
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/05/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-39.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/05/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-39.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Hukum bagi wanita haidh dan nifas apa saja?</p>
<blockquote>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di <em>rahimahullah</em>berkata:</p>
<p>Siapa saja yang mendapati haidh dan nifas, maka dilarang baginya: (1) shalat, (2) thawaf keliling Ka’bah, (3) menyentuh mushaf, (4) tidak boleh membaca sedikit pun dari mushaf Al-Qur’an, (5) tidak boleh diam di masjid tanpa wudhu, (6) tidak boleh menjalankan puasa, (7) tidak boleh disetubuhi, (8) tidak boleh mentalaknya saat haidh</p>
</blockquote>
<p> </p>
<h3>Wanita Haidh Tidak Boleh Menjalankan Puasa</h3>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ » . قُلْنَ بَلَى . قَالَ « فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا »</p>
<p>“Bukankah kalau wanita tersebut haidh, dia tidak shalat dan juga tidak menunaikan puasa?” Para wanita menjawab, “Betul.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah kekurangan agama wanita.” (HR. Bukhari, no. 304)</p>
<p>Jika wanita haidh dan nifas tidak berpuasa, ia harus mengqadha puasa di hari lainnya. Berdasarkan perkataan ‘Aisyah, “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335)</p>
<p>Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam keadaan haidh dan nifas wajib mengqadha puasanya ketika ia suci. (<em>Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah</em>, 28:21)</p>
<p> </p>
<h3>Tidak Boleh Menyetubuhi Wanita Haidh</h3>
<p>Para ulama sepakat bahwa menyetubuhi wanita haidh di kemaluannya dihukumi haram.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ</p>
<p>“<em>Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri</em>.” (QS. Al Baqarah: 222)</p>
<p>Dari Anas bin Malik disebutkan bahwa orang Yahudi biasanya ketika istri-istri mereka haidh, mereka tidak makan bersamanya dan tidak kumpul-kumpul dengan istrinya di rumah. Para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>akhirnya menanyakan tentang hal itu. Allah <em>Ta’ala </em>lantas menurunkan ayat di atas. Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ</p>
<p>“<em>Lakukanlah segala sesuatu selain jima’ (hubungan badan).</em>” (HR. Muslim,no. 302)</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haidh atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.</em>” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>shahih</em></strong>)</p>
<p> </p>
<h3>Tidak Boleh Mentalak Saat Haidh</h3>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, bahwasanya beliau pernah mentalak istrinya dan istrinya dalam keadaan haidh, itu dilakukan di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lalu ‘Umar bin Al-Khottob <em>radhiyallahu ‘anhu </em>menanyakan masalah ini kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>lantas bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ، ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ، ثُمَّ تَطْهُرَ ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ ، فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِى أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ</p>
<p>“<em>Hendaklah ia meruju’ istrinya kembali, lalu menahannya hingga istrinya suci kemudian haidh hingga ia suci kembali. Bila ia (Ibnu Umar) mau menceraikannya, maka ia boleh mentalaknya dalam keadaan suci sebelum ia menggaulinya (menyetubuhinya). Itulah al ‘iddah sebagaimana yang telah diperintahkan Allah ‘azza wa jalla</em>.” (HR. Bukhari, no. 5251 dan Muslim, no. 1471)</p>
<p>Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Syarh Manhaj As</em>–<em>Salikin</em>. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj, hlm. 66-67, dan referensi lainnya.</p>
<p>—</p>
<p>Artikel Kajian Masjid Pogung Dalangan #39, 25 Syaban 1439 H, 10 Mei 2018</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 