
<p class="arab" align="center">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه  أجمعين، أما بعد</p>
<p><strong>Prolog</strong></p>
<p>Manhaj salaf  adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah <em>ta’ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, karena manhaj ini  mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh,  dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan  sesuai dengan perintah Allah <em>ta’ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>, Allah berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{وَالسَّابِقُونَ  الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ  بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ  تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ  الْعَظِيمُ}</p>
<p><em>“Orang-orang yang  terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang  muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah  ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi  mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di  dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”</em> (Qs. At Taubah: 100)</p>
<p><!--more--></p>
<p>Dalam ayat lain, Allah <em>ta’ala</em> memuji keimanan para sahabat <em>radhiyallahu  ‘anhum</em> dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">فَإِنْ  آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا</p>
<p><em>“Dan jika mereka  beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk  (ke jalan yang benar).”</em> (Qs. Al Baqarah: 137)</p>
<p>Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan,  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Semua  golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu <strong>Al Jama’ah</strong>“</em>.  Dalam riwayat lain: <em>“Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang  mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.”</em> (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam  lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat <em>“Silsilatul Ahaaditsish Shahihah”</em> no. 204)</p>
<p>Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih  keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj  inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah <em>ta’ala</em> janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa  mereka (para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>), kemudian generasi yang datang  setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam menjelaskan hadits di atas: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitakan (dalam hadits ini) bahwa  generasi yang terbaik secara mutlak adalah generasi di masa Beliau <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> (para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>), dan ini  mengandung pengertian keterdepanan mereka dalam seluruh aspek kebaikan (dalam  agama ini), karena kalau kebaikan mereka (hanya) dalam beberapa aspek (tidak  sempurna dan menyeluruh) maka mereka tidak akan dinamakan (oleh Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> sebagai) generasi yang terbaik secara mutlak”. Maksud  terbaik secara mutlak yaitu kebaikan yang ada pada mereka adalah kebaikan yang  sempurna dan menyeluruh pada semua aspek kebaikan dalam agama. (Lihat Kitab <em>I’laamul  muwaqqi’iin,</em> 4/136- cet. <em>Daarul Jiil</em>, Beirut, 1973)</p>
<p>Untuk lebih jelasnya pembahasan masalah ini, berikut ini kami akan  menyebutkan dan menjelaskan beberapa contoh/poin penting yang menunjukkan  besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa kita capai dengan berusaha memahami  dan mengamalkan manhaj salaf dengan baik dan benar, serta mustahilnya mencapai  semua itu dengan mengikuti selain manhaj yang benar ini:</p>
<p><strong>1- Keteguhan iman dan  keistiqamahan dalam agama di dunia dan akhirat</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا  بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ  اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}</p>
<p><em>“Allah meneguhkan  (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di  dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan  memperbuat apa yang Dia kehendaki.”</em> (Qs. Ibrahim: 27)</p>
<p>Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadits shahih yang  diriwayatkan oleh seorang sahabat yang mulia Al Bara’ bin ‘Aazib <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Seorang  muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia  akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha  Illallah) dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah  (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: {Allah meneguhkan (iman)  orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia  dan di akhirat}.”</em>. (HR. Al Bukhari dalam <em>Shahih Al Bukhari</em>, no.  4422- cet. Daar Ibni Katsir, Beirut, 1407 H. Hadits yang semakna juga  diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>Shahih Muslim,</em> no. 2871- cet. <em>Daar  Ihya-it turats al ‘araby</em>, Beirut)</p>
<p>Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa keteguhan iman dan keistiqamahan  dalam agama hanyalah Allah <em>ta’ala</em> anugerahkan kepada orang beriman yang  memiliki ‘ucapan yang teguh’, yaitu dua kalimat syahadat yang dipahami dan  diamalkan dengan baik dan benar.</p>
<p>Maka berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bagi kita salah satu  keutamaan dan manfaat besar mengikuti manhaj salaf, karena tidak diragukan lagi  hanya manhaj salaf-lah satu-satunya manhaj yang benar-benar memberikan  perhatian besar kepada pemahaman dan pengamalan dua kalimat syahadat dengan baik  dan benar, dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang kalimat Tauhid (<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>), keutamaannya, kandungannya, syarat-syaratnya,  rukun-rukunnya, hal-hal yang membatalkan dan mengurangi kesempurnaannya,  disertai peringatan keras untuk menjauhi perbuatan syirik dan semua perbuatan  yang bertentangan dengan tauhid.</p>
<p>Demikian pula perhatian besar manhaj salaf terhadap kalimat syahadat (<em>Muhammadur  Rasulullah</em>), dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang keindahan dan  kesempurnaan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, disertai  peringatan keras untuk menjauhi perbuatan <em>bid’ah</em> dan semua perbuatan  yang bertentangan dengan Sunnah.</p>
<p>Berkata Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: “Al Firqatun Naajiyah  (golongan yang selamat dari ancaman azab Allah <em>ta’ala</em> / orang-orang yang  mengikuti manhaj salaf) adalah orang-orang yang (sangat) mengutamakan Tauhid,  yaitu mengesakan Allah dalam beribadah, seperti berdoa, meminta pertolongan,  memohon keselamatan dalam keadaan susah maupun senang, berkurban, bernazar, dan  ibadah-ibadah lainnya, serta keharusan menjauhi syirik dan fenomena-fenomenanya  yang terlihat nyata di kebanyakan negara Islam… Dan mereka adalah orang-orang  yang selalu menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> dalam ibadah, tingkah laku dan (semua sisi) kehidupan mereka,  sehingga jadilah mereka sebagai orang-orang yang asing di tengah masyarakat,  sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang  menggambarkan keadaan mereka: <em>“Sesungguhnya islam awalnya datang dalam  keadaan asing, dan nantinya pun (di akhir jaman) akan kembali asing, maka  beruntunglah (akan mendapatkan surga) orang-orang yang asing (karena berpegang  teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)”</em> (HR. Muslim).  Dalam riwayat lain: <em>“… Mereka adalah orang-orang yang berbuat  kebaikan ketika manusia dalam keadaan rusak”</em>. Berkata Syaikh Al  Albani: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu ‘Amr Ad Daani dengan sanad yang shahih.”  (<em>Minhaajul Firqatin Naajiyah</em>, hal. 7-8 – cet. Daarush Shami’i, Riyadh)</p>
<p><strong>2- Meraih Kenikmatan tertinggi  di Surga, yaitu Melihat Wajah Allah <em>ta’ala</em> yang Maha Mulia dan Maha Tinggi</strong></p>
<p>Dalam hadits shahih dari seorang sahabat yang mulia Shuhaib bin Sinan <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Jika  penghuni surga telah masuk surga, Allah ta’ala Berfirman: “Apakah kalian  (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan  surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah  kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan  kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang  menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan  suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah ta’ala”</em>, kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> membaca ayat berikut:</p>
<p class="arab" align="right">للذين  أحسنوا الحسنى وزيادة</p>
<p><em> “Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada  pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ta’ala)”</em> (QS Yunus: 26). (HR. Muslim dalam <em>Shahih Muslim,</em> no. 181)</p>
<p>Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau <em>“Ighaatsatul  lahafaan”</em> (Hal. 70-71, <em>Mawaaridul amaan</em>, cet. Daar Ibnil Jauzi,  Ad Dammaam, 1415 H) menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini  (melihat wajah Allah <em>ta’ala</em>) adalah balasan yang Allah <em>ta’ala</em> berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu  kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk  bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri  dan berzikir kepada-Nya. Untuk lebih jelas pembahasan masalah ini, silakan baca  tulisan kami yang berjudul “Indahnya Islam Manisnya Iman”. Dalam  sebuah ucapannya yang tersohor Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya di dunia  ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia  ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.” (<em>Al  Waabilush Shayyib</em>, 1/69)</p>
<p>Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> dalam sebuah hadits yang shahih: “Aku meminta  kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku  meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”  (HR. An Nasa-i dalam <em>“As Sunan”</em> (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad  dalam <em>“Al Musnad”</em> (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya”  (no. 1971) dan Al Hakim dalam <em>“Al Mustadrak”</em> (no. 1900), dishahihkan  oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Sykh Al Albani  dalam <em>“Zhilaalul Jannah Fii Takhriijis Sunnah”</em> (no. 424))</p>
<p>Dari keterangan di atas juga terlihat jelas besarnya keutamaan dan manfaat  mengikuti manhaj salaf. Karena kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan  kerinduan untuk bertemu dengan Allah <em>ta’ala</em> merupakan buah yang paling  utama dari <strong><em>ma’rifatullah</em> </strong>(pengenalan/pengetahuan yang benar dan  sempurna tentang Allah <em>ta’ala</em> dan sifat-sifat-Nya),  yang mana <em>ma’rifatullah</em> yang benar dan sempurna tidak akan mungkin  dicapai kecuali dengan mempelajari dan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah <em>ta’ala</em> dalam Al Qur-an dan Hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> dengan metode pemahaman yang benar, yang ini semua hanya didapatkan  dalam manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah/manhaj Salaf.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini adalah ideologi golongan  yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah <em>ta’ala</em> sampai  hari kiamat, (yang mereka adalah) Ahlus Sunnah wal jama’ah (orang-orang yang  mengikuti manhaj salaf), yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya,  kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, (hari) kebangkitan setelah kematian, dan  beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.</p>
<p>Termasuk iman kepada Allah (yang diyakini Ahlus Sunnah wal jama’ah) adalah  mengimani sifat-sifat Allah <em>ta’ala</em> yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam  Al Qur-an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (dalam hadits-hadits yang shahih), tanpa <em>tahriif</em> (menyelewengkan  maknanya), tanpa <em>ta’thiil</em> (menolaknya), tanpa <em>takyiif</em> (membagaimanakan/menanyakan bentuknya), dan tanpa <em>tamtsiil</em> (menyerupakannya  dengan sifat-sifat makhluk). Ahlus Sunnah wal jama’ah mengimani bahwa Allah <em>ta’ala</em>:</p>
<p class="arab" align="right">{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ  السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}</p>
<p><em> “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan  Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”</em> (Qs. Asy Syuura:11)</p>
<p>Maka Ahlus Sunnah wal jama’ah tidak menolak sifat-sifat yang Allah tetapkan  bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan makna firman Allah dari arti yang  sebenarnya, tidak menyimpang (dari kebenaran) dalam (menetapkan) nama-nama  Allah (yang maha indah) dan dalam (memahami) ayat-ayat-Nya. Mereka tidak  membagaimanakan /menanyakan bentuk sifat Allah dan tidak menyerupakan sifat-Nya  dengan sifat makhluk. Karena Allah <em>ta’ala</em> tiada yang serupa, setara dan  sebanding dengan-Nya, Dia <em>ta’ala</em> tidak boleh dianalogikan dengan  makhluk-Nya, dan Dia-lah yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang  makhluk-Nya, serta Dia-lah yang paling benar dan baik perkataan-Nya dibanding  (semua) makhluk-Nya. Kemudian (setelah itu) para Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> orang-orang yang benar (ucapannya) dan dibenarkan, berbeda dengan  orang-orang yang berkata tentang Allah <em>ta’ala</em> tanpa pengetahuan. Oleh  karena itulah Allah <em>ta’ala</em> Berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام  على المرسلين والحمد لله رب العالمين}</p>
<p><em> “Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai kemuliaan dari  apa yang mereka katakan, Dan keselamatan dilimpahkan kepada para Rasul, Dan  segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”</em> (Qs. Ash Shaaffaat: 180-182)</p>
<p>Maka (dalam ayat ini) Allah menyucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan  orang-orang yang menyelisihi (petunjuk) para Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>, kemudian Allah menyampaikan salam (keselamatan) kepada para Rasul <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> karena selamat (suci)nya ucapan yang mereka sampaikan  dari kekurangan dan celaan. Allah <em>ta’ala</em> telah menghimpun antara <em>an  nafyu</em> (meniadakan sifat-sifat buruk) dan <em>al itsbat </em>(menetapkan  sifat-sifat yang maha baik dan sempurna) dalam semua nama dan sifat yang Dia  tetapkan bagi diri-Nya, maka Ahlus Sunnah wal jama’ah sama sekali tidak  menyimpang dari petunjuk yang dibawa oleh para Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>, karena itulah jalan yang lurus; jalannya orang-orang yang  dianugerahi nikmat oleh Allah <em>ta’ala</em>, yaitu para Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang  yang shaleh.” (Kitab <em>“Al ‘Aqiidatul Waasithiyyah”</em> (hal. 6-8))</p>
<p><strong>3- Menggapai taufik  dari Allah <em>ta’ala</em> yang merupakan kunci  pokok segala kebaikan</strong></p>
<p>Berkata Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah: “Kunci pokok segala kebaikan  adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti)  akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena  pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita  lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan  kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri  nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada  Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana  (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena  hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan  sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan  buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan  kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.</p>
<p>Telah bersepakat <em>al ‘Aarifun</em> (orang-orang yang memiliki pengetahuan  yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah  taufik dari Allah <em>ta’ala</em> kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua  keburukan adalah <em>khidzlaan</em> (berpalingnya) Allah <em>ta’ala</em> dari  hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (arti) taufik itu adalah dengan Allah  tidak menyandarkan (urusan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya  arti) <em>al khidzlaan</em> (berpalingnya Allah <em>ta’ala</em> dari hamba) adalah  dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak  bersandar kepada Allah <em>ta’ala</em>)…”</p>
<p>Oleh karena itulah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berlindung dari hal ini dalam doa beliau yang terkenal dan termasuk doa yang  dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang: <em>“… (Ya Allah!) jadikanlah  baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada  diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata.”</em> (HR. An Nasa-i dalam <em>“As  Sunan”</em> (6/147) dan Al Hakim dalam <em>“Al Mustadrak”</em> (no.  2000), dishahihkan oleh Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan dihasankan  oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilatul Ahaaditsish Shahihah</em> (1/449,  no. 227)) (Kitab <em>Al Fawa-id</em> (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir  1424 H))</p>
<p>Dari keterangan Imam Ibnul Qayyim di atas jelaslah bagi kita bahwa kunci  pokok segala kebaikan adalah memahami dan mengimani bahwa apa yang Allah kehendaki  (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi,  yang ini merupakan kesimpulan makna iman kepada takdir Allah <em>ta’ala</em> yang  baik maupun yang buruk. Dan sekali lagi ini menunjukkan besarnya manfaat dan  keutamaan mengikuti manhaj salaf, karena pemahaman yang benar terhadap masalah  takdir Allah <em>ta’ala</em> hanya ada pada manhaj salaf. Untuk lebih jelasnya,  baca keterangan Ibnu Taimiyyah dalam <em>Al ‘Aqiidatul waasithiyyah </em>(hal. 22) tentang lurusnya pemahaman Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam masalah  iman kepada takdir Allah dan sesatnya pemahaman-pemahaman lain yang menyimpang  dari pemahaman Ahlus Sunnah wal jama’ah.</p>
<p><strong>4- Mendapatkan semua kemuliaan yang Allah <em>Ta’ala</em> sediakan di akhirat</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan kewajiban mengimani keberadaan <em>Al  Haudh</em> (telaga milik Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di  akhirat nanti) yang merupakan bagian dari iman kepada hari akhir, beliau  berkata: “Penjelasan tentang telaga Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> –semoga Allah Memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari  kiamat– (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan  (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh  orang-orang ahlul bid’ah yang bersikeras kepala menolak dan mengingkari  keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi  (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat) (Sebagaimana yang disebutkan  dalam hadits shahih riwayat Imam Al Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari  Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.), sebagaimana ucapan salah seorang  ulama salaf: “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan  maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut…” (Kitab <em>An  Nihayah Fiil Fitani Wal Malaahim </em>(hal. 127))</p>
<p>Ucapan yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir ini menunjukkan bahwa semua  kemuliaan yang Allah <em>ta’ala</em> sediakan di akhirat,  seperti kenikmatan di alam kubur, meminum dari telaga Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>, mendapatkan Syafa’at Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> dan orang-orang yang diizinkan Allah <em>ta’ala</em> untuk  memberikan syafaat bahkan termasuk kenikmatan di dalam surga, hanyalah Allah <em>ta’ala</em> anugerahkan kepada orang-orang yang tidak mengingkari dan mengimaninya dengan  benar. Ini juga menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mengikuti manhaj  salaf, karena hanya dengan mengikuti manhaj salaflah kita bisa memahami dan  mengimani  hal-hal tersebut dengan baik  dan benar, sehingga orang-orang yang memahami dan mengimani hal-hal tersebut  berdasarkan manhaj salaf merekalah yang paling diutamakan untuk meraih semua  kemuliaan tersebut dengan sempurna. Adapun orang-orang yang tidak memahami dan  mengimani hal-hal tersebut dengan benar karena tidak mengikuti manhaj salaf,  maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan  kemuliaan-kemuliaan tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya,  tergantung dari jauh dekat pemahaman tersebut dari pemahaman salaf.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Contoh-contoh di atas jelas sekali menunjukkan besarnya manfaat dan  keutamaan yang bisa kita raih di dunia dan akhirat dengan mengikuti manhaj  salaf, masih banyak contoh lain yang tidak mungkin kami sebutkan semua. Semoga  dengan contoh-contoh ini kita semakin termotivasi untuk lebih giat mengkaji dan  mengamalkan petunjuk para ulama salaf dalam beragama, agar kita semakin  sempurna mendapatkan manfaat dan kebaikan yang Allah <em>ta’ala</em> sediakan  bagi hamba-hambanya yang menjalankan agamanya dengan baik dan benar.</p>
<p>Sebagai penutup, alangkah indahnya ucapan seorang penyair yang berkata:</p>
<p><em>Semua kebaikan (hanya  dapat dicapai) dengan mengikuti (manhaj) salaf</em><br>
<em>Dan semua keburukan ada pada perbuatan bid’ah orang-orang khalaf</em></p>
<p>Khalaf adalah orang-orang  yang menyelisihi manhaj salaf.</p>
<p class="arab" align="right">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله  وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  5 Dzulqa’dah 1429 H</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abdullah bin Taslim Al  Buthoni<br>
Artikel www.muslim.or.id</p>
 