
<p><strong>Baca bagian sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/71406-maafkan-aku-yaa-allah-aku-tunanetra-bag-1-pulangnya-hati.html" data-darkreader-inline-color="">Maafkan Aku Yaa Allah, Aku Tunanetra (Bag.1): Pulangnya Hati</a></span></strong></p>
<p>Buta tidak menjadi uzur untuk mendatangi panggilan Allah <em>Ta’ala</em>. Terbatasnya penglihatan bukan jadi alasan untuk tidak segera menegakkan tiang agama. Kaki harus tetap melangkah meski harus tertatih meraba apa yang ada di hadapannya. Kadang terjatuh, terperosok di jalan, tersandung batu, atau menabrak tembok.</p>
<p>Berjalan menuju masjid terlihat penuh tantangan bagi orang buta sepertiku. Mencari pintu masjid pun bukan hal sepele yang begitu saja mudah dilakukan. Menemukan saf salat juga menjadi hal yang cukup rumit. Mungkin seperti itu juga yang dirasakan oleh lelaki buta yang menemui Rasullullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu’anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"> أَتَى النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلٌ أعْمَى ، فقَالَ : يا رَسُولَ اللهِ ، لَيسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إلى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّي فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَّمَا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ لَهُ: ((هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟)) قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : ((فَأجِبْ))</span></p>
<p>“Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> untuk memberinya keringanan sehingga dapat salat di rumahnya. Lalu Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, <em>‘Apakah engkau mendengar panggilan salat?’</em> Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, <em>‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut’</em> (HR. Muslim no. 503).</p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><em><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/43223-keutamaan-dan-kewajiban-shalat-berjamaah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah (Bag. 1)</a></em></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keutamaan salat jamaah</strong></span></h2>
<p>Yaa Allah, maafkan aku yang kadang lambat memenuhi seruanmu. Yaa Allah, maafkan aku yang tidak segera memilih saf salat paling depan. Yaa Allah, bersihkan hati ini dari penyakit yang terkadang muncul ketika melihat orang-orang yang Engkau beri nikmat kesehatan fisik, namun tidak menggunakannya untuk bersegera memenuhi panggilan-Mu.</p>
<p>Apa yang membuatnya berat untuk melangkahkan kakinya ke masjid? Sedangkan mereka telah Allah <em>Ta’ala</em> berikan berbagai sebab yang membuatnya mudah berjalan menuju masjid dan bersegera melaksanakan kewajiban salat berjamaah. Padahal banyak saudara muslim yang kesulitan untuk sekedar melangkahkan kakinya menuju rumah Allah. Bukan karena jauhnya hati mereka dari masjid, namun memang karena keterbatasan fisik membuatnya demikian.</p>
<p>Setiap langkah yang banyak disepelakan dan dilalaikan itu sesungguhnya sangat berarti. Bahkan Allah <em>Ta’ala</em> memberikan keutamaan besar di dalamnya.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مَنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً</span></p>
<p>“<em>Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat</em>” (HR. Muslim no. 666).</p>
<p>Engkau yang masih bisa berjalan dengan mudah, diberikan kesehatan badan dan akal untuk lebih mudah mengerjakan berbagai amal ibadah, hujah (alasan) apa yang akan bisa engkau berikan di hadapan Allah <em>Ta’ala</em> jika seluruh anggota tubuh telah memberikan persaksian?</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</span></p>
<p><em>“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka. Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”</em> (QS. Yasin: 65).</p>
<p>Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di <em>Rahimahullah</em> menjelaskan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">شهد عليهم كل عضو من أعضائهم، فكل عضو يقول: أنا فعلت كذا وكذا، يوم كذا وكذا. وخص هذه الأعضاء الثلاثة، لأن أكثر الذنوب، إنما تقع بها، أو بسببها</span></p>
<p>“Anggota badan akan bersaksi memberatkan manusia. Setiap anggota badan akan mengatakan, ‘Saya telah melakukan ini dan itu, pada hari ini dan itu.’ Dan dikhususkan tiga anggota badan dalam ayat ini (pendengaran, penglihatan, dan kulit) karena mereka lah yang paling banyak berbuat dosa. Mereka yang mengerjakannya atau mereka menjadi sebab terjadinya dosa” <em>(Tafsir As-Sa’di).</em></p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/66281-hukum-shalat-berjamaah-bagi-musafir.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Shalat Berjamaah bagi Musafir</a></strong></span></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/24680-fatwa-ulama-apakah-orang-sakit-dibolehkan-tidak-menghadiri-shalat-berjamaah-di-masjid.html"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat</strong></span> Berjamaah Di Masjid?</a></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/saktyawan" data-darkreader-inline-color="">Fauzan Harry Saktyawan</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 