikian juga gambar yang ada pada uang, berupa gambar raja atau gambar pejabat atau gambar para tokoh, yang ini terjadi di negeri-negeri Islam. Maka menurut saya, gambar yang jenis tidak mengapa dimanfaatkan. Karena Allah ta’ala tidak menjadikan kesulitan pada para hamba-Nya dan tidak membebani hamba-Nya sesuatu yang tidak dimampuinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Diringkas, dengan beberapa penambahan, dari penjelasan beliau dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/254).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55113-hukum-menunda-pemakaman-jenazah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Menunda Pemakaman Jenazah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Beberapa bentuk pemanfaatan lain</b></span></h2>
<ol>
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b> Dipajang di luar bangunan</b></span></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Lima rincian yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin di atas juga berlaku jika gambar makhluk bernyawa dipajang di luar ruangan, seperti pada spanduk, baliho, papan iklan, pamflet, dan semisalnya. Berdasarkan keumuman hadits dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata kepadanya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Mau engkau kuberi tugas yang dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan tugas tersebut kepadaku? Yaitu beliau bersabda kepadaku: hendaknya jangan engkau biarkan ada patung kecuali engkau hancurkan, dan jangan engkau biarkan ada kuburan yang ditinggikan, kecuali engkau ratakan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 969).</span></p>
<ol start="2">
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b> Gambar pada pakaian</b></span></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ditanya, “</span><i><span style="font-weight: 400;">apa hukum memakai pakaian yang ada gambar makhluk bernyawanya</span></i><span style="font-weight: 400;">“?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا يجوز للإنسان أن يلبس ثياباً فيها صورة حيوان أو إنسان ، ولا يجوز أيضاً أن يلبس غترة أو شماغاً ، أو ما أشبه ذلك وفيه صورة إنسان أو حيوان ، وذلك لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ثبت عنه أنه قال : ( إن الملائكة لا تدخل بيتاً فيه صورة )</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak boleh seseorang menggunakan pakaian yang ada gambar hewan atau gambar manusia. Tidak boleh juga menggunakan </span><i><span style="font-weight: 400;">ghutrah</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">syimagh</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau semisalnya yang ada gambar manusia atau gambar hewan. Karena Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda dalam hadits yang shahih: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Malaikat tidak masuk ke rumah yang terdapat anjing dan gambar makhluk bernyawa”</span></i><span style="font-weight: 400;">” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majalah Ad Da’wah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 54/1756).</span></p>
<ol start="3">
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b> Gambar pada mainan anak-anak</b></span></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama memberikan kelonggaran untuk gambar yang ada pada mainan anak-anak. Mereka berdalil dengan hadits dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">,ia berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَوْ خَيْبَرَ، وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ، فَهَبَّتْ رِيحٌ، فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ، فَقَالَ: مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟ قَالَتْ: بَنَاتِي. وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهَا جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَالَ: مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسَطَهُنَّ؟ قَالَتْ: فَرَسٌ. قَالَ: وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟ قَالَتْ: جَنَاحَانِ. فَقَالَ: فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟ قَالَتْ: أَمَا سَمِعْت أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى رَأَيْت نَوَاجِذَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baru tiba dari perang Tabuk atau Khaibar. Ketika itu kamar ‘Aisyah ditutup dengan sebuah tirai. Ketika ada angin yang bertiup, tirai itu tersingkap hingga maina-mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya: “Wahai ‘Aisyah, ini apa?”. ‘Aisyah menjawab, “Ini anak-anakku”. Lalu beliau juga melihat di antara mainan tersebut ada yang berbentuk kuda yang mempunyai dua sayap yang ditempelkan dari tambalan kain. Nabi lalu bertanya: “Lalu apa ini yang aku lihat di tengah-tengah?”. ‘Aisyah menjawab, “Ini kuda”. Nabi bertanya lagi: “Lalu apa yang ada di atas kuda tersebut?”. ‘Aisyah menjawab, “Ini dua sayapnya”. Nabi bertanya lagi: “Apakah kuda punya dua sayap?”. ‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?”. ‘Aisyah lalu berkata, “Nabi lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya gerahamnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Abu Daud no. 4932, dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Takhrij Al Misykah </span></i><span style="font-weight: 400;">[3/304], dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Abu Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini, Aisyah yang ketika itu masih anak-anak memiliki mainan yang berbentuk manusia dan hewan, namun Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak melarangnya. Menunjukkan adanya kelonggaran untuk anak-anak dalam masalah gambar makhluk bernyawa. Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (12/112) disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وقد اسْتَثْنَى أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ مِنْ تَحْرِيمِ التَّصْوِيرِ وَصِنَاعَةِ التَّمَاثِيلِ صِنَاعَةَ لُعَبِ الْبَنَاتِ. وَهُوَ مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ. وَقَدْ نَقَلَ الْقَاضِي عِيَاضٌ جَوَازَهُ عَنْ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mayoritas ulama dalam pelarangan gambar makhluk bernyawa mengecualikan gambar dan patung untuk mainan anak-anak wanita. Ini merupakan pendapat madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Dan dinukil dari Al Qadhi ‘Iyadh bahwa pendapat yang membolehkan adalah pendapat jumhur ulama”.</span></p>
<ol start="4">
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b> Foto pada kartu identitas</b></span></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Gambar foto yang digunakan untuk bukti identitas, termasuk juga yang diberikan kelonggaran oleh para ulama. Seperti foto yang ada pada KTP, paspor, ijazah, atau semisalnya. </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta’</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إذا اضطر إليه الإنسان لوضع الصورة في حفيظة نفوس أو جواز سفر أو استمارة اختبار أو إقامة أو نحو ذلك رخص له فيه بقدر الضرورة إن لم يجد مخلصاً من ذلك، وإن كان في وظيفة ولم يجد له بد منها أو كان عمله لمصلحة عامة لا تقوم إلا به رخص له فيه للضرورة; لقول الله عز وجل: {وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ}</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika ada kebutuhan yang mendesak bagi seseorang untuk menggunakan gambar pada kartu identitas, paspor, formulir tes, visa untuk menetap, atau semisalnya maka ada kelonggaran baginya untuk menggunakan gambar fotonya sebatas kadar darurat yang dibutuhkan. Jika memang tidak ada metode lain yang memungkinkan. Dan jika ia berada dalam sebuah tugas yang memang membutuhkan hal itu atau untuk kemaslahatan orang secara umum, yang tidak ada solusi lain, maka ada kelonggaran karena termasuk darurat. Berdasarkan firman Allah ta’ala (yang artinya): </span><i><span style="font-weight: 400;">“Sungguh telah dijelaskan kepada kalian apa-apa yang diharamkan untuk kalian, kecuali apa-apa yang terpaksa melakukannya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al An’am 119)” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa Al Lajnah Ad Daimah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/494).</span></p>
<ol start="5">
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b> Gambar di komputer dan gadget</b></span></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Gambar makhluk bernyawa yang tersimpan di komputer atau gadget hukumnya boleh dimanfaatkan selama tidak dicetak dan selama bukan gambar yang mengandung keharaman. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الصور التي على الجوال وفي أجهزة الحاسب ، وما يصور بالفيديو ، لا تأخذ حكم الصور الفوتوغرافية ، لعدم ثباتها ، وبقائها ، إلا أن تُخرج وتطبع ، وعليه فلا حرج في الاحتفاظ بها على الجوال ، ما لم تكن مشتملة على شيء محرم ، كما لو كانت صوراً لنساء</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Foto yang ada di HP atau di komputer, atau yang dibuat dengan video, tidak sama hukumnya dengan foto hasil jepretan kamera. Karena ia tidak </span><i><span style="font-weight: 400;">tsabat </span></i><span style="font-weight: 400;">(tetap) dan tidak </span><i><span style="font-weight: 400;">baqa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (selalu ada dzatnya). Kecuali jika di-</span><i><span style="font-weight: 400;">print </span></i><span style="font-weight: 400;">(dicetak). Oleh karena itu tidak mengapa menyimpannya di HP selama tidak mengandung perkara yang haram, seperti misalnya foto wanita” (Sumber: https://islamqa.info/ar/91356).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin juga menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">والصُّور بالطُّرُقِ الحديثة قسمان الأول : لا يَكُونُ له مَنْظَرٌ ولا مَشْهَد ولا مظهر ، كما ذُكِرَ لِي عن التصوير ، بِأَشرطة الفيديو ، فهذا لا حُكْمَ له إطلاقاً ، ولا يَدْخُل في التحريم مطلقاً ، ولهذا أجازه العلماء الذين يَمْنَعونَ التّصوير على الآلة الفوتوغرافية على الورق ، وقالوا : إن هذا لا بأس به القسم الثاني : التصوير الثابت على الورق</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Gambar itu ada dua macam:</span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, gambar yang tidak ada </span><i><span style="font-weight: 400;">manzhar</span></i><span style="font-weight: 400;">, atau </span><i><span style="font-weight: 400;">masyhad</span></i><span style="font-weight: 400;">, atau </span><i><span style="font-weight: 400;">mazh-har</span></i><span style="font-weight: 400;"> (bentuk penampakan yang tetap) seperti pada foto (yang tercetak). Maka seperti gambar video, ini tidak bisa dihukumi boleh secara mutlak. Dan tidak bisa diharamkan secara mutlak. Oleh karena itu para ulama yang mengharamkan foto tetap membolehkan video. Mereka mengatakan ini tidak mengapa.</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, foto yang sifatnya tetap, karena ada di kertas” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarhul Mumthi</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/197).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka foto yang ada di komputer dan HP termasuk jenis gambar yang pertama ini, karena ia hanya ada dan terlihat ketika komputer / HP dinyalakan. Ketika dimatikan, ia tidak ada. Maka boleh menyimpan gambar atau foto makhluk bernyawa di HP atau komputer. Berbeda dengan jika gambar tersebut dicetak. Kebolehan menyimpan foto di HP atau komputer ini tentunya selama gambar tersebut adalah gambar yang mubah. Adapun jika mengandung keharaman maka hukumnya haram menyimpannya. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<ol start="6">
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b> Gambar wanita</b></span></h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak diperbolehkan memanfaatkan gambar wanita baik dalam keadaan tercetak maupun tidak tercetak (semisal di internet dan media sosial) karena selain ia adalah gambar makhluk bernyawa juga gambar wanita adalah fitnah (godaan) yang besar bagi laki-laki.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Imran: 14).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Usamah bin Zaid </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Al Bukhari 5096, Muslim 2740).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka tidak boleh memanfaatkan gambar wanita baik berhijab atau pun tidak berhijab karena ini besar fitnahnya, kecuali yang sifatnya darurat seperti foto pada KTP, paspor dan semisalnya. Gambar seorang wanita harus disembunyikan sebisa mungkin. Dalam sebuah hadits disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَنَّ عَلِيًّا ، قَالَ : سَأَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَالَ : ” أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ ؟ ” فَلَمْ أَدْرِ مَا أَقُولُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِفَاطِمَةَ ، فَقَالَتْ : أَلا قُلْتَ لَهُ : خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ أَنْ لا يَرَيْنَ الرِّجَالَ وَلا يَرَوْنَهُنَّ ، قَالَ : فَذَكَرْتُ قَوْلَ فَاطِمَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ” إِنَّهَا بِضْعَةٌ مِنِّي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا “</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘apa yang paling baik bagi wanita?’. Lalu Ali tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun menceritakannya kepada Fathimah. Fathimah pun berkata: ‘katakanlah kepada beliau, yang paling baik bagi wanita adalah mereka tidak melihat para lelaki dan para lelaki tidak melihat mereka‘. Maka aku (Ali) sampaikan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lalu beliau bersabda: ‘sungguh Fathimah adalah bagian dari diriku, semoga Allah meridhainya‘”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Ibnu Abid Dunya dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al ‘Iyal</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 409, semua perawinya </span><i><span style="font-weight: 400;">tsiqah</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ditanya: “Apa hukum mengirimkan sebagian video yang ada faidah-faidah ilmunya, namun ada musik dan ada gambar wanitanya?”. Beliau menjawab: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Ini semua tidak baik, tidak boleh melakukannya. Dan kebaikan yang tidak mengandung itu semua, ada walhamdulillah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (https://www.youtube.com/watch?v=JGgDSPgXNec).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Utsman Al Khamis </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Gambar-gambar itu sekarang banyak beredar di instagram, di twitter atau di facebook. Sebagian lelaki meng-upload foto wanita, dan sebagian wanita meng-upload foto dirinya sendiri. Terkadang mereka meng-upload fotonya sendiri dan terkadang mereka mencari foto orang lain (wanita).</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ini tidak diperbolehkan. Baik ia tidak berjilbab atau berjilbab. Tidak boleh wanita meng-upload foto dirinya seperti demikian. Laki-laki juga tidak boleh meng-upload foto wanita, dengan gaunnya yang sedemikian rupa, dengan hiasan-hiasannya yang sedemikian rupa, ini tidak diperbolehkan.</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wanita itu memfitnah lelaki. Seorang lelaki jangan menjadi seborang laab in terkena fitnah, dan wanita jangan menjadi sebab fitnah bagi orang lain. Maka hendaknya para wanita bertaqwa kepada Allah, demikian para lelaki dalam masalah ini”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (https://www.youtube.com/watch?v=GwUSrn4fzqU).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Sa’ad Asy Syatsri </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">ditanya: “Apa hukum wanita berhijab meng-upload foto mereka di media sosial?”. Beliau menjawab: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak boleh wanita menampakkan keindahan mereka. Ini merupakan ijma ulama. Allah Ta’ala berfirman:</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka … ”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. An Nur: 31).</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ayat ini menunjukkan bahwa wanita dilarang menampakkan keindahan mereka. Dan para ulama ijma bahwa wanita tidak boleh mempercantik wajahnya di depan para lelaki non-mahram, demikian juga tidak boleh melakukan demikian ketika ia pergi keluar rumah jika ada lelaki yang akan melihatnya, ini merupakan ijma ulama”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (https://www.youtube.com/watch?v=uOiLCjTxh44).</span></p>
<ol start="7">
<li>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b> Gambar pada buku pelajaran sekolah</b></span></h3>
</li>
</ol>
<p>Gambar makhluk bernyawa yang ada pada buku pelajaran sekolah, jika tidak ada kebutuhan mendesak untuk menggambarnya atau menggunakannya, maka termasuk pemanfaatan yang terlarang. Berdasarkan keumuman dalil-dalil.</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, “apa hukum Islam terkait gambar yang digambar di papan tulis dalam rangka sebagai media pembelajaran untuk menjelaskan bentuk-bentuk hewan, tumbuhan, binatang melata, yaitu pada pelajaran Biologi. Terkadang gambar-gambar ini penting sekali untuk media pembelajaran, dan gambarnya tidak utuh, karena pentingnya ilmu ini dalam bidang kedokteran dan farmasi”. Asy Syaikh menjawab,</p>
<p style="text-align: center; font-weight: 400; font-size: 21pt;">ما كان من ذلك صورا لذوات الأرواح كالحشرات وسائر الأحياء فلا يجوز ولو كان رسما على السبورة والأوراق ولو كان القصد منه المساعدة على التعليم لعدم الضرورة إليه؛ لعموم الأدلة في ذلك، وما لم يكن من ذوات الأرواح جاز رسمه للتعليم .</p>
<p>“Selama itu adalah gambar makhluk bernyawa seperti binatang melata, dan semua makhluk hidup lainnya, maka tidak boleh digunakan, baik digambar di papan tulis maupun di buku pelajaran. Walaupun tujuannya adalah untuk media pembelajaran, karena ini bukan hal yang darurat. Berdasarkan keumuman dalil-dalil tentang masalah ini. Jika yang digambar bukanlah makhluk bernyawa maka boleh digunakan untuk media pembelajaran” (<em>Fatawa Al Lajnah Ad Daimah</em>, 1/472, no. 6572).</p>
<p>Ulama Al Lajnah Ad Daimah juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: center; font-weight: 400; font-size: 21pt;">تصوير ذوات الأرواح حرام مطلقا؛ لعموم الأحاديث التي وردت في ذلك وليست ضرورية للتوضيح في الدراسة، بل هي من الأمور الكمالية لزيادة الإيضاح، وهناك غيرها من وسائل الإيضاح يمكن الاستغناء بها عن الصور في تفهيم الطلاب والقراء، وقد مضى على الناس قرون وهم في غنى عنها في التعليم والإيضاح وصاروا مع ذلك أقوى منا علما وأكثر تحصيلا، وما ضرهم ترك الصور في دراستهم، ولا نقص من فهمهم لما أرادوا ولا من وقتهم وفلسفتهم في إدراك العلوم وتحصيلها، وعلى هذا لا يجوز لنا أن نرتكب ما حرم الله من التصوير لظننا أنه ضرورة</p>
<p>“Menggambar makhluk bernyawa haram secara mutlak, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada dalam masalah ini. Dan ini bukan perkara yang mendesak sekali untuk menggunakan gambar dalam pembelajaran. Adanya gambar hanya perkara pendukung saja, untuk memperjelas pembahasan. Ada cara-cara lain untuk menjelaskan pelajaran. Dan sangat memungkinkan untuk memberikan penjelasan kepada para murid tanpa disertai gambar. Dan umat manusia generasi terdahulu telah melalui masa tanpa merasa butuh kepada gambar makhluk bernyawa dalam pembelajaran mereka dan dalam menjelaskan. Namun demikian pemahaman mereka lebih kuat daripada kita dan lebih banyak ilmunya daripada kita. Tidak adanya gambar sama sekali tidak membahayakan mereka dalam pembelajaran. Dan tidak berkurang sedikitpun pemahaman mereka untuk mengetahui apa yang diinginkan. Juga tidak mengurangi waktu mereka atau mengurangi perenungan mereka untuk meraih ilmu yang diinginkan. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan kita melanggar yang Allah haramkan yaitu menggambar makhluk bernyawa, karena menurut kami itu tidak darurat” (<em>Fatawa Al Lajnah Ad Daimah</em>, no. 2677).</p>
<p>Maka, asalnya terlarang menggunakan gambar makhluk bernyawa untuk pembelajaran. Dan solusinya gunakanlah gambar-gambar yang tidak sempurna bentuknya untuk menjelaskan pelajaran. Sebagaimana telah dijelaskan kebolehan menggambar makhluk yang tidak sempurna.</p>
<p>Adapun gambar-gambar makhluk bernyawa yang ada di buku pelajaran, yang buku-buku ini dipilih oleh pemerintah, oleh sekolah atau oleh pengajar, yang kita tidak memiliki pilihan lain, maka ada kelonggaran untuk menggunakannya karena termasuk <em>umumul balwa’</em> sebagaimana dijelaskan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/54639-hukum-orang-kafir-masuk-masjid.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Orang Kafir Masuk Masjid</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Penutup</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian penjelasan ringkas mengenai hukum menggambar dan memanfaatkan makhluk bernyawa. Kami nasehatkan diri kami sendiri dan para pembaca sekalian, walaupun sebagian gambar ada yang mubah untuk dimanfaatkan, namun hendaknya tidak terlalu bermudah-mudahan dalam masalah ini. Bersikap </span><i><span style="font-weight: 400;">wara’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (hati-hati) itu lebih utama. Selama bisa menggunakan gambar-gambar makhluk yang tidak bernyawa, itu lebih diutamakan. Demikian juga tidak bermudah-mudah memfoto diri serta memanfaatkannya walaupun tujuannya mubah dan dalam bentuk yang mubah. Seandainya ada cara lain tanpa menggunakan foto, itu lebih utama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari An Nu’man bin Basyir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ: كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas. Diantaranya ada yang syubhat, yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhi yang syubhat, ia telah menjaga kehormatan dan agamanya. Barangsiapa mendekati yang syubhat, sebagaimana pengembala di perbatasan. Hampir-hampir saja ia melewatinya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Bukhari 52, Muslim 1599)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Shafiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha,</span></i><span style="font-weight: 400;"> Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي من ابْن آدم مجرى الدم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya setan ikut mengalir dalam darah manusia” (HR. Bukhari 7171, Muslim 2174)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Khathabi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan hadits dari Shafiyyah ini:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنَ الْعِلْمِ اسْتِحْبَابُ أَنْ يَحْذَرَ الإِنْسَانُ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ مِنَ الْمَكْرُوهِ مِمَّا تَجْرِي بِهِ الظُّنُونُ وَيَخْطُرُ بِالْقُلُوبِ وَأَنْ يَطْلُبَ السَّلامَةَ مِنَ النَّاسِ بِإِظْهَارِ الْبَرَاءَةِ مِنَ الرِّيَبِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dalam hadits ini ada ilmu tentang dianjurkannya setiap manusia untuk menjauhi setiap hal yang makruh dan berbagai hal yang menyebabkan orang lain punya sangkaan dan praduga yang tidak tidak. Dan anjuran untuk mencari tindakan yang selamat dari prasangka yang tidak tidak dari orang lain dengan menampakkan perbuatan yang bebas dari hal hal yang mencurigakan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Talbis Iblis</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/33)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih lagi, jika para da’i, aktifis dakwah, dan penuntut ilmu agama tidak layak bermudah-mudahan dalam masalah ini. Padahal mereka panutan masyarakat dan orang yang dianggap baik agamanya. Sejatinya, semakin bagus keislaman seseorang, dia akan semakin </span><i><span style="font-weight: 400;">wara’</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dari Hudzaifah Ibnu Yaman </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Keutamaan dalam ilmu lebih disukai daripada keutamaan dalam ibadah. Dan keislaman kalian yang paling baik adalah sifat wara’”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al Hakim 314, Al Bazzar 2969, Ath Thabrani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Ausath </span></i><span style="font-weight: 400;">no. 3960. Dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih At Targhib</span></i><span style="font-weight: 400;"> no.1740).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umar bin Khattab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">«إِنَّ الدِّينَ لَيْسَ بِالطَّنْطَنَةِ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَكِنَّ الدِّينَ الْوَرَعُ»</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Agama Islam itu bukanlah sekedar dengungan di akhir malam, namun Islam itu adalah bersikap wara’”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR Ahmad dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Az Zuhd</span></i><span style="font-weight: 400;">, 664)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberi taufik. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu waliyyu dzalika wal qaadiru ‘alaihi</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wasallam.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/53500-hukum-mandi-jumat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mandi Jum’at</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/50906-hukum-menghina-atau-memanggil-orang-lain-dengan-nama-binatang.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Menghina atau Memanggil Orang Lain dengan Nama Binatang</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">**</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 