
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/56435-memakai-pakaian-terbaik-ketika-shalat-bag-5.html" data-darkreader-inline-color="">Memakai Pakaian Terbaik ketika Shalat (Bag. 5)</a></span></strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Memakai siwak ketika shalat</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siwak termasuk dalam perkara yang dapat menyempurnakan </span><i><span style="font-weight: 400;">thaharah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Karena siwak dapat membersihkan kotoran-kotoran yang ada di mulut yang dapat menyebabkan bau yang tidak enak. Syariat telah memberikan perhatian terhadap bersiwak setiap kali hendak shalat, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">pun memotivasi umatnya untuk bersiwak, baik dengan ucapan ataupun dengan perbuatan beliau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” </span><b>(HR. Bukhari no. 887 dan Muslim no. 252) </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menggunakan kata </span><i><span style="font-weight: 400;">‘inda </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><b>عِنْدَ</b><span style="font-weight: 400;">)</span><span style="font-weight: 400;"> untuk menunjukkan dekatnya waktu antara siwak dengan pelaksanaan shalat. Semakin dekat jarak waktu antara siwak dengan shalat, itulah yang lebih afdhal (lebih utama). </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siwak itu dapat membersihkan mulut dan dapat mendatangkan ridha Ar-Rabb (Allah).” </span><b>(HR. An-Nasa’i no. 5 dan Ahmad 40: 241)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siwak dapat mendatangkan ridha Allah Ta’ala dari sisi seorang hamba telah melaksanakan perkara yang hukumnya sunnah karena mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala. Juga dari sisi bahwa siwak tersebut dilakukan sebelum shalat, yaitu kondisi ketika seorang hamba menghadap kepada Allah Ta’ala. Dan tidak diragukan lagi bahwa bau yang enak itu dicintai oleh Allah Ta’ala. Selain itu, siwak juga merupakan metode yang efektif untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada di gigi dan mulut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak ada perbedaan dianjurkannya siwak baik sebelum shalat wajib (shalat fardhu) maupun sebelum shalat sunnah. Bahkan dianjurkannya siwak tersebut tetap berlaku bagi orang yang shalat dzuhur dan ashar di saat puasa bulan Ramadhan (yaitu shalat setelah </span><i><span style="font-weight: 400;">zawal, </span></i><span style="font-weight: 400;">bergesernya matahari ke arah barat). Hal ini berdasarkan pendapat yang paling kuat dalam masalah ini berdasarkan cakupan makna umum dari hadits-hadits yang berisi dorongan dan motivasi untuk bersiwak ketika hendak shalat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وهذا عامٌ في الصائمينَ وغيرِهم في جميع الأوْقاتِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Dianjurkannya bersiwak) ini berlaku umum, baik bagi mereka yang sedang berpuasa ataukah tidak di semua waktu.” </span><b>(</b><b><i>Majaalis Syahri Ramadhan, </i></b><b>hal. 72)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وذهب بعض أهل العلم إلى كراهة السواك بعد الزوال، وهو قول مرجوح، والصواب عدم الكراهة ؛ لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sebagian ulama menilai hukumnya makruh bersiwak setelah </span><i><span style="font-weight: 400;">zawal </span></i><span style="font-weight: 400;">(bagi yang berpuasa). Pendapat ini adalah pendapat yang tertolak. Pendapat yang benar adalah tidak makruh. Hal ini berdasarkan cakupan makna umum dari sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.” </span></i><b>(</b><b><i>Majmu’ Al-Fataawa, </i></b><b>15: 261)</b><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebutkan dua hadits yang telah kami sebutkan di atas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, ketika siwak dapat membersihkan gigi dan mulut serta dapat mendatangkan ridha Allah Ta’ala, maka sudah selayaknya mendapatkan perhatian kaum muslimin, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dan baik ketika hendak mendirikan shalat wajib maupun shalat sunnah. Sebagian –atau mungkin banyak- di antara kaum muslimin yang tidak menganggapnya sebagai perkara penting sama sekali, baik karena tidak tahu dengan keutamaan, manfaat, atau karena bermudah-mudah (menganggap remeh) dalam masalah tersebut. </span></p>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> @Rumah Lendah, 26 Jumadil akhir 1441/20 Februari 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Riyadhus Shalihin, </span></i><span style="font-weight: 400;">1: 152; karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah. </span></i></p>
 