
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Akhir-akhir ini, banyak kita jumpai saudara-saudara kita kaum muslimin yang tanpa sadar banyak menghujat dan mendoakan jelek para pemimpin di negeri ini. Ketika mereka melihat (menganggap) pemimpin atau pemerintah melakukan kesalahan atau kekeliruan (menurut prasangka mereka), begitu mudahnya kata-kata celaan, hujatan, bahkan doa jelek pun keluar dari ucapan mereka. Padahal sebagai seorang muslim, Allah <em>Ta’ala</em> dan Rasul-Nya </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><i> </i><span lang="">telah menjelaskan bagaimanakah sikap yang benar sebagai rakyat kepada para pemimpin dan pemerintah. Melalui tulisan singkat dan sederhana ini, kami bermaksud untuk mengingatkan diri kami sendiri dan juga saudara-saudara kami kaum muslimin untuk senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka, bukan menghujat dan mendoakan kejelekan bagi mereka.</span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Ketaatan pada Pemimpin, Salah Satu Prinsip Penting Aqidah Ahlus Sunnah</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Ketika menjelaskan prinsip-prinsip pokok aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, Imam </span><span lang="id-ID">Abu Ja’far Ath-Thahawi </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="">(wafat tahun 321H) </span><span lang="id-ID">berkata</span><span lang=""> dalam kitab beliau, </span><span lang=""><i>Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah</i></span><span lang="id-ID">,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><b>وَلَا نَرَى الْخُرُوجَ عَلَى أَئِمَّتِنَا وَوُلَاةِ أُمُورِنَا</b></span></p>
<p align="CENTER">“<span lang="id-ID"><i>Dan kami (ahlus sunnah) tidak berpendapat (bolehnya) keluar (memberontak) dari pemimpin dan penguasa kami (</i></span><span lang=""><i>yaitu </i></span><span lang="id-ID"><i>kaum muslimin</i></span><span lang=""><i>, pen.</i></span><span lang="id-ID"><i>)”.</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Ini adalah salah satu prinsip aqidah ahlus sunnah, yaitu tidak boleh keluar (memberontak) dari penguasa </span><span lang="">dan pemerintah </span><span lang="id-ID">kaum muslimin. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><b>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ</b></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. An-Nisa [4]: 59)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Nabi </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><b>وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي</b></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang=""><i>Dan b</i></span><span lang="id-ID"><i>arangsiapa yang menaati pemimpin, maka sungguh dia telah menaatiku. </i></span><span lang=""><i>Dan b</i></span><span lang="id-ID"><i>arangsiapa yang durhaka kepada pemimpin, maka dia telah durhaka kepadaku.” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Bukhari no. 2957 dan Muslim no. 1835)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, tidak boleh durhaka (memberontak) kepada mereka, meskipun mereka adalah pemimpin yang jahat atau zalim</span><span lang=""> sekalipun.</span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Bersabar, Itu yang Utama</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Imam </span><span lang="id-ID">Abu Ja’far Ath-Thahawi </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">melanjutkan</span><span lang=""> prinsip aqidah ahlus sunnah berikutnya</span><span lang="id-ID">,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><b>وإن جاروا</b></span></p>
<p align="CENTER">“<span lang="id-ID"><i>Meskipun </i></span><span lang=""><i>mereka (</i></span><span lang="id-ID"><i>pemimpin</i></span><span lang=""><i>)</i></span><span lang="id-ID"><i> itu </i></span><span lang=""><i>(berbuat) </i></span><span lang="id-ID"><i>zalim.”</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Maksudnya, meskipun pemimpin itu zalim dan melampaui batas, misalnya dengan mengambil harta atau membunuh kaum muslimin</span><span lang="">, m</span><span lang="id-ID">aka ahlus sunnah tidaklah berpendapat bolehnya keluar dari ketaatan kepada mereka. Hal ini berdasarkan perintah </span><span lang="">tegas dari </span><span lang="id-ID">Nabi </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><i> </i><i> </i><span lang="">kepada sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman </span><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu</i></span><span lang="id-ID"><i>,</i></span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><b>تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ</b></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang=""><i>Engkau mendengar dan Engkau menaati pemimpinmu. Meskipun</i></span><span lang="id-ID"><i> hartamu </i></span><span lang=""><i>diambil </i></span><span lang="id-ID"><i>dan punggungm</i></span><span lang=""><i>u dipukul</i></span><span lang="id-ID"><i>.</i></span><span lang=""><i> Dengarlah dan taatilah (pemimpinmu)</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Muslim no. 1847).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Maka</span><span lang=""> Rasulullah </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="">memerintahkan kita untuk bersabar, bukan </span><span lang="id-ID">memberontak</span><span lang=""> mengangkat senjata atau melakukan demonstrasi</span><span lang="id-ID">. Karena dengan memberontak </span><span lang="">dan demonstrasi, </span><span lang="id-ID">akan menimbulkan</span><span lang=""> (lebih)</span><span lang="id-ID"> banyak kerusakan. Inilah aqidah ahlus sunnah, yaitu senantiasa menimbang dengan mengambil bahaya yang le</span><span lang="">b</span><span lang="id-ID">ih ringan dibandingkan dua bahaya yang ada. </span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Janganlah Mendokan Mereka dengan Kejelekan</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Imam </span><span lang="id-ID">Abu Ja’far Ath-Thahawi </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">melanjutkan lagi</span><span lang=""> prinsip-prinsip aqidah ahlus sunnah,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><b>ولا ندعوا عَلَيْهِمْ</b></span></p>
<p align="CENTER">“<span lang="id-ID"><i>Dan tidak mendoakan kejelekan bagi mereka</i></span><span lang=""><i> (pemimpin atau pemerintah)</i></span><span lang="id-ID"><i>.”</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Maka </span><span lang="">jelaslah bahwa </span><span lang="id-ID">aqidah ahlus sunnah menyatakan, tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin</span><span lang=""> atau pemerintah</span><span lang="id-ID">, </span><span lang="">tidak boleh </span><span lang="id-ID">menghujatnya, menjelek-jelekkannya di muka umum, dan sebagainya. Karena pada hakikatnya, hal ini sama halnya dengan durhaka dan memberontak secara fisik.</span> <span lang="id-ID">Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><span lang="id-ID"><i>hafidzahullah </i></span><span lang="id-ID">mengatakan,</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Tidak boleh mendoakan </i></span><span lang=""><i>ke</i></span><span lang="id-ID"><i>jelek</i></span><span lang=""><i>an</i></span><span lang="id-ID"><i> bagi pemimpin. Karena ini adalah pemberontakan secara abstrak, s</i></span><span lang=""><i>emisal</i></span><span lang="id-ID"><i> dengan memberontak kepada mereka dengan menggunakan senjat</i></span><span lang=""><i>a (pemberontakan secara fisik, pen.)</i></span><span lang="id-ID"><i>. Yang mendorongnya untuk mendoakan jelek bagi penguasa adalah karena dia tidak mengakui (menerima) kekuasaannya. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Maka kewajiban kita </b></i></span><span lang=""><i><b>(rakyat) </b></i></span><span lang="id-ID"><i><b>adalah mendoakan pemimpin dalam kebaikan dan agar mereka mendapatkan petunjuk, bukan mendoakan jelek mereka.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Maka ini adalah </i></span><span lang=""><i>salah satu prinsip </i></span><span lang="id-ID"><i>di antara </i></span><span lang=""><i>prinsip-prinsip </i></span><span lang="id-ID"><i>aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Jika Engkau melihat seseorang yang mendoakan jelek untuk pemimpin, maka ketahuilah bahwa aqidahnya telah rusak, dan dia tidak di atas manhaj salaf.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Sebagian orang menganggap hal ini sebagai bagian dari rasa marah dan kecemburuan karena Allah Ta’ala, akan tetapi hal ini adalah rasa marah dan cemburu yang tidak pada tempatnya. Karena jika mereka lengser, maka akan timbul kerusakan (yang lebih besar</i></span><span lang=""><i>, pen.</i></span><span lang="id-ID"><i>).”</i></span><i> </i><span lang="">(</span><span lang=""><i>At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, </i></span><span lang="">hal. 171)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Imam Fudhail bin ‘Iyadh </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><b>لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان</b></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab</i></span><span lang=""><i> (yang dikabulkan)</i></span><span lang="id-ID"><i>, </i></span><span lang="id-ID"><i><b>maka aku akan </b></i></span><span lang=""><i><b>gunakan untuk </b></i></span><span lang="id-ID"><i><b>mendoakan penguasa.”</b></i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><span lang="id-ID"><i>hafidzahullah</i></span><i> </i><span lang="">berkata</span><span lang="id-ID">,</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Maka orang-orang yang mendoakan jelek pemimpin kaum muslimin, maka dia tidaklah berada di atas madzhab ahlus sunnah wal jama’ah. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Demikian pula, orang-orang yang tidak mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, maka ini adalah tanda bahwa mereka telah menyimpang dari aqidah ahlus sunnah wal jama’ah.</b></i></span><span lang="id-ID"><i>”</i></span><i> </i><span lang="">(</span><span lang=""><i>At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, </i></span><span lang="">hal. 172).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><span lang="id-ID"><i>hafidzahullah</i></span><i> </i><span lang="">juga berkata</span><span lang="id-ID">,</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang=""><i>Maka kesemburuan bukanlah dengan mendoakan kejelekan atas pemerintah, meskipun Engkau menghendaki kebaikan. </i></span><span lang=""><i><b>Maka doakanlah bagi mereka agar mendapatkan kebaikan. Allah Ta’ala Maha Kuasa untuk memberikan hidayah kepada mereka dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar.</b></i></span><span lang=""><i> Maka Engkau, apakah Engkau berputus asa dari (turunnya) hidayah untuk mereka? Ini adalah berputus asa dari rahmat Allah.” </i></span><span lang="">(</span><span lang=""><i>At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, </i></span><span lang="">hal. 173).</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><span lang=""><b>Selain Berdoa, Apalagi yang Harus Kita Lakukan (sebagai Rakyat)?</b></span></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani </span><span lang=""><i>rahimahullah </i></span><span lang="">berkata ketika memberikan komentar terhadap kitab </span><span lang=""><i>Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah</i></span><span lang="">,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000;"><b>وفي هذا بيان لطريق الخلاص من ظلم الحكام الذين هم </b></span><span style="color: #000000;"><b>” </b><b>من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا </b></span><span style="color: #000000;"><b>” </b><b>وهو أن يتوب المسلمون إلى ربهم ويصححوا عقيدتهم ويربوا أنفسهم وأهليهم على الإسلام الصحيح تحقيقا لقوله تعالى</b></span><span style="color: #000000;"><b>: (</b><b>إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم</b></span><span style="color: #000000;"><b>) [</b><b>الرعد</b></span><span style="color: #000000;"><b>: 11] </b><b>وإلى ذلك أشار أحد الدعاة المعاصرين </b></span><span style="color: #000000;"><b>(</b><b>اا</b></span><span style="color: #000000;"><b>) </b><b>بقوله</b></span><span style="color: #000000;"><b>: ” </b><b>أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم تقم لكم على أرضكم </b></span><span style="color: #000000;"><b>“. </b><b>وليس طريق الخلاص ما يتوهم بعض الناس وهو الثورة بالسلاح على الحكام</b></span><span style="color: #000000;"><b>. </b><b>بواسطة الانقلابات العسكرية فإنها مع كونها من بدع العصر الحاضر فهي مخالفة لنصوص الشريعة التي منها الأمر بتغيير ما بالأنفس وكذلك فلا بد من إصلاح القاعدة لتأسيس البناء عليها </b></span><span style="color: #000000;"><b>(</b><b>ولينصرن الله من ينصره إن الله لقوي عزيز</b></span><span style="color: #000000;"><b>) [</b><b>الحج</b></span><span style="color: #000000;"><b>: 40]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="">Maka poin ini merupakan penjelasan (tentang) jalan keluar dari kedzaliman penguasa, yang mereka itu pada hakikatnya adalah berasal dari kulit-kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita (maksudnya, pemimpin itu pada hakikatnya berasal dari rakyat, pen.), yaitu </span><span lang=""><b>hendaknya kaum muslimin bertaubat kepada Allah dan memperbaiki aqidahnya, dan mendidik dirinya sendiri dan keluarganya di atas agama Islam yang shahih.</b></span><span lang=""> Hal ini untuk mewujudkan firman Allah Ta’ala yang artinya,</span><span lang=""><i>”Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah suatu kaum, sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” </i></span><span lang="">(QS. Ar-Ra’du [13]: 11) </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Atas dasar ini, salah seorang juru dakwah di zaman ini mengisyaratkan dalam sebuah perkataannya,</span><span lang=""><i>”Tegakkanlah negara (daulah) Islam dalam diri (dada) kalian, niscaya akan tegak (daulah Islam) di negeri kalian.” </i></span><span lang="">Dan bukanlah jalan untuk keluar dari kedzaliamn penguasa adalah memberontak kepada penguasa, dengan jalan kudeta (militer). Maka hal ini di samping bid’ah pada zaman ini, juga merupakan tindakan yang menyelisihi dalil-dalil syari’at, yang di antaranya memerintahkan untuk memperbaiki (mengubah) diri sendiri (terlebih dahulu). Demikian pula, wajib untuk memperbaiki pondasi kaidah agar kuatlah bangunan di atasnya. (Allah Ta’ala berfirman yang artinya),</span><span lang=""><i>”Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” </i></span><span lang="">(QS. Al-Hajj [22]: 40)” (</span><span lang=""><i>Takhrij Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, </i></span><span lang="">hal. 69)</span></p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Semoga Allah <em>Ta’ala</em> senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada pemimpin dan pemerintah kaum muslimin.</p>
<p lang="" align="JUSTIFY">***</p>
<p> </p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>Referensi:</b></h5>
<ul>
<li>
<span style="color: #000000;"><span lang=""><i>At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘ala Matni Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, cetakan pertama, Daarul ‘Ashimah, tahun 1422.</span></span>
</li>
<li>
<span style="color: #000000;"><span lang=""><i>Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Abu Ja’far Ath-Thahawi, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>syarh wa ta’liq: </i></span></span><span lang="">Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani </span><span lang=""><i>rahimahullah, </i></span><span lang="">cetakan ke dua, Al-Maktab Al-Islami, tahun 1414 (Maktabah Asy-Syamilah)</span>
</li>
</ul>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Selesai disusun di malam hari, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 28</span><span lang="id-ID"> Rabiul A</span><span lang="">khir</span> <span lang="">1436</span></p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Yang selalu mengharap ampunan Rabb-nya,</p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Penulis: M. Saifudin Hakim</p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 