
<p><strong>Madzi dan Wadi</strong></p>
<p><strong>Madzi </strong>adalah cairan bening, halus dan lengket yang keluar ketika adanya dorongan syahwat, seperti bercumbu, mengingat jima’ (persetubuhan) atau menginginkannya. Keluarnya madzi <strong>tidak memancar</strong> dan tidak diakhiri dengan rasa lemas atau kendornya syahwat, bahkan terkadang seseorang tidak merasakan keluarnya madzi. Air ini terjadi pada kaum lelaki maupun kaum wanita, akan tetapi lebih sering pada kaum wanita. Air tersebut adalah <strong>najis </strong>berdasarkan kesepakatan ulama.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Sedangkan <strong>wadi </strong>adalah cairan berwarna putih dan kental, biasanya keluar setelah buang air kecil. Air tersebut najis berdasarkan ijma’. (Al-Wajiz, hal. 58; <em>Ensiklopedi Fiqh Wanit</em>a, I/25;<em> Ensiklopedi Shalat</em>, I/19;<em> Fiqhus Sunnah</em>, I/48)</p>
<p>Cara membersihkan madzi dan wadi adalah dengan <strong>mencuci kemaluan</strong>, berdasarkan riwayat  dari ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> yang menyuruh Miqdad bin al-Aswad <em>radhiyallahu ‘anhu</em> untuk bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> perihal dirinya yang sering mengeluarkan madzi, dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">يغـسل ذكره ويتـوضأ</p>
<p><em>“(Hendaklah) dia mencuci kemaluannya dan berwudhu’.” </em>(Shahih, riwayat Bukhari (no. 269), dalam<em> Fat-hul Baari</em> (I/230 no. 132) dan Muslim (no. 303))</p>
<p>Dan apabila air madzi mengenai pakaian, maka cukup dibersihkan dengan menyiramkan <strong>air setelapak tanga</strong>n ke pakaian yang terkena madzi tersebut. Hal ini berdasarkan riwayat Sahl bin Hunaif <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai madzi yang mengenai pakaiannya, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p class="arab">يكفيك أن تأخذ كفا من ماء فتـنضح به ثو بك حيث ترى أنه قد أصاب منه</p>
<p><em>“Cukuplah bagimu mengambil air satu telapak tangan, lalu tuangkanlah ke pakaianmu (yang terkena madzi) sampai engkau lihat air tersebut mengenainya (membasahinya).</em>” (Hasan, riwayat Abu Dawud (no. 215), Tirmidzi (no. 115) dan Ibnu Majah (no. 506))</p>
<p>*Catatan:</p>
<p><strong>Mani </strong>adalah cairan yang keluar dari kemaluan yang disertai dengan rasa nikmat. Dan keluarnya cairan ini menyebabkan seseorang wajib mandi janabat. Sebagian orang menganggap mani itu najis, akan tetapi menurut pendapat yang kuat <strong>hukum mani tidaklah najis</strong>. (Lihat <em>Ensiklopedi Shalat</em>, I/19-20; <em>Fiqhus Sunnah</em>, I/49-50)</p>
<p><strong>Kotoran Hewan yang Dagingnya Tidak Boleh Dimakan</strong></p>
<p>Kotoran hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan adalah najis, hal ini berdasarkan riwayat dari ‘Abdullah<em> radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p class="arab">أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يتبرز. فقال: ائتني بثلاثة أحجار. فو جدت حجرين وروثة فأمسك الحجرين وطرح الروثة, وقال: هي رجس</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hendak buang air besar, lalu beliau berkata, ‘Bawakan untukku tiga batu!’ Kemudian kudapati untuk beliau dua batu dan satu kotoran. Beliau mengambil dua batu dan melemparkan kotoran, lalu bersabda, ‘Ia kotor lagi keji (najis).'” (Shahih, riwayat Bukhari Shahih-nya(no. 156), Ibnu Majah dalam Shahih-nya (no. 253), Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (I/39 no. 70), an-Nasa’i (I/39), Tirmidzi (I/13))</p>
<p>Kata رِجْسٌ bermakna najis.</p>
<p>Dan cara membersihkannya sama dengan membersihkan kotoran manusia (point A).</p>
<p><strong>Air Liur Anjing</strong></p>
<p>Air liur anjing adalah najis. Adapun seluruh tubuh dan bulunya, kecuali mulutnya, pada dasarnya adalah suci. <em>(Ensiklopedi Fiqh Wanita</em>, I/26-27)</p>
<p>Untuk membersihkan air liur anjing yang mengenai benda, maka bisa dilakukan dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan cucian pertama dicampur dengan tanah. Jika yang dikenai adalah makanan, maka hendaklah membuang bagian yang terkena air liur tersebut dan yang disekelilingnya, sedang sisanya masih dianggap suci. (<em>Fiqhus Sunnah</em>, I/55)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">طهـور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولا هن بالتراب</p>
<p><em>“Sucinya bejana salah seorang di antara kalian jika dijilati anjing adalah dengan mencucinya sebanyak tujuh kali, dan yang pertama kali dicampur dengan tanah.”</em> (Shahih, riwayat Muslim (no. 279). Lihat juga <em>Shahih Jami’ush Shaghir</em> (no. 3933))</p>
<p><em>Bersambung insya Allah…</em></p>
<p>Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly  bintu Muhammad<br>
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar</p>
<p>***<br>
Artikel muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 