
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46296-manakah-yang-lebih-utama-wanita-shalat-di-rumah-atau-di-masjid-bag-2.html" data-darkreader-inline-color=""> Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 2)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"> 5. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad <i>hafizhahullah</i></span></h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ Manakah yang lebih utama : i’tikaf wanita di Masjid Nabawi ataukah duduknya mereka di rumah mereka (untuk beribadah, pent.) ? Tolong disebutkan dalilnya.”</span></p>
<p> </p>
<p><b>Beliau menjawab:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Duduknya mereka di rumah mereka (untuk beribadah, pent.) lebih utama dan hal ini adalah perkara yang tidak ada keraguan (didalamnya)!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">(صلاة المرأة في بيتها أفضل)</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama” </span></i><span style="font-weight: 400;">dan seterusnya sampai akhir hadits yang menunjukan bahwa sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada sholatnya di masjid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, janganlah wanita tersebut dilarang dari pergi ke masjid jika ia menginginkannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian berarti tetapnya ia di rumahnya (untuk beribadah) dan tidak mendatangi masjid itu lebih utama baginya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi (yang perlu diingat) bahwa i’tikaf tidak boleh dilakukan kecuali di masjid dan tidak sah dilakukan di rumah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ia ingin i’tikaf (di masjid), maka silakan saja, sebagaimana ia dipersilahkan mendatangi masjid dan sholat di dalamnya (jika menginginkannya, pent.), namun rumahnya lebih utama baginya”.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/39376-sunnah-membantu-istri-di-rumah.html" data-darkreader-inline-color="">Sunnah Membantu Istri di Rumah</a></span></strong></p>
<h2>
<span style="font-size: 21pt;"> 6. Fatwa Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin </span><i><span style="font-size: 21pt;">rahimahullah</span> </i>
</h2>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ Apakah wanita seperti laki-laki dalam masalah sholat sunah Rawatib, Witir, Dhuha, dan duduk di masjid setelah Fajar (sholat Shubuh) hingga terbit matahari -maksudnya- di tempat sholatnya? Tolong jelaskan hal ini dan Jazakumullahu khairan”</span></p>
<p><b>Beliau menjawab:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada asalnya bahwa laki-laki dan wanita sama dalam masalah hukum Syar’i kecuali sesuatu yang ditunjukkan dalil bahwa sesuatu tersebut khusus untuk laki-laki, barulah hukumnya khusus untuk laki-laki, atau (dalil menunjukkan) sesuatu itu khusus bagi wanita, maka hukumnyapun khusus pula bagi wanita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sholat jama’ah, misalnya, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ibadah tersebut khusus bagi laki-laki, merekalah yang diwajibkan untuk sholat berjama’ah, dan menunaikannya di masjid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun wanita, maka ia tidak diwajibkan untuk sholat berjama’ah, tidak wajib baginya sholat berjama’ah di masjid bersama dengan jama’ah laki-laki, dan tidak wajib pula baginya berjama’ah di rumahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan sesungguhnya (sholat di) rumahnya lebih utama baginya daripada menghadiri sholat berjama’ah bersama dengan jama’ah laki-laki (di masjid), karena Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">«</span><span style="font-size: 21pt;">لا تمنعوا إماء الله مساجد الله وبيوتهن خير لهن»</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Janganlah kalian larang wanita hamba Allah pergi ke masjid-masjid Allah, namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”, </span></i><span style="font-weight: 400;">kalimat yang terakhir ini:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">«</span><span style="font-size: 21pt;">وبيوتهن خير لهن»</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”,</span></i><span style="font-weight: 400;"> walaupun tidak terdapat dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash-Shahihain, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun kalimat ini shahih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, wanita itu seperti laki-laki dalam seluruh permasalan hukum, maka jika ia sedang bersafar, disyari’atkan baginya untuk melakukan ibadah seperti ibadah yang dilakukan laki-laki, maksudnya ia tidak melakukan sholat: rowatib Zhuhur dan rowatib Maghrib, dan rowatib Isya’, adapun selebihnya dari sunnah-sunnah lainnya, maka tetap tertuntut untuk ia lakukan, sebagaimana laki-laki melakukan hal itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun masalah duduknya seorang wanita di tempat sholatnya di dalam rumahnya hingga terbit matahari, lalu sholat dua raka’at untuk</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/33913-berhubungan-badan-suami-istri-itu-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Berhubungan Badan Suami-Istri Itu Sedekah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> mendapatkan pahala umroh dan haji, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang ulama berselisih tentang keshahihannya itu, maka ia tidak bisa mendapatkan keutamaan tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena haditsnya (dalam masalah ini) adalah :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">(من صلى الصبح في جماعة ثم جلس)</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang sholat Shubuh dengan berjama’ah kemudian duduk…. ”, </span></i><span style="font-weight: 400;">sedangkan wanita tersebut bukanlah orang yang sholat Shubuh berjama’ah (di masjid), dan jika ia sholat (shubuh) di rumahnya, maka ia tidak bisa mendapatkan pahala ini, namun, ia tetap berada di atas kebaikan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, jika ia duduk </span><i><span style="font-weight: 400;">dzikrullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">“Subhanallah”, “La ilaha illallah” </span></i><span style="font-weight: 400;">dan membaca Alquran sampai terbit matahari, kemudian matahari meninggi, ia melakukan sholat sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah, maka ia berada di atas kebaikan”.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29821-hukum-onani-menggunakan-tangan-istri.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Onani Menggunakan Tangan Istri</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/26985-bolehkah-melihat-gambar-porno-demi-kepuasan-hubungan-suami-istri.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami Istri?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>(Bersambung, in sya Allah)</b></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color=""> Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 