
<p><em>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/42015-lima-kiat-untuk-istiqamah-dalam-beramal-bag-1.html"><b>Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal (Bag. 1)</b></a></em></p>
<p><b>Ke tiga: Meyakini adanya balasan yang agung dan kebaikan yang banyak dari suatu amal yang rutin dikerjakan</b></p>
<p>Kiat ke tiga agar kita rajin beramal adalah menghadirkan di dalam hati adanya balasan yang agung dan juga kebaikan yang banyak sebagai buah atau hasil dari amal yang rutin kita kerjakan, baik balasan di dunia maupun balasan di akhirat.</p>
<p>Allah Ta’ala telah menyiapkan balasan bagi orang-orang yang beramal shalih berupa kebaikan dan nikmat yang banyak, baik untuk dunia atau pun akhirat mereka. Kebaikan ini merupakan sebab luasnya rizki mereka di dunia dan keberkahan umur mereka. Selain itu juga sebagai sebab hilangnya kegalauan dan kesedihan berkaitan dengan segala sesuatu yang telah, sedang atau akan terjadi. Dan amal shalih juga di antara sebab terhindarnya seseorang dari musibah dan bencana.</p>
<p>Ketika kita konsisten menjaga dan berakhlak terhadap orang-orang yang sudah berusia lanjut di tengah-tengah kita, maka Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّمَا َتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ</span></p>
<p>“Hanyalah kalian ditolong (diberi kemenangan) dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian.” <b>(HR. Abu Nu’aim dalam </b><b><i>Ma’rifatish Shahabah </i></b><b>no. 577, dari hadits Abu ‘Ubaidah </b><b><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></b><b>dan di dalamnya terdapat perawi bernama Al-Waqidi. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar no. 1159 dari hadits Sa’ad </b><b><i>radhiyallahu ‘anhu.</i></b><b>)</b></p>
<p>Orang-orang yang berusia lanjut tentu saja termasuk dalam orang-orang yang lemah.</p>
<p>Hadits di atas, meskipun sanadnya bermasalah <i>(dha’if)</i>, namun maknanya dikuatkan oleh hadits shahih berikut ini, dimana Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ابْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ</span></p>
<p>“Carikan untukku orang-orang lemah di antara kalian. Kalian hanyalah diberikan rizki dan diberi pertolongan dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.” <b>(HR. Ahmad no. 21731; Abu Dawud no. 2594; At-Tirmidzi no. 1702; An-Nasa’i no. 3179. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Ash-Shahihah </i></b><b>no. 780.)</b></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</span></p>
<p>“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya dia menyambung hubungan dengan kerabatnya.” <b>(HR. Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)</b></p>
<p>Jika seseorang memahami keutamaan-keutamaan di atas, tentu saja akan mendorongnya untuk senantiasa menjaga amal tersebut dan rutin melaksanakannya.</p>
<p><b>Ke empat: Senantiasa mengingat kaidah </b><b><i>“al-jazaa’ min jinsil ‘amal”</i></b></p>
<p>Kiat ke empat adalah senantiasa mengingat satu kaidah syar’i yang telah ditunjukkan oleh berbagai dalil syariat, yaitu kaidah:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كما تدين تدان</span></p>
<p>“Sebagaimana Engkau berbuat, Engkau akan mendapatkan balasan yang semisal.”</p>
<p>Dengan kata lain, <i>“al-jazaa’ min jinsil ‘amal” </i>(balasan itu semisal dengan amal yang dilakukan).</p>
<p>Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ</span></p>
<p>“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” <b>(QS. Ar-Rahman [55]: 60)</b></p>
<p>Dan sebaliknya, Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى</span></p>
<p>“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” <b>(QS. Ar-Ruum [30]: 10)</b></p>
<p>Oleh karena itu, balasan kebaikan adalah kebaikan yang semisal. Sebaliknya, balasan dari kejelekan adalah kejelekan yang semisal.</p>
<p>Ketika kita memahami hal ini, maka akan mencegah diri kita dari beramal buruk karena kita khawatir akan mendapatkan balasan buruk dari perbuatan yang kita lakukan. Sehingga hal ini pun akan membantu kita untuk konsisten dan kontinyu dalam beramal shalih dan menjauhi berbagai macam keburukan (maksiat).</p>
<p><b>Ke lima: Senantiasa mengingat dan merenungkan semangat ulama salaf dalam beramal</b></p>
<p>Kiat terahir yang tidak kalah penting agar kita senantiasa bersemangat beramal shalih adalah kita merenungkan kondisi kehidupan para ulama salaf terdahulu. Kalau kita melihat dan membaca buku-buku sejarah para sahabat Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, kita akan jumpai kisah dan perjalanan hidup yang akan memotivasi kita untuk semangat beramal.</p>
<p>Hal semacam ini tentu saja tidak didapatkan oleh orang-orang yang sibuk dengan kabar dan berita para pemain sepak bola atau para seniman (artis), sehingga terjauhkan dari kisah-kisah para ulama salaf terdahulu.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ومن كان بهم أشبه كان فيه أكمل</span></p>
<p>“Siapakah yang paling mirip dengan mereka (ulama salaf), merekalah yang paling sempurna.” <b>(</b><b><i>Majmu’ Fataawa, </i></b><b>10/210)</b></p>
<p>Sungguh indah ucapan penyair,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كرر علي حديثهم ياحادي .. فحديثهم يجلي الفؤاد الصادي</span></p>
<p>“Wahai guru, ulang-ulangilah cerita tentang mereka (ulama salaf). Cerita tentang mereka itu akan membersihkan hati yang berkarat.”</p>
<p>Inilah lima kiat agar seseorang bisa rutin dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita utk melaksanakannya.</p>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p>@Sint-Jobskade 718 NL, 24 Ramadhan 1439/ 9 Juni 2018</p>
<p>Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,</p>
<p><b>Penulis: M. Saifudin Hakim</b></p>
<p>Artikel: Muslim.Or.Id</p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p>Disarikan dari kitab <b><i>Huquuq kibaaris sinni fil Islaam</i></b> karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 20-30.</p>
 