
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana sikap yang benar dalam masalah harta dan dunia?</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil kijang. Jika sudah memiliki mobil kijang, dia ingin mendapatkan mobil sedan. Dan seterusnya sampai pesawat pun dia inginkan. Itulah watak manusia yang tidak pernah puas.</span></p>

<h2><b>Melihat Orang Di Bawah Kita dalam Hal Harta dan Dunia</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sikap seorang muslim yang benar, hendaklah dia selalu melihat orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Betapa banyak orang di bawah kita berada di bawah garis <a href="https://rumaysho.com/13597-berantas-kemiskinan-2000-dhuafa-gunungkidul-lewat-zakat.html">kemiskinan</a>, untuk makan sehari-hari saja mesti mencari utang sana-sini, dan masih banyak di antara mereka keadaan ekonominya jauh di bawah kita. Seharusnya seorang muslim memperhatikan petuah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, </span></i><b><i>[</i></b><i><span style="font-weight: 400;">2] beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku</span></i><span style="font-weight: 400;">. …</span><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini </span><b><i>shahih</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">al khalq</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah bentuk tubuh. Juga termasuk di dalamnya adalah anak-anak, pengikut dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi.” (</span><b><i>Fathul Bari</i></b><span style="font-weight: 400;">, 11/32)</span></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Agar Tidak Memandang Remeh Nikmat Allah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan memiliki sifat yang mulia ini yaitu selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah dunia, seseorang akan merealisasikan syukur dengan sebenarnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Munawi –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. Cara mengobati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia). Dengan melakukan semcam ini, seseorang akan ridho dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia) akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang diberikan padanya. Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, hal ini akan membuatnya ridho dan bersyukur atas nikmat Allah padanya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Ghozali –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah[?]’ Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (</span><b>Lihat</b> <b><i>Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir</i></b><span style="font-weight: 400;">, 1/573)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah yang akan membuat seseorang <a href="https://rumaysho.com/3347-tak-sanggup-menghitung-nikmat-allah.html">tidak memandang remeh nikmat Allah</a> karena dia selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Ketika dia melihat juragan minyak yang memiliki rumah mewah dalam hatinya mungkin terbetik, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Rumahku masih kalah dari rumah juragan minyak itu</span></i><span style="font-weight: 400;">.” Namun ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia berkata, “Ternyata rumah tetangga dibanding dengan rumahku, masih lebih bagus rumahku.” Dengan dia memandang orang di bawahnya, dia tidak akan menganggap remeh nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri nikmat tersebut karena dia melihat masih banyak orang yang tertinggal jauh darinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda dengan orang yang satu ini. Ketika dia melihat saudaranya memiliki Blacberry, dia merasa ponselnya masih sangat tertinggal jauh dari temannya tersebut. Akhirnya yang ada pada dirinya adalah kurang mensyukuri nikmat, menganggap bahwa nikmat tersebut masih sedikit, bahkan selalu ada hasad (dengki) yang berakibat dia akan memusuhi dan membenci temannya tadi. Padahal masih banyak orang di bawah dirinya yang memiliki ponsel dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Inilah cara pandang yang keliru. Namun inilah yang banyak menimpa kebanyakan orang saat ini.</span></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalam Masalah Agama dan Akhirat, Hendaklah Seseorang Melihat Orang Di Atasnya</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah agama, berkebalikan dengan masalah materi dan dunia. Hendaklah seseorang dalam masalah agama dan akhirat selalu memandang orang yang berada di atasnya. Haruslah seseorang memandang bahwa amalan sholeh yang dia lakukan masih kalah jauhnya dibanding para Nabi, shidiqn, syuhada’ dan orang-orang sholeh. Para salafush sholeh sangat bersemangat sekali dalam kebaikan, dalam amalan shalat, puasa, sedekah, membaca Al Qur’an, menuntut ilmu dan amalan lainnya. Haruslah setiap orang memiliki cara pandang semacam ini dalam masalah agama, ketaatan, pendekatan diri pada Allah,  juga dalam meraih pahala dan surga. Sikap yang benar, hendaklah seseorang berusaha melakukan kebaikan sebagaimana yang salafush sholeh lakukan. Inilah yang dinamakan berlomba-lomba dalam kebaikan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah berlomba-lomba untuk meraih kenikmatan surga, Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Al Muthaffifin: 22-26)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Qurtubhi mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Berlomba-lombalah di dunia dalam melakukan <a href="https://rumaysho.com/26117-khutbah-jumat-umur-kita-terbatas-amalan-yang-bisa-ditinggalkan.html">amalan shalih</a>.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (</span><b><i>At Tadzkiroh Lil Qurtubhi</i></b><span style="font-weight: 400;">,  hal. 578)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat lainnya, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Ma’idah: 48)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Ali Imron: 133)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang dilakukan oleh para salafush sholeh, mereka selalu berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana dapat dilihat dari perkataan mereka berikut ini yang disebutkan oleh Ibnu Rojab –rahimahullah-. Berikut sebagian perkatan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Hasan Al Bashri mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahib bin Al Warid mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian salaf mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لو أن رجلا سمع بأحد أطوع لله منه كان ينبغي له أن يحزنه ذلك</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (</span><b><i>Latho-if Ma’arif</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 268)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun berbeda dengan kebiasaan orang saat ini. Dalam masalah amalan dan pahala malah mereka membiarkan saudaranya mendahuluinya. Contoh gampangnya adalah dalam mencari <a href="https://rumaysho.com/17030-mengejar-shaf-pertama.html">shaf pertama</a>. </span><i><span style="font-weight: 400;">“Monggo pak, bapak aja yang di depan”</span></i><span style="font-weight: 400;">, kata sebagian orang yang menyuruh saudaranya menduduki shaf pertama. Padahal shaf pertama adalah sebaik-baik shaf bagi laki-laki dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Seandainya seseorang mengetahui keutamaannya, tentu dia akan saling berundi dengan saudaranya untuk memperebutkan shaf pertama dalam shalat, bukan malah menyerahkan shaf yang utama tersebut pada orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf pertama, sedangkan yang paling jelek bagi laki-laki adalah shaf terakhir. Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah shaf terakhir, sedangkan yang paling jelek bagi wanita adalah shaf pertama</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Mari kita saling berlomba dalam meraih surga dan pahala di sisi Allah!</span></i></p>
<h1><span style="font-size: 18pt;"><b>Kekayaan Paling Hakiki adalah Kekayaan Hati</b></span></h1>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia agar kita menjadi orang yang bersyukur dan </span><i><span style="font-weight: 400;">qana’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah berikan, juga tidak hasad (dengki) dan tidak iri pada orang lain. Karena ketahuilah bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati yaitu hati yang selalu merasa cukup dengan karunia yang diberikan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “</span><i><span style="font-weight: 400;">Kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup)</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seandainya seseorang mengetahui kenikmatan yang seolah-olah dia mendapatkan dunia seluruhnya, tentu betul-betul dia akan mensyukurinya dan selalu merasa qona’ah (berkecukupan). Kenikmatan tersebut adalah kenikmatan memperoleh makanan untuk hari yang dia jalani saat ini, kenikmatan tempat tinggal dan kenikmatan kesehatan badan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">من أصبح منكم آمنا في سربه معافى في جسده عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><b><i>hasan</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, banyak berdo’alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah do’a:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">‘afaf</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ghina</span></i><span style="font-weight: 400;">) (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (</span><b><i>Syarh Muslim</i></b><span style="font-weight: 400;">, 17/41)</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ya Allah, berikanlah pada kami sifat ‘afaf dan ghina. Amin Yaa Mujibas Sa’ilin.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/25050-hadits-arbain-40-hidup-di-dunia-hanya-sebentar.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hadits Arbain #40: Hidup di Dunia Hanya Sebentar</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/22468-doa-meminta-aafiyah-di-dunia-dan-akhirat.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Doa Meminta Aafiyah di Dunia dan Akhirat</strong></span></a></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">****</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel https://rumaysho.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">7 Jumadil Ula 1430 H</span></p>
 