
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Larangan untuk Takut Yang Mengarah pada Kesyirikan</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Takut yang mengarah pada kesyirikan adalah jenis takut yang dilarang dalam firman Allah QS. Al-An’aam: 81. Dalam ayat tersebut, Allah mengabarkan bahwa Nabi Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا ۚ فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kalian persekutukan (dengan Allah), padahal kalian tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepada kalian untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kalian mengetahui?” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-An’aam: 81).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Telah dijelaskan, bahwa Nabi Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan</span></p>
<p style="text-align: right;">{وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ}</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kalian persekutukan (dengan Allah)</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Para Ulama menjelaskan bahwa kaum musyrikin yang dihadapi beliau ketika itu takut (takut jenis ibabah) kepada sesembahan-sesembahan selain Allah yang mereka sembah. Oleh karena itu Nabi Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengingkari kesyirikan tersebut.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Jenis <em>Khauf</em> (takut) Yang Bukan Ibadah</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jenis <em>khauf</em> yang tidak mengandung penyembahan seperti  kedua macam <em>khauf</em> di atas, maka bukanlah termasuk ibadah, sehingga jika <em>khauf</em> tersebut ditujukan kepada selain Allah, maka bukanlah kesyirikan. Berikut ini perinciannya,</span></p>
<p><b>1. <em>Khauf thabi’i</em> (takut manusiawi),</b><span style="font-weight: 400;"> rasa takut seperti ini biasa terjadi pada manusia dan hukum asalnya mubah. Misalnya takut terhadap panasnya api, binatang buas dan takut jatuh dari tempat yang tinggi. Takut jenis inipun dialami oleh Nabi Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam</span></i><span style="font-weight: 400;">, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Karena itu, jadilah Nabi Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya)” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Qashash: 18).</span></p>
<p><b><i>2. Khauf Muharram </i></b><b>(takut yang hukumnya haram)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya secara asalnya, takut yang satu ini adalah jenis takut yang ketiga tersebut di atas, namun mengakibatkan ditinggalkannya kewajiban atau dilakukannya keharaman, maka hukumnya menjadi haram, karena segala sesuatu yang menjadi sebab ditinggalkannya sebuah kewajiban atau dilakukannya suatu keharaman, maka hukumnya haram. Misalnya, seorang bawahan yang diancam oleh atasannya akan dipecat dari pekerjaannya, jika tidak mau diajak korupsi bersama, lalu ia takut dipecat sehingga ia mau melakukan korupsi bersama dengan atasannya tersebut.</span></p>
<p><b>3. <em>Khauf Wahmi</em> (takut yang penyebabnya tidak ada atau lemah)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya, seseorang yang takut terhadap suara angin biasa yang mengakibatkan pergesekan dahan-dahan pepohonan di malam hari, dia merasa ketakutan dengan sebab yang tidak jelas dan lemah. Orang yang seperti ini disifati dengan penakut dan tercela.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Takut yang terpuji dan tercela</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Takut kepada Allah adalah ibadah hati yang harus ada dalam hati seorang muslim dan muslimah yang <em>mukallaf</em> (yang dibebani syari’at). Takut yang terpuji adalah takut yang mendorong pelakunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan menjauhi keharaman. Sedangkan takut yang menyebabkan pelakunya putus asa dari rahmat Allah adalah takut yang tercela. Jadi takut yang benar haruslah bergandengan dengan <em>raja’</em> (harapan) yang benar.</span></p>
<p><b>[bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 