
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah sebelumnya kita membahas tafsir surat Al Ikhlash. Saat ini kita akan membahas mengenai tafsir singkat surat Al Falaq. Semoga bermanfaat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(yang artinya) : 1. Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, 2. dari kejahatan makhluk-Nya, 3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, 4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul , 5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.</span></p>

<h2><b>Pengenalan</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Surat ini dan surat sesudahnya (surat An Naas) diturunkan secara bersamaan sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi dalam Dalailin Nubuwwah. Oleh karena itu, kedua surat ini dinamakan Al Maw’izatain. Surat ini merupakan surat Makkiyyah (turun sebelum hijrah) dan ada juga yang mengatakan bahwa surat ini adalah surat Madaniyyah. Surat ini turun sesudah surat Al Fiil. (Aysarut Tafasir, hal. 1503; At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim)</span></p>
<h2><b>Asbabun Nuzul</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disihir oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin Al A’shom di Madinah, Allah Ta’ala menurunkan Al Maw’izatain (surat Al Falaq dan An Naas). Lalu Jibril ’alaihis salam meruqyah (membaca kedua ayat tersebut) kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Berkat izin Allah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sembuh. (Aysarut Tafasir, hal. 1503) [Namun, riwayat sabab nuzul untuk surat Al falaq dan An Naaas dinilai dhaif oleh Syaikh Muqbil dalam as Shahih al Musnad min Asbab anNuzul, lihat juga penjelasan Ibnu Katsir]</span></p>
<h2><b>Tafsir Ayat Pertama</b></h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ</b></span></p>
<p><b>(1) 1. Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,</b> <b>Pengertian Al Falaq</b><span style="font-weight: 400;"> Yang dimaksud dengan ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Robbil Falaq</span></i><span style="font-weight: 400;">’ adalah Allah. Al Falaq berasal dari kata ‘falaqo’ yang berarti </span><b>membelah</b><span style="font-weight: 400;">. Dalam ilmu shorof ‘Al Falaq’ bermakna </span><i><span style="font-weight: 400;">isim maf’ul sifat musyabbahah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang berarti </span><b>terbelah</b><span style="font-weight: 400;">. Lebih khusus ‘Al Falaq’ bisa bermakna </span><b>Al Ishbah (pagi/shubuh)</b><span style="font-weight: 400;"> karena Allah membelah malam menjadi pagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara umum ‘Al Falaq’ bermakna segala sesuatu yang muncul/keluar dari yang lainnya. Seperti mata air yang keluar dari gunung, hujan dari awan, tumbuhan dari tanah, anak dari rahim ibunya. Ini semua dinamakan ‘Al Falaq’.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perhatikan ayat-ayat berikut. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan.” (QS. Al An’am [6] : 95).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَالِقُ الإِصْبَاحِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dia menyingsingkan pagi.” (QS. Al An’am [6] : 95)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Tafsir Juz ‘Amma, 294; Ruhul Ma’ani)</span></p>
<h2><b>Pengertian Ta’awudz</b></h2>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ta’awudz (isti’adzah)</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar terhindar dari marabahaya. (I’anatul Mustafid; Mutiara Faedah Kitab Tauhid, 95)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/25497-40-kiat-agar-tidak-diganggu-setan-lakukanlah-amalan-amalan-ini.html" target="_blank" rel="noopener">40 Kiat Agar Tidak Diganggu Setan, Lakukanlah Amalan-Amalan Ini</a></span></strong></p>
<h2><b>Meminta Perlindungan adalah Ibadah</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Meminta perlindungan (isti’adzah) merupakan ibadah. Karena menghilangkan marabahaya dan kejelekan tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah subhanahu wa ta’ala. Segala sesuatu yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, maka hal yang demikian tidaklah boleh dilakukan (ditujukan) kecuali pada Allah semata. Apabila hal semacam ini diminta kepada selain Allah, termasuk perbuatan </span><b>syirik</b><span style="font-weight: 400;">. Ayat yang menunjukkan bahwa meminta perlindungan hanya boleh kepada Allah (karena Dia-lah yang mampu) dan bukan pada selain-Nya adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat [41] : 36)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah juga memerintahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan kepada-Nya sebagaimana pada awal surat Al Falaq dan An Naas. Dan perintah untuk Rasulullah berarti juga perintah untuk umatnya karena umatnya memiliki kewajiban untuk meneladani beliau. Allah juga menyatakan bahwa meminta perlindungan kepada selain Allah termasuk </span><b>kesyirikan </b><span style="font-weight: 400;">sebagaimana pada ayat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْأِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa takut.” (QS. Al Jin [72] : 6)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya adalah Allah akan menambahkan kepada manusia </span><b>rasa takut</b><span style="font-weight: 400;">. Oleh karena itu, ini adalah hukuman dari perbuatan mereka sendiri yang meminta perlindungan pada jin. Dan hukuman pasti diakibatkan karena dosa. Maka ayat ini menunjukkan celaan bagi manusia semacam ini karena telah meminta perlindungan kepada selain Allah. Qotadah dan ulama salaf lainnya mengatakan bahwa makna ’rohaqo’ dalam ayat ini adalah </span><b>’itsman’ (dosa)</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena isti’adzah berakibat dosa, maka isti’adzah termasuk ibadah dan bernilai syirik jika ditujukan kepada selain Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(I’anatul Mustafid; At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid)</span></p>
<h2><b>Tafsir Ayat Kedua</b></h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ</b></span></p>
<p><b>(2) 2. dari kejahatan makhluk-Nya,</b><span style="font-weight: 400;"> Ayat ini mencakup seluruh yang Allah ciptakan baik manusia, jin, hewan, benda-benda mati yang dapat menimbulkan bahaya dan dari </span><b>kejelekan seluruh makhluk</b><span style="font-weight: 400;">. (Taysir Al Karimir Rahman; Aysarut Tafasir). Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini berarti berlindung dari kejelekan seluruh makhluk. Tsabit Al Bunani dan Al Hasan Al Bashri menafsirkan berlindung dari jahannam dan iblis serta keturunannya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim) Ayat ini juga mencakup </span><b>meminta perlindungan pada diri sendiri</b><span style="font-weight: 400;">. Ingatlah, nafsu selalu memerintahkan pada </span><b>kejelekan</b><span style="font-weight: 400;">. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf [12] : 53).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka setiap kali seseorang mengucapkan ayat ini, maka yang pertama kali tercakup dalam ayat tersebut adalah </span><b>dirinya sendiri</b><span style="font-weight: 400;">. Jadi dia berlindung dari kejelekan dirinya sendiri, yang mungkin sering ujub (berbangga diri) atau yang lainnya. Sebagaimana yang terdapat dalam khutbatul hajjah :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan diriku sendiri.” (HR. At Tirmidzi. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi no. 1105)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Tafsir Juz ‘Amma, 294-295)</span></p>
<h2><b>Tafsir Ayat Ketiga</b></h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ</b></span></p>
<p><b>(3) 3 dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,</b> <i><span style="font-weight: 400;">Ghosiq </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam ayat ini adalah Al Lail (malam) dan juga ada yang mengatakan Al Qomar (bulan). Sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">Idza Waqob</span></i><span style="font-weight: 400;"> bermakna apabila masuk (Tafsir Juz ‘Amma, 295; Adhwaul Bayan). Mujahid mengatakan bahwa ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">ghosiq</span></i><span style="font-weight: 400;">’ adalah Al Lail (malam) ketika matahari telah tenggelam sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Abi Najih. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad bin Ka’ab Al Qurtubhy, Adh Dhohak, Khushoif, dan Al Hasan. Qotadah mengatakan bahwa maksudnya adalah malam apabila telah gelap gulita. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim) Syaikh Asy Syinqithi mengatakan bahwa pendapat yang kuat adalah tafsiran yang pertama (ghosiq adalah malam) sebagaimana didukung dengan tafsiran Al Qur’an.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَقِمِ الصلاة لِدُلُوكِ الشمس إلى غَسَقِ الليل</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam.” (QS. Al Israa’ [17] : 78)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan bulan merupakan bagian dari malam. Dan di malam harilah setan serta manusia dan hewan yang suka berbuat kerusakan bergentayangan ke mana-mana (Adhwaul Bayan). Kepada Allah-lah kita meminta perlindungan dari kejahatan dan kejelekan seperti ini.</span></p>
<h2><b>Tafsir Ayat Keempat</b></h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ</b></span></p>
<p><b>(4) 4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,</b><span style="font-weight: 400;"> Mujahid, Ikrimah, Al Hasan, dan Qotadah mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah sihir. Mujahid mengatakan, ”Apabila membaca mantera-mantera dan meniupkan (menyihir) di ikatan tali” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim). Dalam ayat ini disebut dengan ’</span><i><span style="font-weight: 400;">An Nafatsaat</span></i><span style="font-weight: 400;">’ yaitu </span><b>tukang sihir wanita</b><span style="font-weight: 400;">. Karena umumnya yang menjadi tukang sihir adalah wanita. Namun ayat ini juga dapat mencakup tukang sihir laki-laki dan wanita, jika yang dimaksudkan adalah sifat dari nufus (jiwa atau ruh) (Ruhul Ma’ani; Tafsir Juz ’Amma, 295) Namun perlu diingat bahwa dalam syari’at ini terdapat pula penyembuhan penyakit dengan do’a-do’a yang disyari’atkan yang dikenal dengan </span><b>ruqyah</b><span style="font-weight: 400;">. Dari Abu Sa’id, beliau menceritakan bahwa Jibril pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu mengatakan,”Ya Muhammad, apakah engkau merasa sakit?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan,”Iya”. Kemudian Jibril meruqyah Nabi dengan mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><span style="font-weight: 400;">بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ</span><span style="font-weight: 400;"> </span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Bismillah arqika min kulli sya-in yu’dzika, min syarri kulli nafsin aw ’aini hasidin. Allahu yasyfika. Bismillah arqika [Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejelekan (kejahatan) setiap jiwa atau ’ain orang yang hasad (dengki). Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu].” (HR. Muslim no. 2186. Ada yang berpendapat bahwa kejelekan nafs (jiwa) adalah ’ain, yakni pandangan hasad).</span></p>
<h2><b>Tafsir Ayat Kelima</b></h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ</b></span></p>
<p><b>(5) 5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.</b> <b>Hasad </b><span style="font-weight: 400;">adalah berangan-angan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain baik agar pindah kepada diri kita ataupun tidak (Aysarut Tafasir). Allah menutup surat ini dengan hasad, sebagai peringatan bahayanya perkara ini. Hasad adalah memusuhi nikmat Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian Ahli Hikmah mengatakan bahwa hasad itu dapat dilihat dari lima ciri : </span><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, membenci suatu nikmat yang nampak pada orang lain; </span><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, murka dengan pembagian nikmat Allah; </span><b>Ketiga</b><span style="font-weight: 400;">, bakhil (kikir) dengan karunia Allah, padahal karunia Allah diberikan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya; </span><b>Keempat</b><span style="font-weight: 400;">, tidak mau menolong wali Allah (orang beriman) dan menginginkan hilangnya nikmat dari mereka; </span><b>Kelima</b><span style="font-weight: 400;">, menolong musuhnya yaitu Iblis. (Al Jaami’ liahkamil Qur’an)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu dari bentuk hasad adalah </span><b>’ain (pandangan hasad)</b><span style="font-weight: 400;">. Apabila seseorang melihat pada orang lain kenikmatan kemudian hatinya merasa tidak suka, dia menimpakan ’ain (pandangan mata dengan penuh rasa dengki) pada orang lain. ’Ain ini dapat menyebabkan seseorang mati, sakit atau gila. ’Ain ini benar adanya dengan izin Allah Ta’ala. Allah memerintahkan kepada kita untuk berlindung kepada-Nya dari malam apabila gelap gulita, dari sihir yang ditiupkan pada buhul-buhul, dan dari orang yang hasad apabila dia hasad, karena ketiga hal ini adalah perkara yang samar. Banyak kejadian pada malam hari yang samar yang dapat memberikan bahaya kepada kita. Begitu juga sihir adalah suatu hal yang samar, jarang kita ketahui. Dan begitu juga hasad dari orang lain, itu adalah hal yang samar. Dan ketiga kejelekan (kejahatan) ini masuk pada keumuman ayat kedua,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“dari kejahatan makhluk-Nya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Tafsir Juz ’Amma, 296)</span></p>
<p><b>Lalu bagaimana jalan keluar agar terbebas dari tiga kejelekan (kejahatan) ini?</b> <b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">bertawakkal </span></i><span style="font-weight: 400;">pada Allah, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta’ala. </span><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, membaca </span><i><span style="font-weight: 400;">wirid-wirid (dzikir-dzikir)</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang dapat membentengi dan menjaga dari segala macam kejelekan. Perlu diingat bahwasanya kebanyakan manusia dapat terkena sihir, ’ain, dan berbagai kejelekan lainnya dikarenakan lalai dari dzikir-dzikir. Ingatlah bahwa bacaan dzikir merupakan benteng yang paling kokoh dan lebih kuat daripada benteng ’Ya’juj dan Ma’juj’. Namun, banyak dari manusia yang melupakan hal ini. Banyak di antara mereka yang melalaikan dzikir pagi dan petang, begitu juga dzikir ketika hendak tidur. Padahal dzikir-dzikir tersebut mudah untuk dihafalkan dan dibaca. (Tafsir Juz ’Amma, 296)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disusun Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal Mbali, Panggang, Gunung Kidul, 23 Dzulqo’dah 1428</span></p>
<p><b>Sumber Rujukan</b><span style="font-weight: 400;"> 1.Adhwaul Bayan, Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy, Maktabah Syamilah 2.Al Jaami’ liahkamil Qur’an (Tafsir Qurtubhy), Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshory Al Qurtubhy, Jami’ Mawsu’ah Al Quranil Karim, www.omelketab.net 3.At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih Alu Syaikh, www.islamspirit.com 4.At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim, Jami’ Mawsu’ah Al Quranil Karim, www.omelketab.net 5.Aysarut Tafasir likalamil ‘Aliyyil Karim, Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi, Maktabah Adhwail Manar 6.I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan, www.islamspirit.com 7.Mutiara Faedah Kitab Tauhid (edisi revisi), Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim 8.Ruhul Ma’ani fi Tafsiril Qur’anil Azhim was Sab’il Matsani, Syihabuddin Mahmud bin Abdillah Al Husaini Al Alusi, Mawqi’ut Tafaasir-Maktabah Syamilah 9.Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Syamilah 10.Shohih Muslim, Muslim bin Al Hajjaj ABul Husain Al Qusyairiy An Naisabuiy, Pentahqiq : Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy Beirut-Maktabah Syamilah 11.Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fada’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi, Maktabah Syamilah 5. 12.Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah 13.Taysir Al Karimir Rahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah-Maktabah Syamilah</span></p>
<p><b>Tafsir Singkat Surat Al Falaq Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/25196-saat-nabi-disihir-seorang-yahudi-dan-cara-mengatasinya-asbabun-nuzul-surat-al-falaq-dan-an-naas.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Saat Nabi Disihir Seorang Yahudi dan Cara Mengatasinya (Asbabun Nuzul Surat Al Falaq dan An-Naas)</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/24874-keutamaan-surat-al-ikhlas-al-falaq-an-naas-yang-jarang-diketahui.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Surat Al Ikhlas, Al Falaq, An-Naas yang Jarang Diketahui</strong></span></a></li>
</ul>
 