
<p><strong>MEMOTONG KUKU TERMASUK FITRAH</strong></p>
<p>Oleh<br>
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</p>
<p>Pertanyaan<br>
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum syari’at terhadap orang yang memanjangkan seluruh kukunya atau sebagainnya.?</p>
<p>Jawaban<br>
Memanjangkan kuku jika tidak haram, minimal makruh hukumnya, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menentukan masa memotong kuku agar tidak dibiarkan di atas 40 hari[1]</p>
<p>Adalah aneh sekali bilamana mereka yang mengklaim sebagai kaum metropolis dan berperadaban membiarkan kuku-kuku mereka padahal itu membawa kotoran dan konsekuensi logisnya bahwa manusia yang seperti ini malah menyerupai binatang.</p>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ ، فَكُلُوهُ ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ ، وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ ذَلِكَ ، أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ</strong></p>
<p>“<em>Sesuatu yang ditumpahkan darahnya (disembelih) dan disebutkan nama Allah (padanya), maka makanlah ia. Bukankah gigi dan kuku.. (hingga ucapan beliau ,-penj) adapun gigi, maka ia termasuk tulang sedangkan (memelihara) kuku adalah cara hidup orang-orang habasyah (Ethiophia)</em>” [2]</p>
<p>Yang dimaksud, bahwa mereka itu menjadikan kuku-kuku tersebut sebagai pisau untuk menyembelih dan memotong daging atau selain itu. Ini semua merupakan cara hidup mereka yang lebih mirip dengan ala hidup binatang.</p>
<p>(Kitab Ad-Da’wah, Vol V, Jilid II, hal 79-80)</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini Lc]<br>
______<br>
Footnote<br>
[1]. Shahih Muslim, Kitab Ath-Tharah 9258)<br>
[2]. Shahih Al-Bukhari, kitab Asy-Syirkah (2507), Shahih Muslim, kitab Al-Adhay (1968)</p>
 