
<p><span style="font-weight: 400;">Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Ketika turun ayat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</span></i><strong> (al-An’aam: 82). </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Mereka pun mengadu, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”</span></i><strong> (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir</i>, 1/82)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.”</span></i><strong> (Yunus : 106)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57730-belajar-tauhid-mengapa-tidak.html" data-darkreader-inline-color="">Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>at-Tam-hid</i>, hal. 23) </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdul Aziz bin Baz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Syarh Kitab at-Tauhid</i>, hal. 19-20, lihat juga <i>at-Tam-hid</i>, hal. 25)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ubadah bin Shamit </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, dia berkata, “Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.”</span></i><strong> (HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsekuensi dari syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">‘asyhadu anlaa ilaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">subhanahu wa ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dan konsekuensi dari syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. <strong>(Lihat</strong></span><strong><i> Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin</i>, 6/190)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57535-menengok-agungnya-muatan-kitab-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Menengok Agungnya Muatan Kitab Tauhid</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menerangkan, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’</span></i><strong> (al-Furqan : 23).” (Lihat <i>Bahjah al-Qulub al-Abrar</i>, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah;</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.”</span></i><strong> (Ali ‘Imran: 85). </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</i>, hal. 30)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar <strong>(Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan </strong></span><strong><i>hafizhahullah</i> dalam <i>at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah</i>, hal. 145)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”</span></i><span style="font-weight: 400;"><strong> (Ali ‘Imran : 102)</strong>; mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ <strong>(Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul </strong></span><strong><i>Ma’alim at-Tanzil</i>, hal. 229)   </strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57533-tidak-berhasil-dakwah-secara-umum-tanpa-diiringi-dakwah-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah Tauhid</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</i>, hal. 17)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Fath al-Majid</i>, hal. 15-16)    </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;"> maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Fatawa Arkan al-Islam</i> hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <i>rahimahullah</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf</i> [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Dzar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.”</span></i><strong> (HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam an-Nawawi</span><i><span style="font-weight: 400;"> rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” <strong>(Lihat</strong></span><strong><i> Syarh Muslim</i> [2/168])</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam an-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Adapun sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Syarh Muslim</i> [2/168])</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Mu’adz bin Jabal </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dahulu saya pernah membonceng Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?”</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menjawab, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.”</span></i><strong> (HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga<strong> (Lihat </strong></span><strong><i>I’anatul Mustafid</i>, 1/64)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57339-tidak-terlalu-tertarik-belajar-tauhid-karena-belum-paham-tauhid-sepenuhnya.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid Sepenuhnya</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/53132-ketika-para-dai-tauhid-dan-sunnah-dituduh-antek-kafir.html" data-darkreader-inline-color="">Ketika Para Da’i Tauhid dan Sunnah Dituduh Antek Kafir</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. </span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</span></i></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/ariwahyudi" data-darkreader-inline-color="">Ari Wahyudi, S.Si.</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 