
<p><span style="font-weight: 400;">Shalat berjamaah adalah ibadah yang sangat agung. Tentunya seseorang berharap akan mendapat pahala yang maksimal dalam melaksanakan ibadah ini. Salah satu yang penting untuk diperhatikan adalah berusaha untuk berada di shaf pertama. Terdapat keutamaan tersendiri bagi orang yang berada di barisan pertama dalam shalat berjamaah.</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Keutamaan Shaf Pertama</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat dalil-dali yang menunjukkan keutamaan shaf pertama. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ اْلأُوَلِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang shalat di shaf pertama.”</span></i><strong> (HR. Abu Dawud, <i>shahih</i>)</strong><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلاَّ أنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang terdapat pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidaklah akan medapatkannya kecuali dengan diundi, niscaya pasti mereka akan mengundinya.“</span></i><strong> (HR. Muslim)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini menunjukkan adanya keutamaan dan pahala khusus pada shaf pertama, dan bolehnya undian untuk mendapatkannya jika diperlukan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">خيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا ، وَشَرُّهَا آخِرُهَا ، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا ، وَشَرُّهَا أوَّلُهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling jelek adalah yang paling belakang. Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling jelek adalah yang paling depan.</span></i><span style="font-weight: 400;">“ <strong>(HR. Muslim)</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini menunjukkan keutamaan shaf pertama bagi laki-laki. Hal ini juga menunjukkan bahwa amal itu bertingkat-tingat yang sekaligus juga menunjukkan bahwa pelaku amal bertingkat-tingkat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam An Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelasakan bahwa shaf yang jelek pada laki-laki maupun wanita artinya sedikit pahala dan keutamaanya, karena berada pada posisi yang semakin jauh dari yang diperintahkan syariat. Adapun yang dimaksud dimaksud shaf pertama adalah shaf yang <a href="https://muslim.or.id/52861-posisi-imam-dan-makmum-dalam-shalat-jamaah.html" target="_blank" rel="noopener">berada di belakang imam</a>, baik orang itu datang ke masjid di awal waktu maupun datang belakangan. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa patokan shaf pertama adalah ditinjau dari awal kedatangannya ke masjid meskipun dia shalat di barisan belakang, maka ini tidak tepat. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Shahih Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kondisi shaf wanita yang paling baik adalah di belakang, ini berlaku ketika para wanita shalat berjamaah bersama-sama di belakang shaf laki-laki. Adapun jika wanita shalat di belakang imam wanita, atau shalat di belakang imam laki-laki namun terpisah dari jamaah laki-laki di tempat tersendiri, maka yang terbaik adalah shaf yang terdepan. Hal ini berdasarkan keumuman hadits yang menunjukkan keutamaan shaf pertama. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Shahiih Fiqh Sunnah</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga menjelaskan bahwa shaf terbaik bagi wanita adalah yang paling belakang. Hal ini disebabkan karena posisinya berada paling jauh dari barisan jamaah laki-laki. Berdasarkan alasan ini, maka seandainya para wanita shalat berjamaah di tempat khusus yang terpisah dari laki-laki, maka kita katakan bahwa sebaik-baik shaf wanita adalah yang di depan dan yang paling jelek adalah yang paling belakang. Demikian pula jika para wanita shalat bersama laki-laki namun terdapat pembatas yang memisahkan antara shaf wanita dan shaf laki-laki. <strong>(</strong></span><strong><i>At Ta’liiq ‘alaa Shahih Muslim</i></strong><span style="font-weight: 400;"><strong>)</strong></span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bahaya Kebiasaan Berada di Shaf Belakang </b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Shaf laki-laki dalam shalat jamaah semakin di depan maka semakin baik dan utama. Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah bersabda mengingatkan kepada salah seorang sahabat yang datang akhir dan berada di shaf belakang :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">  لا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang yang terbiasa mengakhirkan hadir ketika shalat jamaah, niscaya Allah akan mengakhirkan urusan mereka “</span></i><strong> (HR. Muslim)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam An Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan yang dimaksud dalam hadits ini adalah orang-orang yang datang akhir sehingga tidak mendapat shaf pertama maka Allah pun akan mengakhirkan bagi orang tersebut rahmat-Nya, kemuliaan dan keutamaan, ketinggian kedudukan, ilmu yang bermanfaat, dan kebaikan lainnya.<strong> (Lihat </strong></span><strong><i>Syarh Shahih Muslim</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ibnu ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengingatkan bahwa dalam hadits ini terdapat ancaman dari Nabi tentang bahaya mengakhirkan datang ke masjid. Apabila seseorang mengakhirkan dari shaf pertama, kedua, dan ketiga, maka Allah pun akan menghukum hatinya dengan menyukai mengakhirkan amal-amal shalih yang lainnya –</span><i><span style="font-weight: 400;">wal ‘iyadzubillah</span></i><span style="font-weight: 400;">-. Maka berusahalah untuk berada di barisan shaf terdepan ketika shalat berjamaah.<strong> (Lihat </strong></span><strong><i>Syarh Rhiyadis Shaalihiin</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu tidak selayakanya seseorang mempunyai kebiasaan mengakhirkan datang ke masjid sehingga malas berusaha untuk mendapat shaf pertama dalam shalat berjamaah.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tambahan Berbagai Kebaikan</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan shaf pertama berarti juga menunjukkan dianjurkannya untuk bersegara ke masjid agar bisa mendapat shaf pertama. Setiap amalan kebaikan akan berbuah amal kebaikan yang lain. Seseorang yang berusaha untuk mendapatkan shaf pertama tentu akan bersegera untuk menuju masjid. Dengan demikian menyebabkan dia akan berkesempatan untuk mendapatkan amalan kebaikan yang lain, diantaranya :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Melaksanakan shalat sunnah baik shalat tahiyatul masjid atauapun shalat rawatib.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Mendapat kesempatan waktu mustajab berdoa antara adzan dan iqomat</span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Mendapat kesempatan </span><i><span style="font-weight: 400;">takbiratul ihram</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersama imam. </span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang yang berusaha untuk mendapatkan shaf awal dengan bersegera menuju masjid, maka dirinya pun akan berkesempatan untuk mendapatkan pahala semisal amalan di atas atau amal-amal kebaikan yang lain. </span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dalam Urusan Kebaikan Harus Berlomba-Lomba</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berada dalam shaf pertama jelas merupakan kebaikan dan keutamaan. Setiap orang mempunyai kesempatan dan hak yang sama untuk mendapatkannya. Semestinya seseorang dalam hal ini berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dia berusaha untuk datang awal di masjid agar bisa meraihnya. Inilah di antara bentuk bersegera dalam kebaikan. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.“</span></i><strong> (Al Maidah :48)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.“</span></i><strong> (Al Imran : 133)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sayangnya sebagain orang justru meremehkan kebaikan ini. Sebagian orang menunda-nuda untuk pergi ke masjid tanpa alasan yang dibenarkan. Ada pula yang  datang awal ke masjid, namun ia merasa cukup di barisan belakang shaf shalat dan merelakan orang lain untuk berada di shaf depan. Ini adalaha tindakan yang tidak tepat. Dalam perkara kebaikan akhirat, semestinya seseorang berusaha untuk bersegera mendapatkan yang terbaik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga bermanfaat. Menjadi pengingat bagi kita dan memotivasi bagi kita untuk bersemangat dalam melaksanakan shalat berjamaah dan mendapat keutamaan shaf pertama.</span></p>
<p><strong>Pelajari lebih lanjut tentang shalat berjama’ah di artikel berikut.</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://muslim.or.id/52382-merapatkan-dan-meluruskan-shaf-shalat-jamaah.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Merapatkan dan Meluruskan Shaf Shalat Jama’ah</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/28822-meneladani-para-sahabat-nabi-dalam-meluruskan-shaf-shalat.html" target="_blank" rel="noopener">Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf Shalat</a></li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Penulis : <span style="--darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Adika Mianoki</span></p>
<p>Artikel:<span style="--darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</span></p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">At Ta’liiq ‘alaa Shahiih Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhis Shaalihiin</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilaaly</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Shahiih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Abu Maalik Kamaal</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Syarh Riyaadhis Shaalihiin</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Syarh Shahih Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Imam An Nawawi</span>
</li>
</ol>
 