
<p><strong>MELAWAN HAWA HAFSU JIHAD TERBESAR?</strong></p>
<p>Pertanyaan.<br>
Di kitab manakah saya bisa membaca penjelasan mengenai hadits “jihad yang paling besar adalah melawan hawa nafsu” adalah <em>dha’if</em>, atau siapakah ulama yang <em>mendha’ifkan</em>?</p>
<p>Jawaban.<br>
Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kami sampaikan sebagai berikut.</p>
<p>Jika hadits yang Anda maksudkan adalah:</p>
<p><strong>أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ</strong></p>
<p><em>(Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya)</em>, maka hadits ini derajatnya <em>sha<u>h</u>i<u>h</u></em>. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam <em>Sha<u>h</u>i<u>h</u> Al-Jami’ush-Shaghîr</em>, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam <em>Silsilah Ash-Shâ<u>h</u>i<u>h</u>ah</em>, no. 1496.</p>
<p>Syaikh ‘Abdur-Razaq bin Abdul-Mu<u>h</u>sin Al-Badr –<em>hafizhahullah</em>– berkata,”Jika kaum Muslimin melalaikan jihad melawan diri sendiri, mereka tidak akan mampu jihad melawan musuh-musuh mereka, sehingga dengan sebab itu terjadi kemenangan musuh terhadap mereka”.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Kemudian beliau menukil perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang mengatakan: “Bilamana orang-orang kafir menang (atas umat Islam, <strong>Red.</strong>), maka tidak lain, sesungguhnya hal itu dikarenakan dosa-dosa kaum Muslimin yang menyebabkan iman mereka berkurang. Kemudian, jika kaum Muslimin bertaubat dengan menyempurnakan iman mereka, maka Allah pasti akan menolong mereka”.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Adapun jika hadits yang Anda maksudkan adalah:</p>
<p><strong>رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ</strong></p>
<p><em>(Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar).</em></p>
<p>Tentang hadits di atas, Mulla ‘Ali Al-Qari menyebutkannya di dalam <em>Al-Asrâr Al-Marfû’ah</em>, hlm. 127, dan beliau mengatakan: “Al-‘Asqalani mengatakan di dalam <em>Tasdîdun-Nufûs</em>,’Perkataan ini masyhur di kalangan manusia, dan ini merupakan perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah di dalam kitab <em>Al-Kuna</em> karya An-Nasâ-i’.”</p>
<p>Kemudian Mulla Al-Qari berkata,”Hadits ini disebutkan di dalam kitab <em>Ihya` ‘Ulumuddin</em>. Al-‘Iraqi menyatakan, bahwa hadits ini riwayat Al-Baihaqi (di dalam kitab <em>Az-Zuhd</em>) dari Jabir, dan Al-“Iraqi berkata,’<em>Sanad</em> ini ada kelemahan’.”</p>
<p>Syaikh Mu<u>h</u>ammad Nashiruddin Al-Albâni t menyebutkan hadits ini di dalam kitab <em>Silsilah Al-A<u>h</u>âdits Adh-Dha’îfah</em> (5/478, no. 2460), dan beliau mengatakan: “Mungkar”. Kemudian Syaikh Al-Albani menjelaskan secara panjang lebar sisi kelemahan hadits ini. Beliau juga menukil perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar t di dalam <em>takhrij</em> kitab <em>Al-Kasysyaf</em>, bahwa An-Nasa-i di dalam kitab <em>Al-Kuna</em> meriwayatkannya sebagai perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah, seorang tabi’i dari penduduk Syam.</p>
<p>Syaikh Al-Albani mengakhiri penjelasannya dengan menukil perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentang hadits ini: “Tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun dari manusia yang mengetahui perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkannya. Dan jihad melawan orang-orang kafir termasuk sebesar-besar amalan, bahkan hal itu merupakan amalan <em>tathawwu’</em> terbesar yang dilakukan manusia”.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br>
Jihad melawan orang-orang kafir termasuk amalan yang paling utama, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan, kecuali setelah jihad melawan nafsunya.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
________<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> <em>Khuthab wa Mawa’izh min Hajjatil-Wada`</em>, Syaikh Abdur-Razaq bin Abdul-Mu<u>h</u>sin Al-Badr, hlm. 53.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Al-Jawabush-Sha<u>h</u>i<u>h</u> liman Baddala Dînal-Mashi<u>h</u></em> (6/450).<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <em>Majmu’ Fatâwâ</em> (11/197). Lihat pembahasan ini dalam <em>Silsilah Al-A<u>h</u>âdits Adh-Dhâ’îfah</em> (5/478-481), karya Syaikh Al-Albâni. Lihat juga kitab <em>Laisa min Qa-ulin-Nabi</em>, Dr. Mu<u>h</u>ammad Fu-ad Syakir, Maktabah Auladisy-Syaikh lit-Turats, Cetakan I, tanpa tahun, hlm. 108.</p>
 