
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara orang yang masuk surga, ada yang langsung masuk ke dalamnya ada pula yang harus menunggu lama, dan ada juga yang harus mampir dulu ke neraka. Jika bisa memilih pastilah kita menginginkan masuk surga tanpa harus menunggu, tanpa harus mampir neraka, namun langsung masuk saja, tanpa dihisab tanpa diadzab. Bagaimana caranya? Berikut dijelaskan pembahasanya.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Bertauhid dengan benar</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Saudaraku, tauhid adalah tujuan hidup kita. Tauhid merupakan ilmu yang paling agung, kewajiban yang paling wajib, dan perintah Allah yang terbesar. Oleh karena itulah, keistimewaan yang didapatkan oleh </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Muwahhidin </span></i><span style="font-weight: 400;">(orang-orang yang mentauhidkan Allah) itu banyak dan sangat besar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara keutamaan yang didapatkan oleh mereka adalah,</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Ahli Tauhid mendapatkan keamanan dan hidayah, </span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Tempat kembalinya adalah Surga, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menyelamatkannya dari neraka, </span>
</li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Ahli Tauhid mendapatkan kesempatan diampuni seluruh dosa-dosanya,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Timbangan tauhid beratnya mengalahkan timbangan langit dan bumi. </span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan puncak keutamaan yang dianugerahkan kepada Ahli Tauhid adalah mendapatkan kesempatan masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Orang-orang yang tak dihisab dan tak diadzab</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits berikut ini menggambarkan kelompok orang-orang yang mendapatkan puncak keutamaan yang dianugerahkan oleh Allah kepada Ahli Tauhid, yaitu, masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hushain bin Abdurrahman berkata bahwa Sa’id bin Jubair berkata, “Siapakah di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akupun menjawab “Saya.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu saya berkata, “Adapun saya ketika itu tidak sedang salat, tapi terkena sengatan hewan berbisa”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian ia bertanya, “Lalu apa yang anda kerjakan?” Saya pun menjawab, “Saya minta diruqyah[1. Ruqyah adalah pengobatan dengan pembacaan ayat-ayat Alquran atau do’a-do’a ataupun lafadz-lafadz tertentu]</span><span style="font-weight: 400;">“.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ia bertanya lagi, “Apa yang mendorong anda melakukan hal tersebut?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sebuah hadits yang dituturkan Asy-Sya’bi kepada kami.” jawabku.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Iapun bertanya lagi, “Apakah hadits yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepada anda?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya menyampaikan, “Dia menuturkan hadits dari Buraidah bin Hushaib, bahwa ia berkata, ‘Tidak ada ruqyah yang lebih bermanfaat kecuali untuk penyakit ‘ain[2. ‘Ain adalah pengaruh buruk yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang melalui matanya]</span><span style="font-weight: 400;"> atau terkena sengatan hewan berbisa.'”</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Sa’id berkata, “Alangkah baiknya orang yang beramal sesuai dengan dalil yang didengarnya, namun Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallaahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> menuturkan kepada kami hadits dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Beliau bersabda, “Aku telah diperlihatkan beberapa umat oleh Allah, lalu aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang (tidak sampai 10 orang, pent.), seorang Nabi bersama seseorang dan dua orang, serta seorang Nabi yang sendirian. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekelompok orang yang sangat banyak. Aku mengira mereka itu umatku, namun disampaikan kepadaku, ‘Itu adalah Nabi Musa dan kaumnya.’ Selanjutnya, tiba-tiba aku melihat lagi sejumlah besar orang, dan disampaikan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada di antara mereka yang mengatakan, ‘Barangkali mereka itu sahabat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.’ Ada lagi yang mengatakan, ‘Barangkali mereka orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah.’ dan mereka menyebutkan yang lainnya pula. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika Rasulullah s</span><i><span style="font-weight: 400;">hallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;">هُمُ الَّذِينَ  لاَ يَسْتَرْقُونَ وَ لاَ يَكتوونَ وَ لاَ يَتَطَيَّرُونَ وَ عَلَى رَبِّـهِمْ يَتَوَكَّلُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “Mereka itu adalah orang yang tidak minta diruqyah, tidak melakukan kay[3. Kay adalah menempelkan besi panas atau sejenisnya pada luka] </span><span style="font-weight: 400;"> dan tidak melakukan tathayyur[4. Tathayyur adalah semua hal yang menyebabkan seseorang membatalkan perbuatannya karena takut malapetaka atau meneruskan perbuatannya karena optimis akan beruntung setelah ia melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ada bukti ilmiah bahwa sesuatu tersebut bisa mendatangkan malapetaka atau keberuntungan. (<em>Mutiara Faidah</em>, hal. 142)]</span><span style="font-weight: 400;"> serta mereka bertawakkal[5. Tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah dengan menyerahkan segala urusan kepada-Nya dalam mendapatkan manfaat atau menolak bahaya/kerugian, diiringi dengan percaya kepada-Nya dan mengambil sebab yang diizinkan dalam Syari’at Islam]</span><span style="font-weight: 400;"> hanya kepada Rabb mereka.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah, agar saya termasuk golongan mereka!’ Beliau menjawab, ‘Engkau termasuk mereka’, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian berdirilah seseorang yang lain dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah, agar saya termasuk golongan mereka!’ Beliau menjawab,’ Ukkasyah telah mendahuluimu'” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kiat masuk surga tanpa hisab tanpa adzab</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang muslim yang baik, ketika membaca hadits yang agung di atas, tentu menginginkan menjadi salah satu dari tujuh puluh ribu orang yang beruntung tersebut. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika beberapa pertanyaan muncul, ketika seorang muslim berusaha memahami hadits yang disebutkan di atas, karena demikian semangatnya untuk masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab adalah ganjaran yang Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang berhasil mentauhidkan-Nya dengan sempurna (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tahqiiqut Tauhid</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad At-Tamimi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Tauhid </span></i><span style="font-weight: 400;">nya, menyebutkan hal ini dengan ucapannya,</span></p>
<p><b>باب من حقق التوحيد دخل الجنة بغير حساب</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Bab, Barangsiapa yang merealisasikan tauhid dengan sempurna, maka masuk kedalam surga tanpa hisab</span></i><span style="font-weight: 400;">”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan barangsiapa yang masuk kedalam surga tanpa hisab, pastilah masuk surga tanpa adzab, namun barangsiapa yang masuk kedalam surga tanpa adzab, belum tentu masuk surga tanpa hisab.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, untuk menjadi kelompok orang-orang yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab, haruslah bisa merealisasikan tauhid dengan sempurna. Selanjutnya, pertanyaan menarik yang perlu dilontarkan adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">Bagaimanakah menjadi orang yang merealisasikan tauhid dengan sempurna </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">tahqiq tauhid</span></i><span style="font-weight: 400;">)?</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Praktik Tauhid yang Sempurna</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Mempelajari tentang definisi </span><i><span style="font-weight: 400;">Tahqiiq At-Tauhiid </span></i><span style="font-weight: 400;">(perealisasian Tauhid dengan sempurna) adalah perkara yang sangat penting guna memahami dalil-dalil tentang ciri khas golongan yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Hal ini dikarenakan beberapa alasan berikut ini:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Sifat sebuah definisi adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">jami’ </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> mani’</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Jami’ </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu mengumpulkan segala sesuatu yang tercakup di dalam lafaz yang didefinisikan tersebut. Sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">mani’ </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu mencegah dan membatasi agar perkara yang di luar cakupan definisi dari lafaz tersebut tidaklah dimasukkan kedalam cakupan lafaz tersebut.</span>
</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Dengan Taufik Allah, seseorang bisa menggunakan definisi tersebut untuk mengelompokkan ciri-ciri orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab yang disebutkan dalam sebuah dalil, sesuai dengan tingkatan </span><i><span style="font-weight: 400;">Tahqiiq At-Tauhid </span></i><span style="font-weight: 400;">masing-masing yang ditunjukkan dalil tersebut. Sehingga ketika seseorang terluput dari salah satu ciri khas tersebut, maka bisa diketahui apakah ia keluar dari golongan yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab ataukah tidak?</span>
</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Definisi dan tingkatan perealisasian tauhid</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, di dalam kitabnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">At-Tamhiid </span></i><span style="font-weight: 400;">yang merupakan syarah (penjelasan) kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Tauhid </span></i><span style="font-weight: 400;">itu, telah menjelaskan tentang definisi </span><i><span style="font-weight: 400;">Tahqiiq At-Tauhiid </span></i><span style="font-weight: 400;">(perealisasian Tauhid dengan sempurna) yang menjadi inti pembahasan hadits yang agung di atas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menjelaskan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">Tahqiiq At-Tauhiid</span></i><span style="font-weight: 400;"> terbagi menjadi dua tingkatan, beliau mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Maka Tahqiiq At-Tauhiid meliputi dua tingkatan, yaitu tingkatan wajib dan tingkatan mustahab (sunnah). Dengan demikian, orang-orang yang merealisasikan Tauhid dengan sempurna meliputi dua tingkatan pula.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<h4><b>Tingkatan Wajib</b></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa tingkatan yang wajib adalah meninggalkan sesuatu yang wajib ditinggalkan berupa tiga perkara yang telah disebutkan sebelumnya, maka (dengan demikian tingkatan wajib itu) meninggalkan syirik, meninggalkan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. Dengan kata lain, </span><i><span style="font-weight: 400;">Tahqiiq At-Tauhiid </span></i><span style="font-weight: 400;"> pada tingkatan yang wajib adalah membersihkan agama seseorang dari seluruh dosa, baik dosa syirik, bid’ah maupun kemaksiatan, dengan segala macamnya.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Apakah maksud “bersih dari dosa”?</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan penjelasan di atas, inti </span><i><span style="font-weight: 400;">Tahqiiq At-Tauhiid </span></i><span style="font-weight: 400;"> pada tingkatan yang wajib adalah bersih dari segala dosa dengan segala macamnya. Sedangkan maksud bersih dari dosa dengan segala macamnya (syirik, bid’ah dan maksiat) adalah seorang hamba meninggal dalam keadaan sudah bertaubat dari seluruh dosa atau dosanya sudah terlebur dengan pelebur (mukaffirat) dosa. Jadi, yang dijadikan patokan di sini adalah akhir hidup seseorang, karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya amalan itu hanya berdasarkan penutupnya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Al-Bukhari).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa barangsiapa yang melakukan sesuatu kemaksiatan, dosa atau bid’ah, kemudian belum bertaubat darinya, atau belum terlebur dosanya, maka ia belumlah dikatakan telah merealisasikan tauhid secara sempurna, jenis tingkatan wajib.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini menunjukkan bahwa yang dijadikan patokan adalah akhir kehidupan, bukan pada kekurangan di awal kehidupan.”</span></p>
<p><b>Kesimpulan: </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tingkatan wajib adalah tingkatan orang-orang yang bersih dari dosa, dengan melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Tingkatan jenis ini juga disebutkan di dalam sebagian syarah (penjelasan) kitab Tauhid yang lainnya, seperti </span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Majiid </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Hasyiyah Kitab Tauhiid, </span></i><span style="font-weight: 400;">tepatnya pada bab </span><i><span style="font-weight: 400;">“Man haqqaqat Tauhiid dakhalal Jannah bighairi hisab”.</span></i></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Tingkatan Mustahab (Sunnah)</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">tingkatan mustahab dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tahqiiq At-Tauhiid</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah sebuah tingkatan di mana ahli tauhid memiliki keutamaan yang amat berbeda-beda. Dalam tingkatan ini</span> <span style="font-weight: 400;">tidak ada suatu arah atau tujuan pada hati seseorang kepada selain Allah. Hati tersebut menghadap kepada Allah secara totalitas, tidak terdapat kecondongan kepada selain Allah, sehingga jika berucap ikhlas karena Allah. Jika bertingkahlaku, ikhlas karena Allah. Jika beramal ikhlas karena Allah, bahkan seluruh gerakan hatinya karena Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau juga menjelaskan bahwa sebagian ulama menjelaskan bahwa tingkatan </span><i><span style="font-weight: 400;">mustahab </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah meninggalkan sesuatu yang mubah karena khawatir berakibat ada apa-apanya jika dilakukan</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> maksudnya disini adalah mencakup amal hati, lisan, dan anggota tubuh badan.</span></p>
<p><b>Kesimpulan:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tingkatan mustahab adalah tingkatan orang-orang yang melaksanakan perkara yang wajib dan yang sunnah serta meninggalkan hal yang haram, makruh, dan sebagian hal yang mubah/halal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shaleh Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan </span><i><span style="font-weight: 400;">As-Saabiqun bil khairaat</span></i><span style="font-weight: 400;"> (orang-orang yang bersegera dalam kebaikan)</span> <span style="font-weight: 400;">dalam kitabnya </span><i><span style="font-weight: 400;">I’anatul Mustafid</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa mereka adalah</span> <span style="font-weight: 400;">orang-orang yang selamat dari syirik besar maupun kecil. Mereka meninggalkan hal-hal haram dan makruh. Bahkan mereka meninggalkan sebagian hal yang mubah/halal. Mereka bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amal ketaatan, baik amal yang wajib maupun yang sunnah. Mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan. Maka barangsiapa yang sampai pada tingkatan ini, maka ia masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tingkatan jenis ini juga disebutkan di dalam sebagian syarah kitab Tauhid yang lainnya, seperti: </span><i><span style="font-weight: 400;">Hasyiyah Kitab Tauhiid </span></i><span style="font-weight: 400;">dan T</span><i><span style="font-weight: 400;">aisiir Al-‘Aziiz Al-Hamiid.</span></i></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Perealisasian Tauhid dengan sempurna adalah perealisasian Syahadatain</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, didalam kitabnya </span><i><span style="font-weight: 400;">At-Tamhiid </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan perealisasian tauhid dengan sempurna adalah perealisasian </span><i><span style="font-weight: 400;">syahadatain</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah</span></i><span style="font-weight: 400;">‘, karena pada ucapan seorang Ahli Tauhid </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallaah’, </span></i><span style="font-weight: 400;">terdapat tuntutan pelaksanaan tauhid dan jauh dari syirik, dengan segala macamnya,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada ucapan </span><i><span style="font-weight: 400;">asyhadu anna muhammadar rasulullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengandung tuntutan jauh dari kemaksiatan dan bid’ah, hal itu disebabkan karena konsekuensi syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">Muhammadar Rasulullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah taat pada perkara yang diperintahkan oleh rasulullah, membenarkan apa yang beliau infromasikan, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah melainkan sesuai dengan syari’at yang diajarkannya (At-Tamhiid: 33).</span><i> </i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 