
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu ‘alaikum</em>. Begini, Ustadz. Pakaian saya, pada malam hari, ada yang terkena najis. Pagi hari, saya lupa menggantinya. Setelah beres shalat shubuh, saya baru ingat. Jika shalat saya harus diulang, apakah hanya shalat shubuhnya yang diulang ataukah boleh <em>qabliyah</em> shubuhnya juga diulang? Mana yang didahulukan: shalat shubuh dulu atau <em>qabliyah</em> shubuh dulu?</p>
<p><em>Tedi Permana (teddy_**@***.co.id)</em><br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Orang yang shalat dengan pakaian yang terkena najis, baik karena dia tidak tahu atau karena dia lupa, padahal sebelumnya dia tahu bahwa pakaiannya itu bernajis dan dia baru teringat tentang hal itu setelah dia selesai shalat, maka <strong>shalatnya sah dan tidak perlu diulang</strong>.</p>
<p>Bagaimana jika hal itu diketahui/diingat di tengah shalat? Dalam hal ini, ada rincian:<br>
1. <strong>Jika memungkinkan untuk dilepas</strong>–artinya, jika pakaian itu dilepas maka tidak sampai membuka aurat–maka pakaian tersebut harus dilepas. Seperti, peci atau yang lainnya.<br>
2. <strong>Jika tidak memungkinkan untuk dilepas</strong>, karena jika dilepas maka auratnya bisa terbuka, maka pakaian tersebut tidak perlu dilepas, dan shalatnya sah. (Keterangan dari Syekh Abdul Azhim Al-Badawi, dalam <em>Al-Wajiz</em>, hlm. 81)</p>
<p>Dalilnya adalah hadis dari Abu Said Al-Khudri, bahwa suatu ketika, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melepas sendalnya ketika beliau shalat. Para <em>shahabat</em> yang bermakmum di belakang beliau pun ikut-ikutan melepas sendal mereka. Setelah selesai shalat, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Apa yang menyebabkan kalian melepaskan sendal kalian?” Mereka menjawab, “Kami melihat Anda melepas sandal, sehingga kami pun mengikutinya.” Kemudian, beliau menjelaskan, “Sesungguhnya, Jibril mendatangiku dan memberitahukan padaku bahwa di kedua sendalku ada najis (sehingga beliau pun melepas kedua sendal beliau, <em>pent.</em>).” (HR. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<p><strong>Kandungan fikih pada hadis tersebut</strong>: Andaikan shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu–bahwa di bagian pakaiannya ada najis–itu dihukumi batal, tentu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan mengulangi shalatnya dari awal. Namun, dalam hadis di atas, beliau hanya melepas sendal dan tidak mengulangi shalatnya dari awal.</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong>.<br>
<strong>Artikel <a href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
 