
<p><span style="font-weight: 400;">Mari kita bersama memahami takdir ilahi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu.</span></i><span style="font-weight: 400;">“</span></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Beriman kepada Takdir</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, salah satu rukun iman yang </span><span style="font-weight: 400;">wajib diimani</span><span style="font-weight: 400;"> oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir baik maupun buruk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada empat tingkatan :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[1] Beriman kepada </span><span style="font-weight: 400;">ilmu Allah</span><span style="font-weight: 400;"> yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada. Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[2] Mengimani bahwa Allah telah </span><span style="font-weight: 400;">menulis takdir</span><span style="font-weight: 400;"> di Lauhul Mahfuzh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[3] Mengimani </span><i><span style="font-weight: 400;">masyi’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (kehendak Allah)</span><span style="font-weight: 400;"> bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[4] Mengimani bahwa Allah telah </span><span style="font-weight: 400;">menciptakan</span><span style="font-weight: 400;"> segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> mengetahui apa saja</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> terdapat dalam sebuah kitab</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Hajj [22] : 70). Kemudian dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah firman Allah (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali </span></i><i><span style="font-weight: 400;">apabila dikehendaki Allah</span></i><i><span style="font-weight: 400;">, Tuhan semesta alam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. At Takwir [81] : 29). Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman Allah (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Ash-Shaffaat [37] : 96). Pada ayat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Wa ma ta’malun’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (dan apa saja yang kamu perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah.</span></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Macam-macam Takdir</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Takdir itu ada 2 macam :</span></p>
<p><b>[1] Takdir umum mencakup segala yang ada</b><span style="font-weight: 400;">. Takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,”</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut,“Tulislah”. Kemudian qalam berkata,“Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman,“Tulislah </span></i><i><span style="font-weight: 400;">takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat</span></i><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Abu Daud. Dikatakan </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;"> oleh Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><b>[2] Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum</b><span style="font-weight: 400;">. Takdir ini terdiri dari :</span></p>
<p><b>(a) </b><b>Takdir ‘Umri</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas’ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai 4 hal : (1) rizki, (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara atau berbahagia.</span></p>
<p><b>(b) </b><b>Takdir Tahunan</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu takdir yang ditetapkan pada malam </span><i><span style="font-weight: 400;">lailatul qadar</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengenai kejadian dalam setahun. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Ad Dukhan [44] : 4). Ibnu Abbas mengatakan,”Pada malam lailatul qadar, ditulis pada </span><i><span style="font-weight: 400;">ummul kitab</span></i><span style="font-weight: 400;"> segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi </span><span style="font-weight: 400;">dalam setahun</span><span style="font-weight: 400;">.” (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Ma’alimut Tanzil</span></i><span style="font-weight: 400;">, Tafsir Al Baghowi)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang muslim </span><span style="font-weight: 400;">harus beriman</span><span style="font-weight: 400;"> dengan takdir yang umum dan terperinci ini. Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun iman yang wajib diimani.</span></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Salah dalam Menyikapi Takdir</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam menyikapi takdir Allah, ada yang mengingkari takdir dan ada pula yang terlalu berlebihan dalam menetapkannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang pertama ini dikenal dengan </span><b>Qodariyyah</b><span style="font-weight: 400;">. Dan di dalamnya ada dua kelompok lagi. </span><span style="font-weight: 400;">Kelompok pertama</span><span style="font-weight: 400;"> adalah yang paling ekstrim. Mereka mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa yang telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh. Mereka mengatakan bahwa Allah memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang ta’at dan berbuat maksiat. Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu Allah dan takdirnya. Namun kelompok seperti ini sudah musnah dan tidak ada lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelompok kedua</span><span style="font-weight: 400;"> adalah yang menetapkan ilmu Allah, namun meniadakan masuknya perbuatan hamba pada takdir Allah. Mereka menganggap bahwa perbuatan hamba adalah makhluk yang berdiri sendiri, Allah tidak menciptakannya dan tidak pula menghendakinya. Inilah madzhab </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’tazilah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ikhtiyar</span></i><span style="font-weight: 400;"> (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu dipaksa untuk menuruti takdir. Oleh karena itu, kelompok ini dikenal dengan </span><b>Jabariyyah</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. At Takwir [81] : 28-29). Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua kelompok di atas. Pada ayat,“</span><i><span style="font-weight: 400;">(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus</span></i><span style="font-weight: 400;">” merupakan bantahan untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">jabariyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi manusia tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri. Kemudian pada ayat selanjutnya,”</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”</span></i><span style="font-weight: 400;"> merupakan bantahan untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">qodariyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak Allah. Ini perkataan yang salah karena pada ayat tersebut, Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.</span></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Keyakinan yang Benar dalam Mengimani Takdir</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan yang benar adalah bahwa semua bentuk ketaatan, maksiat, kekufuran dan kerusakan terjadi dengan </span><b>ketetapan Allah</b><span style="font-weight: 400;"> karena tidak ada pencipta selain Dia. Semua perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk adalah termasuk makhluk Allah. Dan hamba tidaklah dipaksa dalam setiap yang dia kerjakan, bahkan hambalah yang memilih untuk melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">As Safariny mengatakan, ”Kesimpulannya bahwa mazhab ulama-ulama terdahulu (salaf) dan Ahlus Sunnah yang hakiki adalah meyakini bahwa Allah menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan hamba. Dan hambalah yang menjadi pelaku perbuatan yang dia lakukan secara hakiki. Dan Allah menjadikan hamba sebagai pelakunya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. At Takwir [81] : 29). Maka dalam ayat ini Allah menetapkan kehendak hamba dan Allah mengabarkan bahwa kehendak hamba ini tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Inilah dalil yang tegas yang dipilih oleh Ahlus Sunnah.”</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/27394-syarhus-sunnah-inilah-akidah-yang-disepakati-oleh-para-salaf.html" target="_blank" rel="noopener">Syarhus Sunnah: Inilah Akidah yang Disepakati oleh Para Salaf</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Jangan Hanya Bersandar pada Takdir Allah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian orang ada yang salah paham dalam memahami takdir. Mereka menyangka bahwa seseorang yang mengimani takdir itu </span><b>hanya pasrah tanpa melakukan sebab sama sekali</b><span style="font-weight: 400;">. Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan istrinya berhari-hari untuk berdakwah keluar kota. Kemudian dia tidak meninggalkan sedikit pun harta untuk kehidupan istri dan anaknya. Lalu dia mengatakan,”Saya pasrah, biarkan Allah yang akan memberi rizki pada mereka”. Sungguh ini adalah suatu kesalahan dalam memahami takdir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, di samping itu Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita bermalas-malasan. Apabila kita telah mengambil sebab, namun kita mendapatkan hasil yang sebaliknya, maka kita tidak boleh berputus asa dan bersedih karena hal ini sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah. Oleh karena itu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, ”</span><i><span style="font-weight: 400;">Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim)</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Buah dari Beriman kepada Takdir</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara buah dari beriman kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hati menjadi tenang dan tidak pernah risau dalam menjalani hidup ini. Seseorang yang mengetahui bahwa musibah itu adalah takdir Allah, maka dia yakin bahwa hal itu pasti terjadi dan tidak mungkin seseorang pun lari darinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, ”Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,”</span><i><span style="font-weight: 400;">Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">. Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Ash Shohihah</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 2439)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang. Hal ini pasti berbeda dengan orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah barang tentu akan merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk sabar dalam menghadapi segala cobaan yang merupakan takdir Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau tetapkan bagi kami adalah baik. </span><i><span style="font-weight: 400;">Amin Ya Mujibbad Da’awat</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[Sumber rujukan utama : [1] </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Fauzan Al Fauzan, [2] </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin]</span></p>
<p><b>Baca Juga:</b></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/19629-hadits-arbain-19-menjaga-hak-allah-dan-memahami-takdir.html"><b>Hadits Arbain #19: Menjaga Hak Allah dan Memahami Takdir</b></a></span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/18971-syarhus-sunnah-memahami-takdir-01.html"><b>Syarhus Sunnah: Memahami Takdir #01</b></a></span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><strong>Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
 