
<p>Sahabat, muslim dalam artikel kali ini akan dibahas bagaimana seorang muslim hendaknya menjadi hamba Allah yang sejati</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Karakter Hamba Allah yang Sejati</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang ‘ibadurrahman (hamba Allah yang sejati) harus memiliki rasa takut dan khawatir dengan siksa neraka. Sebagaimana firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا  إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” </span></i><b>(QS. Al-Furqan: 65-66)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53618-menggabungkan-rasa-takut-dan-harap.html" data-darkreader-inline-color="">Seorang Mukmin Menggabungkan Rasa Takut dan Harap pada Dirinya</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Memperhatikan Kualitas Amal dan Khawatir Tidak Diterima</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang hamba Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> selain memiliki kualitas yang baik dalam beramal dan beribadah, mereka juga harus memiliki rasa takut akan siksa-Nya dan murka-Nya. Inilah salah satu sifat seorang mukmin yang sempurna. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”</span></i> <b>(QS. Al-Mukminuun: 60)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah bagaimana Allah membuat perumpamaan bagi mereka, yaitu seorang ‘ibadurrahman yang beribadah dan taat kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, sedangkan hati mereka khawatir kalau amal mereka ditolak dan tertimpa azab dari Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka ini adalah di antara sifat ‘ibadurrahman yang agung. Mereka adalah orang yang baik dan konsisten dalam beramal, dan di waktu yang sama mereka adalah orang-orang yang khawatir kalau amalnya tidak diterima.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">, ‘Aisyah mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna ayat,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Aku mengira bahwasannya mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan mencuri.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا يا بنت الصديق، و لكنّهم الذين يـصومون ويصلّون ويتصدّقون، وهُم يخافون أن لا تُقبَلَ منهم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bukan itu, wahai bintu Shiddiq. Namun mereka adalah orang-orang yang (rajin) berpuasa, (rajin) shalat, dan (rajin) sedekah, namun mereka khawatir amal mereka tidak diterima.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 3175, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>As-Silsilatu Ash-Shahihah</i></b> <b>no. 162)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana perkataan Hasan Al-Bashri </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">المؤمنُ جَمَعَ إِحسانًا وشَفَقَـةً، والمنافقُ جَمَعَ إساءةً وأمنًا، ثم تلا الحسن:  إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seorang mukmin (adalah orang) yang mengumpulkan (dua hal dalam dirinya, yaitu): beramal yang berkualitas, dan (di sisi lain) khawatir (amalnya tidak diterima). (Sedangkan) orang munafik menggabungkan (dua hal pada dirinya, yaitu): buruk (amalannya) dan merasa aman (dari siksa Allah). Kemudian Hasan Al-Bashri membacakan (ayat), </span><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka.” </span></i><b>(</b><b><i>Tafsir Ath-Athabari</i></b><b>, 68: 17)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/35385-mengerikan-ternyata-ini-menu-makan-penduduk-neraka-part-2.html" data-darkreader-inline-color="">Mengerikan, Ternyata Ini Menu Makan Penduduk Neraka</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Perbedaan Orang Mukmin dengan Munafik</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah menjelaskan tentang orang-orang munafik </span><i><span style="font-weight: 400;">(Kita memohon perlindungan kepada Allah dari sifat seperti ini). </span></i><span style="font-weight: 400;">Mereka memiliki karakter buruk amalannya, namun merasa dirinya aman dari siksaan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">dan tidak merasa takut dengan siksaan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Berbeda dengan kondisi orang yang beriman, rasa takut dengan azab Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> mencegah mereka untuk melakukan maksiat. Sebagaimana kasih sayang Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah sesuatu yang menggiring orang beriman untuk menambah hal-hal yang bermanfaat dan amal-amal yang mendekatkannya pada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang (shalih) yang mereka  seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”</span></i> <b>(QS. Al-Isra’: 57)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka seorang ‘ibadurrahman memanjatkan doa dalam diri mereka,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Doa ini secara tidak langsung mengandung makna agar kita diselamatkan dari sebab-sebab yang mengantarkan kepada siksaan neraka, yakni diberikan taufik agar jauh darinya. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengajarkan ibunda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> berdoa, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اللّهمّ إٍني أَسْأَلُكَ الْجَنَّـةَ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِن قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ النَّارِ، وَمَا قَـرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قولٍ أَوْ عَمَلٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, dan apa-apa yang mendekatkan aku kepadanya (surga) baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya (neraka), baik berupa perkataan maupun perbuatan.” </span><b>(HR. Ibnu Majah no. 3846, dishahihkan oleh Al-Albani dalam </b><b><i>As-Silsilatu Ash-Shahiihah</i></b><b> no. 1542)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya azab-Nya itu adalah kebinasaan yang kekal.” </span></i><b>(QS. Al-Furqan: 65)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, azab Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah siksaan yang terus menerus, berulang-ulang, dan siksaan yang keras.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.”</span></i><b> (QS. Al-Furqan: 66)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, neraka Jahannam adalah seburuk-buruk tempat tinggal yang abadi.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29755-seluk-beluk-neraka.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Seluk Beluk Neraka</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/8386-pohon-di-kuburan-meringankan-siksa.html" data-darkreader-inline-color="">Pohon di Kuburan Meringankan Siksa?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/azka" data-darkreader-inline-color="">Azka Hariz</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diringkas dari kitab </span><b><i>Shifaatu ‘Ibaadurrahmaan,</i></b> <span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdur Razaaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr.</span></p>
<p> </p>
 