
<p><b>(Revisi dari posting sebelumnya. Seharusnya tangan di pinggang, bukan di lambung. Posting kali ini adalah sebagai ralat)</b> <i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dari Abu Hurairah, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron (tangan diletakkan di pinggang).” (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[Bukhari: 27-Berbagai Bab Amalan Dalam Shalat, 17-Bab Hadir Ketika Shalat. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 12-Bab Meletakkan Tangan di Pinggang. Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar <a href="https://rumaysho.com/20288-kiat-shalat-khusyuk-01.html">khusu’ dalam shalat</a>.”] Ibnu Hajar mengatakan bahwa makna </span><i><span style="font-weight: 400;">mukhtashiron </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah </span><b>meletakkan tangan di Pinggang.</b></p>
<p><b>Pelajaran Berharga</b> <b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">; terlarang meletakkan tangan di Pinggang ketika shalat. Alasannya diceritakan oleh ‘Aisyah bahwa perbuatan semacam ini biasa dilakukan oleh orang Yahudi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Terlarang meletakkan tangan di Pinggang.” Lalu dia berkata, “Yahudi biasa melakukan hal ini.” (HR. Bukhari) [Bukhari: 64-Kitab Al Anbiya’, 51-Pembicaraan mengenai Bani Isroil]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita dilarang meniru-niru perbuatan orang Yahudi sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">; alasan lain terlarang meletakkan tangan di Pinggang adalah karena di dalamnya terdapat sikap takjub dan sombong. Sifat inilah yang meniadakan khusyu’ dalam shalat. (Syarh Bulughul Marom, 49/3)</span></p>
<p><b>Ketiga</b><span style="font-weight: 400;">; sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. Padahal yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berbeda jauh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memanjangkan sujudnya dalam shalat malamnya sampai ‘Aisyah mengatakan, “Aku kira beliau telah meninggal dunia.” Dalam hadits lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam raka’at pertama surat Al Baqarah, ‘Ali Imran dan An Nisa’ sekaligus. Kemudian beliau ruku’ yang lama seperti membaca surat tadi. Begitu juga ketika bangun dari ruku’ (i’tidal), beliau melakukan sama lamanya dengan ruku’nya tadi. Lalu beliau sujud yang lamanya seperti tadi. Inilah yang beliau lakukan ketika beliau melaksanakan shalat sunnah. Adapun ketika beliau shalat wajib secara berjama’ah, beliau sangat memperhatikan orang yang lemah dan orang yang punya hajat. Jadi salah satu makna ikhtishor dalam shalat adalah meringkas shalat tanpa menunaikan kewajiban-kewajiban yang ada.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><b>Keempat</b><span style="font-weight: 400;">; di antara makna ikhtishor lainnya adalah membaca hanya sebagian surat saja dari surat yang ada. Imam Malik sampai mengatakan:</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أحب إليّ أن يقرأ سورة كاملة -ولو من قصار المفصل- من أن يقرأ نظيرها عدة مرات من سورة طويلة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Saya lebih senang membaca surat secara utuh –walaupun itu adalah surat qishorul mufashol (surat pendek semacam <a href="https://rumaysho.com/907-memahami-surat-al-ikhlas-sepertiga-al-quran.html">surat Al Ikhlash</a>) daripada membaca surat yang panjang (namun cuma sebagian) sebanyak beberapa kali. ” [1]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seandainya seseorang membaca surat Al Baqarah, Ali Imron, atau Yasin sebanyak 1 halaman penuh, maka masih lebih bagus jika dia membaca surat Al Falaq, Al Fiil, Al Qadr secara sempurna (utuh). Ini lebih disukai oleh Imam Malik daripada hanya membaca surat yang panjang, namun hanya sebanyak 1 halaman, tanpa menyempurnakannya. Alasan dari maksud Imam Malik di atas: Jika seseorang memperhatikan isi Al Qur’an, dia akan mendapati bahwa uslub dan metode penjelasan dalam surat-surat mufashol (yang pendek) itu memiliki tema pembahasan tertentu. Hal ini berbeda dengan surat-surat yang panjang, yang memiliki banyak tema dalam satu surat. Jika seseorang mau membaca sebagian dari surat-surat yang panjang semacam Al Baqarah, maka hendaklah dia membaca satu tema secara utuh. Misalnya dalam surat panjang tersebut, dia membaca kisah Nabi Musa, maka janganlah dia berhenti di tengah cerita, tanpa menyempurnakannya. Jika tidak mungkin demikian, maka lebih bagus membaca surat qishorul mufashol.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ringkasnya, ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas bisa bermakna:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Hanya membaca satu cuplik dari surat ketika shalat, tanpa menyelesaikan surat tersebut secara utuh atau tanpa menyelesaikan satu tema pembahasan.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Mengurangi sebagian kewajiban shalat.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Bermakna hissi (inderawi) yaitu meletakkan tangan di Pinggang ketika shalat karena ini termasuk ibadah Yahudi dan kita dilarang meniru mereka dalam ibadah kita. Dan yang lebih tepat ketika bersedekap adalah tangan di dada dan bukan di pinggang atau di lambung.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi robbil ‘alamin.</span></i></p>
<p><b>Keterangan: Surat Al Mufashol </b><span style="font-weight: 400;">adalah surat yang dimulai dari surat Qaaf sampai dengan akhir surat An Naas. Surat ini terbagi menjadi: </span><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, Thuwalul Mufashol (yang panjang): Dimulai dari surat Qaaf sampai dengan akhir surat Al Mursalat. </span><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, Awwalul Mufashol (yang pertengahan): Dimulai dari surat An Naba’ sampai akhir surat Al Lail. </span><b>Ketiga</b><span style="font-weight: 400;">, Qishorul Mufashol (yang pendek): Dimulai dari surat Adh Dhuha sampai akhir surat An Naas.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Mu’jam Al Mushtolahat Al Qur’aniyyah, hal. 19, Asy Syamilah) </span><i><span style="font-weight: 400;">8 Rabi’ul Awwal 1430 H Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya Muhammad Abduh Tuasikal</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/9685-hikmah-larangan-jual-beli-saat-shalat-jumat.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hikmah Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/23840-manhajus-salikin-pembatal-shalat.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Manhajus Salikin: Pembatal Shalat</strong></span></a></li>
</ul>
 