
<p>Berapa banyak wali murid yang sanggup membayar SPP yang tinggi, namun tak kunjung mendapatkan tingginya iman dan akhlak anak kesayangannya?</p>
<p>Berapa banyak murid yang sekolah di gedung yang besar, namun kerdil  jiwa lulusannya?</p>
<p>Berapa banyak sekolah yang berfasilitas mewah semewah hotel, dengan ribuan murid, namun sayangnya semakin megah fisiknya, semakin banyak yang lemah iman, ilmu, dan, amalnya.</p>
<p>Kasus demi kasus melanda, bukan hanya muridnya yang berkasus, namun juga sebagian gurunya pun berkasus! Dari sisi ilmu tidak bisa bersaing, dari sisi amal, akhlaq, dan ibadah memprihatinkan.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Lihatlah Hakikat dan jangan tertipu dengan yang </b><b><i>zahir</i></b><b>!</b></span></h4>
<p>Hakikat suatu pendidikan bukan ditentukan berdasarkan banyaknya murid, bukan pula pada megahnya bangunan, dan fasilitas, akan tetapi ditentukan berdasarkan baiknya tujuan dan niat (ikhlas), serta sesuainya bentuk pendidikan itu dengan sunnah Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>dengan manhaj salaf (<i>mutaba’ah</i>). <i>Na’am</i>, sarana dan fasilitas fisik memiliki andil besar, namun sifatnya penunjang, bukan yang pertama dan utama.</p>
<p>Memang benar kurikulum pelajaran yang <i>zahir </i>sangat penting. Namun kurikulum<i> khafiy </i>juga tidak bisa disepelekan, keikhlasan guru dan muridnya, semangat, contoh nyata pengamalan sunnah dari guru dan murid seniornya (kakak kelas), pergaulan murid-muridnya, dan lingkungan sekolahnya. Semua itulah hakikatnya. Mengajarkan dan menanamkan “sesuatu” kepada murid-murid tersebut  bisa jadi lebih besar pengaruhnya daripada pemahaman, hafalan, pengerjaan soal ujian yang merupakan target kurikulum <i>zahir.</i></p>
<p>Alangkah indahnya ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah:</p>
<p class="arab">“فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر”</p>
<p>“<i>Ciri khas orang yang berakal sehat adalah suka melihat hakekat dan tidak tertipu dengan perkara yang zahir</i>”.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Madrasah Salaf</b></span></h4>
<p>Lihatlah bagaimana madrasah <i>Salafush Shalih</i> yang walaupun terkadang sedikit muridnya, walaupun sederhana bangunannya, namun karena taufik dari Allah lalu keikhlasan dan <i>mutaba’ah</i> mereka (gigihnya memegang sunnah), tumbuhlah sebuah madrasah yang <i>mubarakah</i>, keluarlah darinya lulusan-lulusan insan-insan yang bertakwa.</p>
<p>Salah satu Imam Ahlus Sunnah dari kalangan <i>Tabi’ut Tabi’in</i>, Imam Al-Auza’i <i>rahimahullah</i> mengisahkan tentang jumlah orang yang menghadiri majelis guru beliau, Imam Atha’ bin Abi Rabaah <i>rahimahullah</i> (beliau adalah salah seorang imam dari kalangan <i>Tabi’in</i>, murid Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah <i>radiyallahu an hum</i>. Imam Auza’i mengatakan tentang hal itu</p>
<p class="arab">مات عطاء بن أبي رباح يوم مات , وهو أرضى أهل الأرض عند الناس , وما كان يشهد مجلسه إلا تسعة أو ثمانية. اهـ</p>
<p>“Pada hari meninggalnya Atha’ bin Abi Rabaah rahimahullah, beliau menjadi orang yang paling dicintai di muka bumi di zamannya, padahal dulu ketika hidupnya, pernah didapati “tidaklah ada orang yang menghadiri majelisnya kecuali hanya 9 atau 8 orang saja”.</p>
<p>Orang yang paling dicintai di zamannya, seorang imam besar ternyata pernah didapati yang menghadiri majelisnya hanya sembilan atau delapan orang saja. Padahal dengan taufik Allah, muncullah nama-nama besar dari madrasah beliau yang sederhana itu, semisal Imam Abu Hanifah, Al-Auza’i, dan yang lainnya.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Silsilatudz Dzahab</b></span></h4>
<p>Ada sebuah kisah yang menarik tentang Imam Nafi’ <i>rahimahullah</i> salah satu dari Imam-Imam <i>Tabi’in</i> dan salah seorang yang disebut-sebut ulama termasuk dari <i>Silsilatudz Dzahab</i> (Rangkaian sanad emas) dan dikatakan oleh Imam Al-Bukhari <i>rahimahullah</i> sebagai <i>s</i><i>anad</i> yang paling <i>shahih.</i></p>
<p class="arab">قال البخاري رحمه الله :  أصح الأسانيد كلها : مالك عن نافع عن ابن عمر</p>
<p>Al-Bukhari <i>rahimahullah </i>berkata, “<i>Sanad</i> yang paling <i>shahih</i> adalah jika suatu riwayat diriwayatkan dari Malik, Nafi’, dan Ibnu ‘Umar”.</p>
<p>Di antara kebiasaan beliau adalah menyediakan waktu mengajarkan Ilmu <i>ba’da</i> Shalat Subuh sampai terbit matahari, nah Imam Malik <i>rahimahullah</i> yang merupakan murid beliau berkata,</p>
<p class="arab">وكان يجلس بعد الصبح في المسجد لا يكاد يأتيه أحد</p>
<p>“Pernah suatu saat beliau duduk di Masjid <i>ba’da</i> Shalat Shubuh, namun hampir-hampir tidak ada seorang pun yang mendatangi beliau”.</p>
<p>Orang yang termasuk <i>Silsilatudz Dzahab</i> dan <i>Ashahhul Asaniid</i> ini pernah didapati hampir-hampir tidak ada seorangpun yang mendatangi beliau.</p>
<p>Apakah karena sedikitnya orang yang menghadiri majelis beliau lalu hakikatnya tidak sukses sekolah yang beliau pimpin? Padahal sekolah tersebut, majelis beliau tersebut telah meluluskan alumnus-alumnus besar sekelas Imam Malik dan Imam Al-Hafidz Ayub As-Sikhtiyani.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Cambuk bagi kita</b></span></h4>
<p>Semua itu sebagai cambuk bagi kita untuk terus mempelajari mengapa dan bagaimana pendidikan mereka bisa sukses dan berusaha keras untuk berbenah diri. Itulah hakikat bermanhaj salaf, senantiasa mencontoh bagaimana <i>Salafus Shalih</i> berilmu dan mengamalkan Islam.</p>
<p class="arab">والله أعلم بالصواب.</p>
<p> </p>
[Diolah dari ceramah Ustadzunal Fadhil Abdullah Taslim, Lc., MA. dengan penambahan]
<p>—</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukkasyah</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 