
<p><strong>Manakah  yang Lebih Afdhal Bagi Wanita yang Melakukan Safar Pada Bulan Ramadhan, Berbuka  atau Tetap Puasa</strong></p>
<p>Seorang wanita yang sedang  melakukan safar (perjalanan) dibolehkan untuk berbuka, berdasarkan keumuman  firman Allah <em>ta’ala</em> yang artinya,</p>
<p class="arab">وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p><em>“Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia  berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya  itu pada hari-hari yang lain.”</em> (Qs. Al-Baqarah: 185)</p>
<p>Namun, untuk menimbang mana  yang lebih afdhal, apakah berbuka atau tetap berpuasa, maka dapat dilihat  kepada tiga keadaan, yaitu: [Lihat <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (I/457-458)]</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Perjalanan tersebut membuatnya berat (lemah) dalam menjalankan puasa dan menghalangi  dirinya untuk berbuat kebaikan, maka ketika itu berbuka lebih baik baginya. Hal  ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika  melihat sekelompok orang yang sedang melakukan perjalanan, berdesakan dan  seseorang sedang diteduhi karena dia sedang berpuasa,</p>
<p class="arab">لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ</p>
<p><em>“Bukan termasuk kebaikan  (baginya), berpuasa dalam perjalanan.”</em> [Hadits shahih. Riwayat  Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1946) dan Muslim dalam Shahih-nya (no. 1115),  dari Jabir <em>radhiyallahu ‘anhu</em>]</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Perjalanan tersebut tidak membuatnya merasa berat (lemah) dalam menjalankan  puasa dan tidak menghalanginya dalam melakukan kebaikan, maka berpuasa lebih  baik baginya daripada berbuka. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah <em>ta’ala</em> yang artinya,</p>
<p class="arab">وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>“Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”</em> (Qs.  Al-Baqarah: 184)</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Perjalanan yang dilakukannya itu dirasa sangat berat olehnya dalam keadaan  berpuasa dan dapat menyebabkan kematian apabila ia tetap berpuasa. Maka ketika  itu, dia wajib untuk berbuka dan haram hukumnya berpuasa. Hal ini berdasarkan  keumuman firman Allah<em> ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا</p>
<p><em>“… dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah  Maha Penyayang kepadamu.”</em> (Qs. An-Nisaa’: 29)</p>
<p>***</p>
<p>artikel <a href="https://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a> (Bagian ke 4 dari pembahasan: Problema Muslimah di Bulan Ramadhan)</p>
<p>Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad</p>
<p>Lihat<br>
pembahasan  bagian 1: Belum Mengqadha Hutang Puasa Hingga Datang Ramadhan Berikutnya<br>
pembahasan  bagian 2: Wanita Mengkonsumsi Obat Pencegah Haidh Agar Dapat Berpuasa Sebulan  Penuh<br>
pembahasan  bagian 3: Wanita Ingin Mengulang Hafalan al-Qur’annya Pada Bulan  Ramadhan Sementara Dia Sedang Haidh/Nifas</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<ul type="disc">
<li>
<em>Al-Adzkar an-Nawawi</em>, Imam an-Nawawi;       takhrij, tahqiq dan ta’liq oleh Syaikh Amir bin Ali Yasin, cet. Daar Ibn       Khuzaimah</li>
<li>
<em>Ahkaamul Janaaiz wa       Bida’uha</em>,       Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Adab       Islam Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah</em>, ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid       Nada, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Fiqh       Wanita</em>,       Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir</li>
<li>
<em>Fatwa-Fatwa Tentang       Wanita</em>,       Lajnah ad-Daimah lil Ifta’, cet. Darul Haq</li>
<li>
<em>Meneladani Shaum       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali       dan Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari, cet. Pustaka Imam       asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Syarah Riyadhush       Shalihin</em>,       Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Tamamul Minnah fii       Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah</em>, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani,       cet. Daar ar-Raayah</li>
<li>
<em>Tiga Hukum       Perempuan Haidh dan Junub</em>, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cet. Darul       Qolam</li>
</ul>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 