
<p>Bagaimana mengucapkan salam pada majelis yang di situ terdapat muslim dan non muslim? Apakah kita mengucapkan salam, atau membiarkannya? Karena ada hadits larangan <a href="https://rumaysho.com/aqidah/membalas-salam-non-muslim-2036">memulai mengucapkan salam pada non muslim</a>.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وعن أُسَامَة – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النبيُّ- صلى الله عليه وسلم –</p>
<p>Dari Usamah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melewati suatu majelis yang di situ bercampur antara muslim, orang musyrik -penyembah berhala-, dan orang Yahudi. Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi salam kepada mereka. (HR. Bukhari  no. 6254 dan Muslim no. 1798).</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> menyebutkan disunnahkan jika melewati majelis yang bercampur antara muslim dan non muslim untuk tetap mengucapkan salam untuk maksud umum dengan diniatkan salam tersebut untuk muslim. (<em>Al Adzkar</em>, hal. 464).</p>
<p>Penjelasan di atas tidak bertentangan dengan hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ</p>
<p>“<em>Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.</em>” (HR. Muslim no. 2167). Hadits Abu Hurairah ini umum, sedangkan hadits Usamah di atas bersifat khusus. Hadits Abu Hurairah menunjukkan tidak boleh memulai salam pada non muslim tanpa ada sebab apa-apa dan juga tanpa ada hajat. Demikian kata Ath Thobari sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em>, 11: 39-40.</p>
<p>Namun jika seseorang  mengucapkan salam pada non muslim yang tidak memasukkan non muslim dalam salam tersebut seperti dengan ucapan “<em>Assalamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish sholihin</em>” (keselamatan bagi kami dan bagi orang-orang yang sholeh), seperti ini boleh. Sebagaimana pula Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa salam</em> pernah menulis surat pada Heraklius dan mengucapkan salam “<em>Salamun ‘ala manit taba’al huda</em>” (keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk). Lihat penjelasan dalam <em>Al Fath</em>, 11: 40.</p>
<p>Semoga sajian di pagi ini bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h5>
<span style="color: #0000ff;">Referensi</span>:</h5>
<p><em>Al Adzkar An Nawawi</em>, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, tahqiq: ‘Amir bin Ali Yasin, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan pertama, tahun 1422 H.</p>
<p><em>Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari</em>, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat tahun 1432 H.</p>
<p> </p>
<p>Selesai disusun di <a href="http://darushsholihin.com/">Warak, Girisekar</a>, di pagi hari penuh berkah, 1 Rabi’uts Tsani 1435 H</p>
<p>Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p>Ikuti status kami dengan memfollow <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal">FB Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="http://www.facebook.com/rumaysho">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat</a>, Twitter <a href="https://twitter.com/RumayshoCom">@RumayshoCom</a></p>
<p> </p>
 