
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">بسم الله الرحمن الرحيم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akibat perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam satu abad terakhir ini, banyak permasalahan kontemporer muncul di tengah-tengah umat yang belum pernah dijumpai pada abad sebelumnya. Di antara contoh yang sangat tersebar luas hari ini adalah telepon dengan segala fiturnya, yang membuat kita bisa berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain melalui panggilan telepon, menuliskan pesan dalam bentuk SMS ataupun chat, serta berselancar di dunia maya menggunakan jaringan internet.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/34204-tidak-boleh-memulai-salam-kepada-orang-kafir.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Boleh Memulai Salam Kepada Orang Kafir ?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap ada masalah baru yang muncul, para ulama’ akan berusaha menentukan hukum fikih yang terkait dengannya. Misalnya, ketika fasilitas komunikasi jarak jauh bisa kita nikmati dengan melakukan panggilan telepon, para ulama’ menjelaskan bahwa hukum-hukum tentang berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain dapat diterapkan kepadanya. Syaikh Bakr Abu Zaid </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فإن آداب الهاتف الشرعية مخرجة فقها على آداب الزيارة، والاستئذان، والكلام، والحديث مع الآخرين في المقدار، والزمان، والمكان، وجنس الكلام، وصفته</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya adab-adab syar’iy tentang telepon dikategorikan secara fikih ke dalam adab-adab berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain, baik dalam aspek kadarnya, waktunya, tempatnya, jenis pembicaraannya, dan sifatnya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itu mengapa beliau menerangkan bahwa ketika A menelepon B, maka yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali adalah A, bukan B seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh masyarakat. Ini karena A adalah orang yang menelepon, sehingga dialah yang seharusnya mengatakan salam pertama kali, sebagaimana ketika A berkunjung ke rumah B dan mengetok pintunya, A adalah yang mengucapkan salam pertama kali dan bukan B.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/52-faedah-seputar-basmalah.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Faedah Seputar Basmalah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Fitur lain yang ada pada telepon adalah chat, yang merupakan percakapan antara dua orang atau lebih menggunakan tulisan yang dikirimkan melalui jaringan internet. Sebagian berpendapat bahwa karena chat adalah sebuah media tulisan, maka ia bisa dianggap sebagai sebuah surat. Dan sunnah dalam surat tertulis adalah memulainya dengan basmalah, dalam rangka meneladani perbuatan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang selalu memulai surat-surat beliau dengan basmalah, dan perbuatan Nabi Sulaiman </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis-salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang memulai suratnya kepada Ratu Balqis, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya: ‘Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, jika dilihat dari sisi cepatnya tukar-menukar pesan dan informasi, maka chat bisa dianggap sebagai sebuah percakapan atau obrolan. Dan sunnah ketika kita menemui orang lain untuk berbicara kepadanya adalah memulai dengan ucapan salam, sebagaimana dalam sebuah hadits di mana seorang laki-laki dari Bani ‘Amir meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> seraya berkata, “Bolehkah aku masuk?” Maka Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata kepada pelayannya, “Keluarlah untuk menemuinya, dan ajarkanlah dia cara untuk meminta izin, katakanlah kepadanya, ‘Katakan: </span><i><span style="font-weight: 400;">Assalamu ‘alaikum</span></i><span style="font-weight: 400;">, bolehkah aku masuk?’” Laki-laki itu mendengar hal ini, lalu dia berkata, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Assalamu ‘alaikum</span></i><span style="font-weight: 400;">, bolehkah aku masuk?” Maka Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pun mempersilakannya dan ia pun masuk.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/35351-jangan-suka-memprovokasi-sesama-muslim.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Suka Memprovokasi Sesama Muslim</a></strong></p>
<p><strong>Manakah yang lebih tepat? Apakah chat hendak dikategorikan sebagai surat sehingga lebih utama untuk memulainya dengan basmalah, atau hendak dikategorikan sebagai percakapan dan obrolan sehingga lebih utama untuk memulainya dengan salam?</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya adalah tergantung apa yang hendak disampaikan melalui media chat tersebut. Jika seseorang hendak mengirimkan sebuah artikel dakwah misalnya, atau sebuah pengumuman penting yang tidak mengandung keharaman di dalamnya, maka memulainya dengan basmalah adalah lebih utama karena ia lebih dekat kepada makna surat. Akan tetapi, jika ia misalnya hendak menyapa rekannya, menanyakan kabar, atau menanyakan sedang berada di mana, yang mana ini semua adalah lebih dekat kepada percakapan dan obrolan, maka memulainya dengan salam adalah lebih utama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh ‘Ubaid ibn ‘Abdillah al-Jabiriy </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">هل يجب رد السلام على الرسائل المكتوبة عبر الإنترنت أو من خلال رسائل الهواتف؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apakah wajib untuk menjawab salam dalam pesan yang dikirimkan melalui internet atau melalui sms?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menjawab:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">يعني هل هذه موجهة للعموم؟ هذا لا بد منه هذا السؤال. أم موجهة لمن أرسلت إليه؟ فإن كانت موجهة إلى شخص معين فلها حالتان: إحداهما: أن يبدأ المرسل بالسلام، فهنا يجب على المرسل إليه رد السلام. الحالة الثانية: ألا يبدأ المرسل بالسلام، يرسل الرسالة عادية غير مبدوأة بالسلام، فهنا المرسل إليه مخير </span><span style="font-weight: 400;">إن شاء بدأ بالسلام وهو الأولى والأفضل</span><span style="font-weight: 400;">، وإن شاء تركه. نعم. أما إذا كانت الرسائل للعامة: فالأمر فيه سعة. لكن من رد السلام فنرجو أنه أصاب السنة إن شاء الله تعالى. نعم</span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yaitu, apakah pesan itu ditujukan kepada umum? Tidak boleh tidak, pertanyaan ini harus diajukan (terlebih dahulu). Ataukah pesan tersebut ditujukan hanya kepada orang tertentu saja?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika pesan itu ditujukan kepada seseorang tertentu, maka ada dua kondisi:</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/31942-adab-berinteraksi-dengan-wanita-di-internet.html" data-darkreader-inline-color="">Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di Internet</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kondisi pertama</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang mengirimkannya memulai dengan salam. Maka di sini wajib bagi si penerima pesan untuk menjawab salam tersebut.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kondisi kedua</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang mengirimkannya tidak memulai dengan salam. Dia mengirimkan sebuah pesan biasa dan tidak dimulai dengan salam. Maka di sini si penerima pesan boleh memilih, </span><span style="font-weight: 400;">dia bisa memulai dengan salam dan itulah yang lebih utama dan afdhal</span><span style="font-weight: 400;">, dan dia juga boleh untuk tidak melakukannya. </span><i><span style="font-weight: 400;">Na’am</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika pesan itu ditujukan kepada umum, maka perkaranya luas. Akan tetapi, barangsiapa yang menjawab salam tersebut maka kami harap dia telah mencocoki Sunnah </span><i><span style="font-weight: 400;">insyaAllahu Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Na’am</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah bagaimana beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyebutkan bahwa memulai dengan salam itu lebih utama dan afdhal ketika kita menuliskan sebuah pesan yang biasa dikirimkan melalui media chat atau sms, yaitu pesan yang bersifat seperti percakapan dan obrolan, dan beliau sama sekali tidak mengkategorikan pesan ini sebagai sebuah surat tertulis, yang lebih utama untuk dimulai dengan basmalah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/20716-fatwa-ulama-mendengarkan-pelajaran-agama-via-internet-dikelilingi-malaikat.html" data-darkreader-inline-color="">Mendengarkan Pelajaran Agama Via Internet Dikelilingi Malaikat?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara logika, pendapat ini pun adalah yang lebih kuat. Jika kita mengkategorikan pesan dalam media chat dan sms itu sebagai layaknya sebuah surat tertulis, maka akan menjadi lebih utama bagi kita untuk menuliskan basmalah di setiap obrolan yang kita tuliskan. Jika dikatakan bahwa obrolan itu biasanya bukan sebuah perkara yang penting, sementara memulai pesan dengan basmalah itu baru disyari’atkan jika pesan itu berupa ilmu syar’iy atau perkara dunia yang bermanfaat, maka kita katakan bahwa betapa sering sebuah obrolan itu juga berisikan hal-hal yang penting atau bahkan sangat penting, baik ia terkait perkara agama ataupun perkara dunia, tetapi tidak pernah dijumpai bahwa kedua belah pihak memulai setiap pesan dalam obrolannya tersebut dengan basmalah. Namun, keduanya akan mengobrol secara mengalir, dan percakapannya itu akan diawali serta ditutup dengan salam.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46442-bahaya-kebiasaan-banyak-komentar-malas-membaca.html" data-darkreader-inline-color="">Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46132-gadget-telah-memalingkan-kita-dari-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-Quran</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><i>Wallahu a’lam bish-shawab</i>.</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pogung Dalangan, 9 Jumada al-Awwal 1440 / 15 Januari 2019</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color="">Andy Octavian Latief</span></strong><br>
<strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 